—
Halo. Dan sudah november. Sebagian terlalu cepat lewat, sebagian yang lain terlalu menggantung dan bikin hati nggak enak. Aku nggak tau harus mulai dari mana. Pikiranku saat ini betul-betul runyam. Datang dari mood yang bahagia karena senin selasa berhasil aku lewati, sampai bertemu rabu dengan api semangat yang naas menelan diri sendiri. Mati. Aku masih tetap dengan kecemasanku menjelang hari senin, yang mulai dimasak sejak matahari minggu telah terbit. Ah, bahkan sebelum itu. Sabtu yang tenang aku rusak pula dengan kekhawatiran, tak pernah membiarkan jiwa ini beristirahat bahkan mendapatkan haknya untuk menghela napas dengan baik. Lalu sesuatu bernama kecemasan itu aku dekap hingga bersua rabu, dan aku tetap masih membiarkannya tinggal. Aku merawatnya begitu baik, bukan? Terlalu lugu, yang menanam ribuan biji pilu untuk menyemainya lagi di awal tahun hanya untuk memulai tahun baru dengan awan memoriam 2020 yang nian gulana. Kemudian siklus itu berlanjut. Beriringan dengan urusan...