Cerpen


Kade Sang Bahtera

by: Aliyya Rifqunnisa

“Yerussalem milik Palestina! Kembalikan kembalikan !”
Hiruk pikuk massa menjejali perbatasan timur kota Gaza, takbir-takbir lantang menggema di
langit-langit Gaza pagi itu, sungguh menggetarkan hati. Mereka tak henti mengelu-elukan Al-Quds, ibu kota yang selalu dan selamanya milik Palestina. Seruan-seruan tadi kian membabi buta, lantang dan mencekam mengisi atmosfer Gaza hingga seseorang memutuskan untuk menginterupsi…
DORR!!
Sial. Satu tembakan berhasil diluncurkan oleh salah satu serdadu Israel. Peluru itu melesat menuju target, sepersekian detik kemudian seseorang mengaduh.
Agaknya bukan target di depan sana yang mengaduh, bukan pula para pemuda Palestina yang berani menatap para tentara Israel dengan berani di depan perbatasan Gaza.
Melainkan sosok yang berada tidak jauh dari si penembak, yang turut mengawasi para demonstran perbatasan timur kota Gaza. Mata elang berbinar biru itu, seakan merasa pedih merasuk dalam jiwa dan sanubarinya. Tangannya kokoh menggenggam senapan, namun pertahanan dirinya roboh. Pertahanan akan naluri manusia yang ia pendam selama bertahun-tahun sejak ikut andil dalam persekusi Israel terhadap Palestina yang kelewat tirani.  
Bicara naluri, dia pikir Israel memang sudah kehilangan nalurinya sebagai manusia. Tidak masalah menganggap dirinya omong kosong, toh memang nurani dalam jiwa para zionis ini
tak terkecuali diamemang sudah dipangkas habis sejak mereka masih sangat belia. Sejak hati mereka masih seputih kanvas, sayangnya sudah harus ternodai corak hitam yang akan terus melekat, sepanjang ideologi ‘hitam’ itu terus disemai dalam akal-akal brilian mereka. Seiring berjalannya waktu, seiring berkembangnya mereka, hingga benih-benih yang sudah disiapkan sedemikian rupa siap direkrut menjadi generasi pemula dalam tatanan zionis.
Doktrinasi yang hebat, wahai Tuan Shneur Zalman
pendiri Lubavitcher-Hasidismeatas gagasan Anda tentang hanya jiwa Yahudi yang dapat memancarkan cahaya kehidupan ilahiyah, dan maka selainnya adalah jiwa-jiwa yang jahat. Aku bahkan sungguh merasa jahat jika enggan mengaku jahat. Atau malah, tidak merasa jahat sama sekali adalah kejahatan luar biasa...
-Aris
“Hei, bodoh!” Seseorang menimpukku dengan moncong laras panjangnya. Sialan
dia menginterupsi ritual renunganku. ­­
“Kau terus saja bertindak konyol, Aristarchus Lean!” Di depanku kini berdiri seorang yang tegap dan begitu gagah
wajahnya yang sangar mengerut tegastanda tidak main-main.
“Para demonstran adalah target, bukan tontonan! Akhir pekan ini boleh saja kau menonton bioskop, tapi bukan di sini!” Sejenak ia mengambil napas, “Ini adalah medan perang! Maka pergunakanlah dengan baik senjata itu!” Aku sudah kebal dengan omelannya yang banyak bumbu, dan aku tidak merasa bersalah sedikitpun.
Letnan James ini teman ayahku, yang lebih memilih menjadi katsa (agen lapangan) ketimbang menerima tawaran ayah untuk bekerja di markas besar Tel Aviv; mengawasi dari jarak jauh, serta mengurus pelbagai perlengkapan persenjataan. Pola pikirnya memang aneh
atau mungkin dia juga ingin menjadi bagian para martir di sisi Tuhan seperti rakyat Palestina yang telah ia bunuh?
Tidak tahu. Kupikir semua prajurit Israel sama bajingannya, termasuk aku.
“Baik, Letnan.” Amarahnya sudah mereda seperti biasa, dan kukira aku hanya perlu menjawab singkat.
“Aris! Apa rencanamu?” Aku menoleh menuju pemilik suara yang memanggilku. Simon Atarah. Aku mengangkat alis acuh tak acuh. Paling paling habis ini dia akan menyuruhku menembak perempuan, atau berpiknik ria ke salah satu bar dengan banyak gadis cantik dan menarik. Aku heran saja
dia pecinta wanita, atau psikopat wanita ?
“Sudah, tembak saja dia!” Dengan semangat ia menunjuk seorang gadis berjilbab panjang, yang tengah sibuk mengobati korban yang tertembak tadi. Agaknya dia seorang relawan.
Meski malas menanggapi, mataku tetap memperhatikan siapa yang ia tunjuk. Dia sempat mengedarkan pandangannya, sepertinya mencari bantuan relawan lain.
Seketika rahangku mengeras. Tatap mata kami bertemu, dan gejolak kalbu yang sekian lama terpendam kembali tersulut, menyuar ke tiap-tiap sel tubuh dan menyisakan diriku yang kini bergetar hebat.
***
Hebron, 5 tahun lalu
Adalah restoran kecil tanpa AC
—milik Eva—di Allenby street, dengan menu Ashkenazi klasiknya, yang sukses besar menarik minat ayah. Sudah ribuan kali restoran itu mengisi jadwal akhir pekanku bersama ayah, dan aku pikir ayah akan komitmen dengan rutinitasnya. Mengisi waktu luang diantara penatnya perang, begitu ujarnya. Aku tergelak.
“Jadi?”
Sayangnya untuk hari ini aku sudah sangat bosan, kukira menjauh dari hiruk pikuk Tel Aviv adalah hal yang tepat. Apalagi mengingat tawaran pekerjaan ayah padaku siang tadi
—yang kupikir lebih pantas disebut ‘paksaan’ daripada sekadar tawaran. Pekerjaan gila—asal kau tahu. Serta merta aku menghela napas.
“Sore ini aku ingin jalan-jalan santai, Yah.”
Jadilah sekarang aku berjalan sendiri di tengah heningnya sudut kota Hebron
kota kecil Palestina yang berjarak kurang lebih satu jam dari tempat tinggalku di Tel Aviv. Lengang. Objek tepat untuk menenangkan jiwa yang terasa miring. Sebenarnya tujuanku tidak hanya untuk menenangkan diri, aku justru ingin mengamati kota kecil di tepi barat Yerussalem ini. Kota yang sering kali menjadi objek ketidakmanusiaan serta kekerasan Israel terhadap rakyat Palestina.
Percakapan kecil tadi masih terngiang, kupikir ayah akan mengajak rekan-rekannya yang sangar itu. Lantas meja makan akan penuh dengan gelak tawa, mereka sibuk berbicara perang untuk kemudian terbahak keras. Entahlah apa yang mereka perbincangkan, yang kutahu mereka sangat sarkastik!
Aku mengehela napas panjang. Aku tidak pernah menyukai teman-teman ayah, bahkan aku tidak pernah menyukai pekerjaan ayah
sampai sampai rasanya sekarang aku mulai membenci dirinya. Entah mengapa, aku selalu resah ketika melihat ayah berdiri tegap di tengah medan sembari menodong senjata, bahkan ketika dia memutuskan akan pindah kerja ke sebuah gedung di King Sauld Boulevard, resah itu tak berkurang semili pun. Entahlah apa yang aku khawatirkan. Keselamatan ayah? Atau ada hal lain yang terasa salah?
Usiaku kini menginjak kepala dua. Dan, aku tidak tahu mengapa aku harus terlahir menjadi bagian komponen bentala; manusia. Mengapa aku harus berada di sini? Apa tujuan hidupku? Menjadi prajurit yang patuh seperti ayah demi ‘membela’ kehormatan bangsa? Atau, menjadi petahana pusat lalu menanggalkan nalurinya sebagai manusia?
Ketahuilah, aku hanya ingin melanjutkan hidupku dengan waras..
Bruk!!
Ah. Ini sungguh scene yang kelewat klise, bukan?
Ritual renunganku buyar. Langkahku terhenti
aku sungguh tercengang. Di depanku kini terdapat rumah-rumah yang berjejer, dan beberapa diantaranya runtuh. Jejak pergusuran paksa pekan lalu. Salah satu rumah tampak ramai, atau bahkan sedikit ricuh.
“Jangan..” Seorang gadis tampak didorong hingga jatuh terduduk. Ia tak peduli, ia tetap mencoba untuk kembali berdiri. Manik matanya berkaca-kaca, terlebih ketika menatap seorang laki-laki yang kuterka ialah saudaranya
—dalam keadaan diborgol.
“Kumohon jangan bawa kakakku..” Ia merengek pilu pada seseorang di depannya. Aku tidak bisa melihatnya karena ia membelakangiku. Yang kutahu, dia jelas seorang tentara Israel
dia bersama beberapa tentara laindengan kostum serba hitam.
Sebelumnya aku memang sudah melihat beberapa tank milik Israel terparkir berantakan di sepanjang jalan rusak Hebron. Pasti penggrebekan rumah-rumah sedang dilancarkan lagi pekan ini. Mataku tetap awas mengamati kejadian di depan rumah tersebut. Dari jauh sini, aku hanya tetap berdiri terpaku, meski sedemikian gigih nuraniku mendobrak kakiku agar melangkah
, namun berakhir sia-sia.
“Minggir!” Salah satu tentara Israel mencoba menyingkirkan perempuan yang mencoba menghalanginya tersebut. Agaknya mereka mulai masuk menggerebek rumah, menyita senjata bila ditemukan, mengambil uang dengan paksa, serta merazia hal-hal mencurigakan lainnya. Dua tentara berjaga di depan. Gadis itu masih memohon, kali ini dengan nada tegas.
“Diam kau!”
“Jangan tahan kakakku! Dia laki-laki yang baik, tidak seperti Anda!” serunya tegas, matanya menatap dongkol pada dua tentara di hadapannya.
Mulai merasa jengah dan tersulut emosi, salah satu tentara itu akhirnya menendang keras kaki gadis tersebut—yang kemudian tetap berdiri tegak tanpa merintih kesakitan.
Sungguh, aku benar-benar ingin membuat babak belur siapapun yang menyakiti perempuan..
Hei, bagaimana jika itu ibumu sendiri ?
“Kau pengecut!!” gertaknya lantang, jarinya menuding penuh benci.
Kau benar.
Betapa aku lebih pengecut dibanding mereka..
Karena nyatanya, aku tetap bergeming di tempatku semula tanpa ada tindakan berarti—bahkan hingga satu jam ke depan, aku hanya dan terus terdiam, setengah mati berusaha meredam amarah yang berkecamuk dalam dada.
“Minggir kau!”
Penggerebekan di rumah tersebut telah usai, dua tentara yang tadi masuk sudah keluar—lengkap dengan barang-barang yang mereka razia. Kepuasan tampak terpancar di wajah bengis mereka. Lalu mereka berbalik pergi, melengos begitu saja.
Sembari menyeret ‘tahanan’ barunya itu.
“DASAR PENGECUT KAU!” Gadis itu terus merutuki mereka yang acuh tak acuh, berlagak seolah tidak mendengar apapun. Mungkin mereka memang tuli.
Aku terus memperhatikan mereka dengan saksama—untuk kemudian terperanjat hebat.
Seketika gemetar menjalar dalam tubuhku. Hatiku terhenyak. Amarah itu semakin naik ke puncak amplitudonya, tatkala mataku menangkap sosok yang sungguh familiar.
Termasuk salah satu diantara tentara-tentara itu.
Lebih tepatnya, yang tega menendang kasar seorang gadis tadi.
Ayah.
***
“Ayo bergerak! Barusan ada korban tertembak! Cepat!” Seorang gadis berjilbab panjang dengan jas putih itu tampak sibuk menyiapkan berbagai peralatan medis. Lantas berlari menuju korban yang tertembak tadi—bersama beberapa relawan lain. Merasa perlu bantuan, ia mengedarkan pandangannya, mencoba memanggil temannya yang lain.
Seorang tentara tiba-tiba menunjuknya sembari berbisik pada teman di sebelahnya. Ia tak gentar, justru semakin mengamati siapa yang berani-berani menunjuknya tanpa sebab.
Sayangnya sebuah tatap mata yang lain membuatnya balik menatap sosok di kejauhan itu. Sosok yang berdiri di samping tentara yang tadi seenaknya menunjuk dirinya.
Ia terhenyak. Jantungnya berdetak cukup kencang, sinergis dengan pikirannya yang kini meracau sana sini. Perasaannya tak karuan. Kecamuk yang selama ini diredam habis-habisan kembali beriak ke permukaan, mengoyak dinding memori lama.
Allah, mengapa dia lagi?
***
-Razan
“Kenalkan. Aris.”
Di sela-sela isak tangis yang menderas, aku merasakan kehadiran seseorang di hadapanku.
Sungguh, saat ini aku hanya ingin menangis. Hari ini berlalu sangat buruk, jauh lebih buruk dari sebelumnya. 
Kakak—satu-satunya keluargaku yang tersisa ditahan paksa oleh tentara Israel tanpa alasan yang jelas. Aku tidak mengerti mengapa tentara Israel tiba-tiba saja merangsek ke dalam rumah, merusak rutinitas pagiku bersama kakak; saling menyimak hafalan satu sama lain, minimal lima halaman Al-Quran. Saat itu aku hanya diam, sembari terus mengalirkan zikir-Nya dalam sanubari. Sungguh, pada siapa lagi hati yang lemah ini berpasrah ?
Kakak menggenggam erat tanganku seolah berkata bahwa semua baik-baik saja, Allah selalu bersama kita. Aku menarik napas. Mencoba tenang menghadapi kelakuan para tentara terlaknat di hadapanku. Mereka terus mengancam akan membunuh jika kami tidak menuruti keinginannya dengan segera. Keinginan yang disulut oleh hawa nafsu mereka sendiri—akibat minimnya akal waras dan naluri yang suci.
Sejak dulu aku tahu, Israel tidak akan pernah menyudahi holokausnya terhadap rakyat Palestina, benar-benar jiwa pendendam yang agresif dan tidak tahu malu. Bersikap seolah ras mereka adalah ras yang agung, semata-mata membungkus rapat dimensi masa lalu mereka yang penuh tragedi. Miris, namun berlagak bengis. Mereka tidak akan pernah berhenti, kecuali matahari terbit dari barat, lalu dunia akan segera mati.
Aku hanya mewakili kisah jutaan rakyat Palestina lain yang sama-sama berada dalam medan jihad-Nya, bertahan atas semua pembantaian keji para zionis—berjuang demi tegaknya Islam di bumi Palestina. Kami hanya tahu tentang hidup berjuang atau mati syahid. Dunia yang mereka selalu kejar adalah fatamorgana, sedang kami sibuk menyusul para martir di buana nirmala. Aku percaya, dan akan selalu percaya pada Allah. Kuteguhkan dalam hati, biar saja kakak ditahan saat ini, akan kulihat mereka tergugu dalam jeruji nista di kobaran neraka!
Wajahku pias dibasahi butiran-butiran air yang terus menderas. Allah, kepada siapa lagi aku berbagi atap rumahku ?
“Ehm.” Seseorang tadi berdeham, menjeda keluh kesah hatiku
yang meracau. Rupanya dia masih berusaha menarik perhatianku yang terus menangkupkan kedua tangan demi menutupi wajah yang basah. Aku menghentikan tangisku sejenak. Mengangkat kepalaku yang mulanya tertunduk.
Alisku bertaut heran ketika menatap sosok lelaki yang kini berdiri di hadapanku. Aku bahkan tak pernah melihatnya sama sekali.
“Siapa Anda?”
Alih-alih menjawab pertanyaanku, dia justru ikut duduk di atas reruntuhan besar yang berada di depanku. Aku memandangnya bingung. Pemuda bermata biru dengan rahang tegas, serta tubuhnya yang tegap itu tinggi semampai. Perawakan yang sama seperti pemuda Palestina kebanyakan.
Siapa dia?
“Aku Aris. Sejak kapan kau tinggal di sini?”
“Apa kau juga tinggal di sini?”
Dia terdiam sesaat. “Tidak. Tapi aku tinggal tidak jauh dari sini.” Aku hanya mengangguk. Lalu kami terdiam, aku sendiri sedang tidak ingin memulai pembicaraan atau bertanya apapun padanya.
“Maaf,” dia menginterupsiku yang kembali melamun. Aku menatapnya—ada apa?.
“Keluargamu.. apakah keluargamu masih utuh? Maksudku, yaa ibuku juga sudah meninggal,” ujarnya berhati-hati, cemas kalau-kalau aku justru tersinggung. Padahal, percakapan seperti ini jelas sangat wajar di kalangan rakyat Palestina.
Kenapa dia begitu?
“Ayah ibuku sudah meninggal. Ayah meninggal saat aku masih kecil karena ditembak tentara Israel. Ayahku dulu seorang hamas. Dan, ibu..” aku menghentikan ceritaku, mengingat sosoknya sungguh membuatku rindu bukan kepalang.
“Tidak perlu dilanjutkan jika kau tidak mau,” seloroh Aris mengerti.
Aku menatapnya. Tidak masalah. Kurasa aku perlu sedikit membagi ceritaku.
“Ibuku salah satu korban pemboman Israel satu tahun yang lalu. Saat itu beliau sedang pergi berbelanja, aku sungguh merasa bersalah. Andai saja, saat itu aku ikut bersamanya…” Aku menyeka pelupuk mataku yang kembali basah.
“Andai saja.. setidaknya, meski aku tidak syahid bersamanya, aku menjadi satu-satunya orang yang berada di sampingnya sebelum ia pergi.” Kali ini aku kembali terisak. Benih-benih mutiara itu mengalir deras, cukup menjadi bukti kerinduanku yang teramat besar padanya. Angkara yang tertuai kuat dalam sanubariku berkecamuk, dari dulu aku ingin sekali menembak para zionis itu. Sungguh, Allah, Engkaulah sebaik-baik pembalas kezaliman.
Aris tampak mengangguk-angguk, seolah mengerti apa yang sebetulnya aku rasakan.
“Aku yakin itu yang terbaik buatmu. Tuhan tidak pernah salah menilai, kau adalah salah satu hamba-Nya yang terbaik, maka itu Dia memilihmu,” ujar Aris dengan bijak.
“Aku yakin, ayah dan ibumu sedang menunggumu menyusul mereka. Mereka bahagia dalam penantiannya, ketahuilah..” Aris mengulas senyum padaku. Aku bahkan masih tidak mengenalinya, namun entah mengapa kalimat-kalimatnya sungguh mendamaikan gemuruh hatiku. Aku menarik napas. Terimakasih.
“Lalu, bagaimana denganmu ?”
-Aris
Aku sedikit terkesiap mendengar pertanyaannya barusan. Sejak satu jam yang lalu aku mendengarkan kisahnya, salah satu kisah yang menjadi saksi kekejaman Israel dalam kurun tujuh puluh warsa ke belakang. Sungguh, jika aku bukan seorang lelaki, aku bertaruh tangisku akan membludak seperti tsunami akibat gesekan lempengan bumi. Aku, hanya tengah merasa diriku benar-benar brengsek.
“Maaf?” Lagi-lagi aku merenung, dan selalu pecah diinterupsi vibrasi yang tertangkap sampai ke saluran koklea.
“Ah. Bagaimana ?” Aku menggaruk kepalaku salah tingkah—sungguh tidak keren.
“Bagaimana.. denganmu? Ibumu ?” Mata cokelatnya mengerjap-ngerjap, tampak antusias menanti jawabanku. “Ah. Ceritaku tidak jauh berbeda denganmu.” Dia mengerutkan alisnya—tidak puas. “Juga terkena bom. Aku lupa dimana, aku sedang di rumah dan dia pergi ke suatu kota.”
Sungguh, aku minta maaf. Aku tidak bisa tidak berdusta padamu.
Dia manggut-manggut—tidak merasa perlu mendorongku bercerita lebih jauh.
Aku menghela napas lega. Selang beberapa menit kami terdiam. Tidak ada yang berusaha memulai obrolan lagi, dan kurasa sudah cukup untuk sore ini. Mataku menyapu sekitar. Cahaya mentari sudah hampir terkuras habis oleh senja.
Aku memutuskan untuk segera pergi, sebelum akhirnya gadis di depanku membuka mulutnya. “Terimakasih,” ucapnya takut-takut.
“Untuk?” Kupikir aku yang harus berterimakasih padamu, aku berutang banyak nyawa atas negeri ini. Aku hanya berusaha menambal kesalahan ayahku tadi.
“Hanya berterimakasih. Ah, kau hendak pergi, bukan? Sholat maghrib? Aku bisa menunjukkan rute tercepat ke masjid di dekat sini. Tapi aku tidak bisa..” Ia berdiri dan mengarahkan telunjuknya ke jalan di hadapanku.
“Mengantar? Tidak perlu. Aku tinggal tidak jauh dari sini, aku tahu, tenang saja.”
Ia terdiam sesaat, lalu mengangguk mengiyakan. Aku balas tersenyum simpul. Pertemuan ini sudah cukup, kan?
Saat itulah, saat aku berbalik untuk pergi dan melangkah, aku selalu merasa ada jejak yang tertinggal di sana. Jejak rasa yang terasa fana, bahkan hingga berhari-hari setelah itu, lalu berbulan-bulan, hati ini selalu terbakar rindu ketika mengingatnya. Seperti peluru yang bersarang dalam hati, mematikan.
Tahun-tahun selanjutnya lewat bagai merangkak. Tidak peduli aku tengah sesibuk apa melatih diriku, selalu ada saja pikiran yang menabuh genderang tabu dalam kalbu. Ada apa dengan diriku? Aku sudah dewasa dan banyak sekali berjumpa wanita cantik baik di tempat tinggalku sendiri atau bahkan di belahan dunia lain, namun titik temu yang dielu dalam hati tetap kembali pada masa lalu. Entah, aku tidak mengerti, aku juga tidak ingin menyibukkan diriku tenggelam dalam nafsu asmara, sedang pekerjaan sangat menuntutku untuk hanya memikirkannya tanpa embel-embel apapun. Pekerjaan gila—aku hampir kehilangan jiwaku sendiri, bahkan nurani pun seperti kian terkikis tiap waktunya. Tidak tahulah, kewarasanku sudah kritis, mungkin hidupku bisa berakhir seperti tahi yang terapung, terombang-ambing tanpa arah di sepanjang muara menuju sungai, menyedihkan.
Saat ini aku sedang di Haifa, kota pariwisata Israel yang berjarak cukup dekat dari Tel Aviv. Mengurus suatu keperluan, untuk besok bersafari ke Yerussalem bersama beberapa rekan kerjaku. Ini memang pekerjaan gila—sudah berapa kali kubilang—dan aku nyaris tertular gila. Baiklah, kita lihat bagaimana kegilaan hidupku saat ini akan menjadi seperti apa nanti. Aku hanya harus melanjutkan hidupku sebagaimana ‘makhluk hidup’ kebanyakan, kan?
Ah. Yang di sana, bagaimana kabarmu ?
***
-Razan
Apa kabarmu?
Aku baik-baik saja. Jika, hadirmu ada di sisiku.

Semilir angin membelai lembut tubuhku yang sedang bermeditasi. Memejamkan mata, mencoba melebur diantara hiruk pikuk alam yang demikian membawa tentram. Aku selalu menyukai tempat ini. Sudah bertahun-tahun berlalu, puing-puing reruntuhan itu masih berserak tak beraturan—bahkan jumlahnya bertambah banyak. Yang berbeda adalah waktu, juga sosokmu yang absen di sini. Ini sudah 3 tahun terlewati sejak senja di hari itu, pertemuan sekaligus perpisahan pertama kita. Tidak tahukah kau? Setiap hari itu datang, aku selalu menyempatkan diriku ke sini. Lantas berdiam sejenak menunggu senja menggusur pelataran biru cakrawala, membuat benakku semakin terbawa pada masa itu.
Kau bilang, kau tinggal tidak jauh dari sini, bukan? Lalu mengapa kita tidak pernah bertemu atau sekadar berpapasan? Apakah, pertemuan kita hanya kebetulan yang lalu terlupakan?

Sudah tiga tahun ini aku sibuk menjadi relawan sekaligus turut serta di berbagai aksi rakyat di banyak tempat, terutama di perbatasan Gaza. Terimakasih, sejak itu semangat hidupku tumbuh kembali. Aku tahu apa yang harus kulakukan, meski tanpa kakak di sampingku. Ah, bagaimana kabar kakak? Tahun kemarin, Israel mengeluarkan surat bahwa kakakku berhak dibebaskan. Aku sangat bahagia, setidaknya sesaat sebelum aku melihat batang hidungnya. Dia hanya tersenyum—ketika mata ini tak kuasa lagi membendung butiran rindu juga sakit hati kala menatap wajahnya yang demikian babak belur. Tubuhnya yang tinggi semampai terlihat ringkih dan tidak tegap lagi. Allah, aku hampir tidak mengenalinya. Serta merta aku menghambur dalam peluknya, membiarkan rindu mendekap apa yang selama ini ia tunggu. Pelukannya masih sehangat dulu. Sungguh, aku tidak pernah sebersyukur ini setelah kedua orang tuaku pergi, juga kau. Setidaknya aku bersyukur pernah bertemu denganmu, meski aku tidak tahu bahkan kau masih mengingatku atau tidak.
Aku menghela napas panjang. Kembali memejamkan mata, menikmati detik-detik semburat jingga mengisi cakrawala. Tetap saja, aku bahagia.  
***
“ISRAEL LAKNATULLAH!”
“YERUSSALEM MILIK PALESTINA!”
Sembari menyuarakan segala pikiran-pikirannya, kakak mengangkat tinggi-tinggi poster yang ia pegang—sirat wajahnya demikian tegas dan berapi-api. Aku melihatnya dari kejauhan, sembari sibuk menyiapkan pos kesehatan terdekat bersama beberapa relawan lain.
Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru. Beberapa demonstran tampak baru hadir bergabung bersama kerumunan. Senyumku merekah—entah mengapa setiap berada diantara mereka, aku selalu merasa bersyukur sekaligus bahagia.
Kulihat beberapa orang merangsek ke depan, mendekati para serdadu yang masih berjaga dengan senapan teracung. Kakak mengikuti langkah mereka, lalu mengambil kerikil atau batu-batu untuk dilemparkan pada para zionis itu. Aku memandangnya kagum, tiada ketakutan sedikitpun menggantung di jiwa
mereka. Tampak semakin banyak yang mengikuti langkah mereka, mataku tetap awas memerhatikan.
Sepersekian detik kemudian aku terkesiap. Tubuhku seolah kaku, dan sejuta pertanyaan seketika menghujam benakku tanpa henti. Kurasakan pening menyerang, lalu pertahanan diriku ambruk. Pelupuk mataku basah. Aku, tidak tahu harus bagaimana.
Dia, itu dia—aku tidak salah lihat, kan?
Aris—pemuda yang sekian tahun aku cari keberadaannya, saat ini muncul begitu saja diantara hiruk pikuk massa di depan sana—ikut melemparkan batu. Aku tertegun—aku tidak tahu, apakah aku harus bahagia?
Ataukah..
DORR!!
Sebuah tembakan meluncur menuju target, dan sedetik kemudian seseorang mengaduh sembari menekan dada kirinya keras. Batu yang tadi hendak dilemparkannya terlepas seiring dengan pertahanan dirinya yang di ujung tanduk. Lantas begitu saja—tubuh tegap semampai itu ambruk di atas saksi bisu perjuangannya; tanah Palestina.
..ini malapetaka?
“KAKAK!!” Senyum yang tadi nyaris terukir begitu saja padam. Betapa pedih menyayat hati menyaksikan detik-detik kepergiannya menjemput syahid.
Tubuhnya segera ditangani beberapa temanku, aku tidak sanggup. Kak, tunggu aku, doakan aku segera menyusul kalian di surga-Nya.
Aku mengedarkan pandanganku—berusaha mencari sumber tembakan tadi.
Sekejap aku tergugu. Belum usai hati ini bergemuruh begitu dahsyat, kulihat Aris dan beberapa orang yang berada di dekat tentara Israel justru berbalik menyerang para demonstran.
Aku menatapnya sembari berkaca-kaca. Hatiku pias dirundung segala rindu yang berbalik angkara sembilu. Aris—terdiam menatapku sembari menjatuhkan pistol yang digenggamnya. Pistol, pistol itu?
Ia segera mengalihkan pandangannya, meratap pilu pada pistol yang terkapar di tanah. Pistol—yang entah bagaimana bisa merasuki jiwanya, lantas menyihir tangannya untuk bertindak beringas bagai singa kelaparan—hal yang selama hidupnya selalu ia takutkan.
Apa...yang sebenarnya dia lakukan ?
“MUSTARIBEEN! SEMUANYA TETAP DI TEMPAT!”
Seseorang berteriak lantang kepada para demonstran yang mulai ricuh—tidak terima dengan pengkhianatan tiba-tiba sekelompok orang (mustaribeen) tersebut. Tatap kami berhenti, dia segera bergabung bersama ‘temannya’, sedang aku masih terpaku dalam sejuta riuh prasangka yang menggerung pilu. Aku beradu dengan alegoriku sendiri—aku harus apa? Bahkan di pertemuan kedua ini—dia bukan hanya begitu saja pergi, dia bahkan tidak meluangkan waktu untukku tersenyum melihatnya barang semenitpun. Tetap saja, aku hanya wanita dengan perasaan yang begitu lemah.
Saat itu, kau menjadi orang pertama yang menghiburku. Dan kini, kau juga menjadi orang pertama, yang melecut lubuk hatiku demikian keji, hingga aku lupa bagaimana cara percaya di kemudian hari. Kau—yang dulu berhasil menyemat gairah baru dalam hidup meski dengan tidak bersama kakak, kini pun sukses menguar elegi yang teramat menyayat—atas perbuatan kejimu sendiri pada kakakku. Kau—dalam pandangan yang berbalik sempurna, tetap menjadi alasanku untuk bangkit, seperih apapun luka yang terasa saat ini. Sungguh, hanya Allah sebaik-baik tempatku berkeluh…
***
Binar mata cokelatnya masih sama seperti dulu, hanya saja tatapannya lebih tajam, menyirat pahit-getir segala kronik hidup yang telah banyak ia lalui. Jas putih yang membalut tubuhnya masih melekat, sama seperti yang aku lihat saat tragedi itu. Sungguh, sedemikian apapun aku menampik, rinduku masih menggantung di langit-langit kalbu—persis seperti saat aku memutuskan untuk pergi, meski langkah teramat payah kubuat.
Apakah, kau pernah memikirkanku layaknya aku memikirkanmu?
Aku mengalihkan pandanganku jengah. Aku sungguh tidak pantas menatapmu setelah tragedi yang dengan teganya aku hadirkan pada hidupmu. Bahkan aku tidak layak mendapat penerimaan maaf secuilpun, dan aku tidak berharap. Ketahuilah, hidupku sudah menjadi lebih sinting sejak hari itu, dan aku mengakuinya. Karena setiap kesalahan akan terus ditimbun dengan kesalahan lain, selalu saja begitu, entah hingga kapan. Aku sudah berubah, namun kau perlu tahu, bahwa bahtera kalbu ini tak pernah berbelok dari labuhan yang ia tuju…
DORR!!
Ini sudah tembakan ke sekian ribu yang menabuh genderang telingaku—aku sudah lebih dari biasa. Simon—teman paling bajingan yang aku kenal—tengah tersenyum puas. Ia menurunkan senapannya jemawa, seakan perkara ‘menembak’ dan ‘membunuh’ tidak lain hanya permainan belaka. Ia hanya harus menjadi pelakon yang professional di dalamnya, bukan?
Aku mencoba mencari target yang ia tembak tadi. Sejak tadi hatiku terasa aneh, ini bukan kali pertamaku sejak pensiun menjadi mustaribeen dan pindah ke pekerjaan yang sama gilanya sekarang.
Sosok berbaju putih tampak dikerubungi banyak orang. Jas putih yang dikenakannya kini bermandikan merah, darah yang dikeluarkan dari dada kirinya terus menderas tiada henti. Sekejap aku terhentak dahsyat. Mencoba mengerjap-ngerjap mataku demi memperjelas penglihatan. Seiring dengan kepalan tanganku yang kian menegang.
Astaga Tuhan…
Apakah, aku tidak salah lihat?
Kau, hei mengapa kau ada di dalam kerumunan orang-orang tersebut?
Cepat bangun!
Banyak korban membutuhkanmu! Hei, seenaknya saja kau tidur!
Mata cokelatmu tadi masih menatapku, kan?
Mengapa tiba-tiba kau menutupnya begitu saja?
Bangunlah! Tatap bajingan ini walau sedetik!
Kau…
Aku bahkan tidak tahu harus memanggilmu apa, apakah kau tidak mau memberitahuku dulu? Satu suku kata saja?
Kau…
Aku benar-benar tidak ingin minta maaf padamu!
Percuma. Aristarchus, sedang apa kau?
Dia…
Gadis bermata cokelat itu telah pergi.
Menyisakan sekeping ruang dalam hati yang telah mati.
***
Sejak itu aku mengerti, bahwa sejauh apapun bahtera ini berlayar demi menambatkan jangkarnya, sejatinya yang pasti adalah keabadian. Kau boleh memilihnya, antara dermaga nirwana, atau dermaga nista?

Cerita ini semata-mata hanya fiksi. Izinkan saya mengenang pahlawan wanita Palestina bernama Razan Ashraf Najjar, yang namanya selalu terkenang manis—baik di langit maupun di bumi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah Berapa Lama?

RESENSI NOVEL PULANG LEILA S. CHUDORI