Sudah Berapa Lama?

2 Juni

Halo?

Sudah lama sekali.. pembukaan yang klise, maklum hiatus kurang lebih 5 bulan tanpa sadar. Sedang ada amanah untuk menulis sesuatu yang resmi, lalu buntu dan teringat rumah ini. Membaca satu demi satu tulisan tiap bulan dan kembali merasakan emosi yang campur aduk di dalamnya. Terharu. Takjub. Saat itu rasanya waktu berlalu sangat lambat dan menekan, sangat berbeda jauh dengan apa yang aku rasakan sekarang. Sedikit senyum terukir sebab apa yang dulu aku alami jelas begitu hebat dan aku masih di sini. Melawan berbagai cacat sikap dan pikiran yang selalu muncul terlebih ketika hal yang ditakuti itu memburu. Berusaha mendekap segala kekurangan dan menghargai nilai diri sendiri, meski patah-patah dicibir angin berlari.

Guncangan emosi, jungkir baliknya jiwa, dan kerunyaman pikiran itu masih ada. Masih erat dalam diri ini, dan seringkali muncul dalam banyak kesempatan di kesempitan. Aku masih dengan ketakutanku yang dulu, tetapi dalam jiwa baru yang dibangun dengan ruang-ruang kelapangan. Lapang untuk kegagalan, untuk kesalahan, untuk keberhasilan. Semua dengan porsi yang sama. Tidak ada yang boleh condong. Jika terlalu banyak ruang untuk kegagalan, aku menjadi seseorang yang pesimistik dan pasrah begitu saja dengan keadaan. Jika terlalu banyak ruang untuk keberhasilan, aku menjadi kikir nikmat terhadap apa yang aku dapat, dan menjadi sulit menerima kegagalan yang tidak terduga. 

Dalam waktu-waktu tertentu, aku tetap menangis ketika kecepatan mendorongku begitu kuat, di hadapan layar sembari tetap berusaha menyelesaikan-meski tidak bisa, dengan berlinang air mata. 

11 Juli

Yah, dan tulisan ini terlantar 1 bulan sampai jemariku berani menantang keyboard dengan tariannya lagi.

Benar sekali bahwa waktu-waktu sulit itu sepertinya tampak sudah bisa kuatasi dengan baik. Aku banyak menghabiskan waktu dengan merenung di antara keputus-asaanku dan banyak hal yang kukritisi tentang diri sendiri. Berawal dari kegagalan yang bertubi, makian terhadap diri sendiri sayup-sayup selalu menggerayangi pikiranku dan jiwaku bergetar, seringkali ia jatuh tersungkur. Lalu aku belajar bagaimana bangkit kembali, sampai kegagalan itu tidak lagi mendampratku begitu hebat. Atau barangkali itu memang bukan sebuah kegagalan. Sejak awal, atau hanya karena aku sudah lebih kebal? Lagi-lagi aku meremehkan diri sendiri, mencari toleransi dari segala peristiwa sulit yang aku lewati sendiri bahwa itu bukan hanya karena diriku. Aku hanya sudah merasa lebih beruntung. Ah tidak, Tuhan benar-benar membantuku. Aku tidak diberi bantuan dengan kemudahan, aku diberi kesempatan untuk membantu diriku sendiri dan memercayainya lewat runtutan pelik dalam pengawasan-Nya diam diam.

Kalau boleh kukatakan lebih, perenungan itu terus berlanjut dan merambah ke segala hal. Menilai dan menjatuhkan diri sendiri, bahwa kesepian ini, keterpurukan ini, aku dapatkan adalah dari hasil perlakuanku pada suatu masa yang lalu. Suatu waktu aku bersyukur atas banyaknya diamku, suatu waktu yang lain aku merutuki diamku yang baginya keterlaluan, bahwa semestinya aku bisa bertindak, begini atau begitu. Pada hubungan pertemanan, cinta, kehormatan, aku sudah dirundung kegagalan sejak dahulu. Setidak-tidaknya menurutku.

Ilusi. Aku senang menciptakan ilusi negatif dalam hidup atau diriku, dan entah itu dimulai sejak kapan. Semakin parah di masa-masa luang dan memuakkan saat ini. Kita hanya ingin percaya apa yang ingin kita percayai, aku dengan sudut pandangku yang antagonis terhadap dirinya sendiri telah merenggut sekian banyak "aku" dan keistimewaannya. Matahari akan tampak bersinar dengan baik di hari yang cerah, sedang hujan dan petir mengundang kemurungan pada langit sehingga sinarnya pun akan pudar. Begitulah kira-kira.

Dalam sepersekian persen justifikasi kejamku terhadap diri sendiri, aku cukup membenarkannya. Bahwa aku punya banyak sekali pekerjaan rumah untuk membenahi diri, itu sungguh sangat tepat. Langkahku dimulai dari memperbaiki hubungan dengan jiwaku sendiri, mendengarkan hati dan mempergunakan akal dalam kadar yang baik. Sebelum mencintai dan dicintai orang lain, aku harus berdamai dengannya. Ini mungkin terdengar cukup membosankan, tetapi sungguh, hasrat ingin dicintai begitu hebat yang datang dari kurangnya kasih terhadap diri sendiri bukan suatu hal yang patut dituruti. Pada akhirnya, ia hanya akan melukai sayap dari yang sudi merekah lebar demi menggapai tangkai yang rapuh. 

Tetapi tetap saja, sampai saat kapanpun, aku tidak yakin aku benar-benar pantas. Kupikir, aku hanya harus menghidupi hidupku dengan baik jika masih diberi. Itu saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI NOVEL PULANG LEILA S. CHUDORI