Halo. Dan sudah november.

Sebagian terlalu cepat lewat, sebagian yang lain terlalu menggantung dan bikin hati nggak enak. Aku nggak tau harus mulai dari mana. Pikiranku saat ini betul-betul runyam. Datang dari mood yang bahagia karena senin selasa berhasil aku lewati, sampai bertemu rabu dengan api semangat yang naas menelan diri sendiri. Mati. 

Aku masih tetap dengan kecemasanku menjelang hari senin, yang mulai dimasak sejak matahari minggu telah terbit. Ah, bahkan sebelum itu. Sabtu yang tenang aku rusak pula dengan kekhawatiran, tak pernah membiarkan jiwa ini beristirahat bahkan mendapatkan haknya untuk menghela napas dengan baik. Lalu sesuatu bernama kecemasan itu aku dekap hingga bersua rabu, dan aku tetap masih membiarkannya tinggal. Aku merawatnya begitu baik, bukan? Terlalu lugu, yang menanam ribuan biji pilu untuk menyemainya lagi di awal tahun hanya untuk memulai tahun baru dengan awan memoriam 2020 yang nian gulana.

Kemudian siklus itu berlanjut. Beriringan dengan urusan-urusan yang tak mengenal buntu, datang dari luar pun dari dalam pikiranku sendiri. Merindukan beberapa manusia yang lagi-lagi kutepis sebab bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan. Tidak ada yang bisa diharapkan dari manusia, dan terlebih diriku sendiri. Maka aku memilih memikirkan diriku dan nasibnya yang di ambang kebimbangan jiwanya sendiri. Remang-remang aku membaca benang pikiranku, tapi dapat kurasakan bahwa hanya gundah yang dipeliharanya. Ia dapat merasa senang, tertawa, berbicara dengan baik, lalu di malam hari dihujam kesepian dan ia tersedu. Layaknya di hamparan samudera, terombang-ambing riak ombak tak kenal gentar. 

Entah mengapa aku hebat sekali merekam semua kesalahan dan penyesalanku dalam hidup. Meski tersimpan dalam sebuah kotak, ia amat berat dan hampir-hampir tumpah. Aku amat ingin membuangnya, namun ia begitu melekat dalam jiwa. Aku terjebak dengan diriku sendiri, entah yang mana aku sulit dan enggan mengerti.

Tuhan, dengan kasih sayang tanpa batas-Nya, seringkali mengingatkan aku pada beberapa perkumpulan baik yang dikehendaki-Nya. Aku terenyuh berkali-kali, untuk kemudian benar-benar lupa dan tuli. Meski beberapa yang lain justru membuatku penat dan hilang motivasi, tapi untuk mendengarkan simfoni lisan yang bertaut dengan firman-Nya, jiwaku betul-betul membuka diri. Telinganya tak lagi tuli. Hatinya sejenak hilang lindap dan meski sudah dirawatnya kecemasan itu saban hari, ia tenang. Pikirannya yang gemar melanglang buana pada kelam dan ketakutan, syahdu menyimak dengan sepenuh hati. 

Lantas, di mana letak kesalahannya?

Tuhan, darimana aku harus membenarkan berjubel benang runyam dalam jiwa ini?

Mengapakah diberi sebuah tanggung jawab yang begitu berat dan aku bahkan belum selesai dengan diriku. Dengan mimpiku. Dengan delusi-delusi kecemasanku.

Aku belum selesai dengan diriku, bagaimanakah harus menghadapi orang lain? 

Sebelum aku lupa diri, izinkan ia meluruhkan simfoni lisan yang didengarnya suatu hari kemarin. Biarkan aku menarikan lisannya lebih dalam nan lihai. Seorang baik yang kutemui pada perkumpulan baik itu bilang, jangan niatkan sesuatu dengan orientasi pada manusia. Sebab manusia punya batas, manusia punya tabiat, manusia punya inkonsistensi, dan paling penting, manusia tidak memegang kuasa takdir. Jika sebuah perbuatan kau kehendaki untuk manusia, maka apabila hasilnya negatif, kita pun terpengaruh asapnya. Terbatuk-batuklah jiwa kita, terbutakan mata kita oleh kebaikan yang Tuhan janjikan. Kebaikan yang hanya Tuhan yang punya dan bisa memberi. Tanggung jawab kita ada pada mahkamah-Nya dan bukan atas mata manusia. Berawal karena Tuhan, dan berakhir juga karena Tuhan. Entah itu berarti mati, atau yang lain. 

Perjalanannya tidak mudah, sebab iman memang mahal harganya. Kecemasan, ketakutan, kerendahan diri, semua itu murah dijual dunia gemerlap dalam durjana. Bahkan meski aku terlanjur terjerembab dalam rutukan itu, aku pun sadar. Aku hanya kesulitan membangkitkan diriku sendiri, berdiri dari kubangan busuk ini, sebab lututku lemas dirayu fatamorgana dunia. Meskipun aku sadar, sekujur jiwaku telah kalap.

Sesuatu yang hilang dan terlupakan itu, barangkali sudah betul-betul memalingkan mukanya. Kekosongan itu menyesak begitu hebat.

Aku...

barangkali sudah terinjak-injak harga diriku sendiri.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah Berapa Lama?

RESENSI NOVEL PULANG LEILA S. CHUDORI