Ia yang (suatu hari) menyerah pada menulis

Kalau ada satu hal paling mengecewakan yang boleh aku nyatakan saat ini seumur hidupku, aku akan dengan yakin menjawab ketika aku menyerah pada menulis

Hanya karena aku tidak berada pada kondisi menguntungkan dengan tulisanku, bukan berarti aku patut mengkhianatinya. Aku justru menjadi pengecut bagi jati diriku sendiri. Meninggalkan menulis sebagai ritual merenung sama artinya dengan menelantarkan diriku terombang-ambing dalam badai, yang ketika ia jatuh, ia hanya dapat membungkam sedu sedannya sekuat tenaga, kemudian bersama badai yang hilang, ia akan pura-pura memberi senyum paling tulusnya. Ia mengira itu manis, dan sebagai simbol diri yang kuat, padahal luka dalam jiwanya kian memberingas tanpa Ia acuhkan barang sedikitpun.

Aku telah berusaha menjadi orang lain, mengira setiap tamasya itu akan menentramkan ricuh isi kepalaku, padahal jarang sekali mereka dapat tersalurkan melalui buah bibir yang terlalu memelihara ego untuk membuka dirinya. Dan siapa punya telinga seluas samudra untuk sanggup mendengar ribuan keluh kesah? Memakai topeng dan bersandiwara, sementara melupakan bagaimana semestinya aku dulu menenangkan diri, nyatanya meninggalkan kesepian dan kehilangan tak terdefinisikan di akhir hariku. Di tepi ranjang dengan guling yang teronggok, aku terpekur dalam diam, merutuki mengapa masih teramat ngilu rasa kesepian itu menggerusku. 

Apakah gerangan yang hilang? 

Kehilangan teman, guru, kakek, dan orang-orang berarti yang tulus menyukai tulisanku, nyatanya bermula dari aku yang kehilangan diri. Aku terlalu takut untuk kembali menulis, sebab banyak orang menjanjikan masa depan tanpa menulis, dan aku telah termakan rayuan tak berhati nurani pada diriku sendiri. Aku takut untuk memulai lagi, hanya untuk mendapati diriku di masa depan suatu waktu akan menelantarkannya, entah kali ke berapa. Aku tidak siap dengan perpisahan yang berulang. 

Untuk berpisah dengan apa yang sebetulnya Tuhan istimewakan untukmu, semata untuk membantu dirimu sendiri bangkit, tidakkah itu menyakitkan? Bahwa suatu saat aku sangat mungkin akan memilih kehidupan tanpa menulis, merelakannya seolah itu bukan apa-apa dalam dua puluh tahun lebih aku diberi hidup, tidakkah itu terdengar sia-sia?

Meski begitu, aku sudah cukup lelah untuk berbohong dan berpura-pura bahwa aku cukup kuat, mendoktrin naif bahwa Ia adalah diri yang utuh meski tulisan bukan lagi bagian dari nafasnya. Maka jika suatu saat semua ini sia-sia pun tidak apa-apa..

Dibanding sia-sia tidak berjuang dan melanjutkan hari-hari menghirup penyesalan, bahkan sia-sia berjuang pun bagiku tidak masalah.. 

Sebab tujuanku adalah merayakan hadiah ini untuk Tuhan, tidak lagi mencari kenikmatan palsu dari mata manusia yang suatu waktu dapat tertutup oleh-Nya juga. Semoga Tuhan jaga niat dan usaha ini untuk kembali dalam sebaik-baiknya keadaan {}



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah Berapa Lama?

RESENSI NOVEL PULANG LEILA S. CHUDORI