Gigi Tiga

"Naik ke tiga ayok." 

"Nah dorong, ini kamu dorongnya sambil diangkat sedikit ke depan, jangan dorong paksa ke kiri," komando itu bersumber dari sebelah kiri kursi pengemudi, siap siaga dengan tiap gerak-gerik situasi jalan untuk mengambil peluang. Tentu saja peluang itu dibebankan dalam bentuk perintah pada sosok yang diberi komando.

Jalanan di depan meliuk panjang, sudah cukup jauh mobil berjalan untuk memaksanya tetap di gigi dua, maka mau tidak mau aku menginjak kopling dan mengatur persneling manual naik satu ke gigi tiga. 

Mobil merespon perubahan itu dengan gerungan yang terasa "berat" secara fisik bagi pemegang setir, aneh untuk dibilang gigi tiga. Aku menoleh bingung pada ayah di sebelahku.

"Nah, itu gigi satu. Kamu tuh dorong ke kiri tadi nggak sadar." Seloroh Ayah, dalam ucapannya dapat kudengar ia sedikit menahan gemas lantaran ini bukan sekali dua kali supir cadangannya berulah dengan "gigi tiga". Aku dan gigi tiga, bisa dideskripsikan seperti kucing dan tikus dalam Tom & Jerry, aku sebagai Tom yang demikian payah mengejar Jerry meski dengan sekuat usahanya. Ini seperti menyangkut harga diriku sendiri, sebab sudah jalan satu tahun aku mulai mengemudikan kendaraan beroda empat sementara masih di situ-situ saja kemampuanku.

"Ayok dicoba lagi, gigi tiga. Kamu tuh gerakannya angkat ke depan, nggak usah maksa, ikutin aja alur persnelingnya." 

Komando itu membuyarkan kontemplasi pikiranku tadi. Seru juga terhanyut merenungi sesuatu meski sedang menyetir. Nah setidaknya aku sudah berani melamun ketika menyetir, kan? Bukankah itu kemampuan yang hanya bisa muncul kalau seseorang sudah "terbiasa"? Setidak-tidaknya, levelku sudah sampai pada terbiasa

"Ayok dicoba, nggak papa." Masih melihatku cukup ragu-ragu, komando itu kini datang dengan sedikit kalimat penenang. Yang sejujurnya tidak berarti banyak. Sebab desisan seseorang di belakang terdengar menusuk kepercayaan diriku, lebih dari apapun.

"Nggak mau, nggak suka denger ada yang ngerang-ngerang nggak jelas." Pernah dengar desis ular? Bedanya, ular mendesis tiap saat, dan tiap mau memangsa, tapi gimana kalau itu terdengar dari manusia? Kedengerannya dia memang sedang takut, panik, namun kesan yang ditangkap oleh supir adalah sindiran hebat bagi kemampuannya. Desisan hanya bentuk verbal dari kesangsian seseorang terhadap siapa yang mengemudikan kendaraan yang ia tumpangi. Bahkan meskipun benar ia belum mumpuni, desisan tidak pernah membuat keadaan menjadi lebih baik. Jikapun tidak bisa bersikap suportif, hal paling minimal yang bisa dilakukan seorang penumpang tetaplah diam. Percayalah, kalau dia mau membahayakan penumpangnya, diapun sendiri akan pertama-tama dalam bahaya..

Tapi meski begitu, tangan kiriku tetap tertantang untuk mencoba lagi. Tangan kiriku telah duduk dan kelima jarinya menangkup pegangan persneling sebagai kuda-kuda pertama sebelum melancarkan aksinya, sementara otak mencoba mengingat dengan baik kata demi kata panduan yang diberikan ayah.

Dalam beberapa kesempatan, bahkan meski kalimat itu telah berulang kali aku resapi, aku teronggok di tengah jalan sementara tangan kiriku masih meraba jalur persneling mana yang mesti kuarahkan untuk mencapai gigi tiga. Mataku menghadap ke jalan, mengawasi bagian kanan, kiri, dan belakang, sedang tanganku masih berjuang dengan sisa-sisa insting dari otak kananku. Kerunyaman itu berhenti dengan tangan ayah yang sigap menangkup tanganku untuk membantunya berjuang mencapai gigi tiga. Lalu aku menghela nafas lega, meski tetap merutuki diri.

Pada kesempatan yang lain, aku dengan percaya diri tanpa komando dari ayah mencoba menginisiasi perubahan itu ketika mobil sudah terasa berat dan penunjuk rpm di belakang setir telah mencapai 3000. Dan coba tebak? Aku berhasil memindahkan gigi dua ke gigi tiga, tanpa bantuan ayah, tanpa desisan penumpang di belakang kemudiku, dan tanpa gerungan atau sundutan ketika aku melepaskan kopling lalu pindah dengan cekatan untuk menginjak gas. Kadang-kadang ya, berhasil. Tapi di jalanan ini, yang meliuk, naik-turun, penuh tikungan, kekhawatiranku cukup mendegradasi kemampuan yang hanya sebatas "kadang-kadang" tadi.

"Udah, nggak usah dipeduliin. Sampingmu ini kan ahli, harusnya itu cukup buat kamu tenang." Ayah bukan selalu penenang yang hebat, tapi dia memang berusaha dalam kalimatnya. 

Aku menahan gerutu dan rasa ingin segera lepas kendali di tengah jalan ini. Ingat, jangan biarkan kata-kata orang memengaruhimu. Aku boleh mengambilnya dan membuat diriku terasa buruk, begitupun aku boleh menampiknya dengan keras keluar jendela mobil ini. Biar ia dihantam truk dan hilang radar. Dalam mencapai kemampuan seperti ayah, tidak boleh mudah menyerah apalagi jika alasannya adalah erangan paranoid orang lain. 

Sebelum mampu dengan lancar mengemudi kendaraan penuh tanggung jawab ini, aku perlu mampu mengendalikan diri, kan?

"Pokoknya inget selalu ya, kalau ngendarain mobil, harus zero risk. Kamu pastiin samping kanan, kiri, belakang itu aman apalagi setiap mau ngelakuin perubahan, jadi kamu ngendarainnya lebih yakin." 

Segenap ketenangan dan keyakinan aku coba alirkan pada tangan kiriku yang telah memegang kendali persneling selama lima menit menunggu aba-aba, perlahan dan pasti, sembari aku rapalkan dalam hati kata-kata ayah sebagai mantraku, "arahkan ke depan, diangkat sedikit, bukan didorong.." 

Menurutmu, apakah kali itu aku berhasil?

Percayalah, kalau ada hal paling penting yang ingin aku taklukkan lebih dari hati siapapun, jawabannya adalah gigi tiga.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah Berapa Lama?

RESENSI NOVEL PULANG LEILA S. CHUDORI