Hujan yang Mengering | In Memoriam of Sendekala
“Wa keyf int?” Satu minggu yang lalu, saat kukira aku masih akan punya kesempatan untuk mengobrol lebih banyak lagi seperti tahun-tahun sebelumnya, aku belum menjawab pertanyaan balikmu mengenai kabarku, yang mungkin kau tanyakan sebagai sopan santun belaka. Meski jawaban ini tidak akan pernah terdengar, izinkan diri yang naif ini menjawabnya juga sebagai sopan santunku. "Cukup sulit. Tapi mungkin sedikit. Sesedikit waktu kita di dunia, kan?" // I don't wish for us nor for me, I'm praying for you now.. Sudah masuk hari kedua sejak kabar pahit itu datang, dan aku masih berusaha membangun kekuatan untuk menerimanya sepenuh hati. Kau bilang, kerelaan seluruhnya kepada Allah tanpa pamrih adalah sebenar-benarnya nikmat iman, bukan? Secepat kabar itu datang, secepat itu pula diri ini tergugu. Saat itu aku dalam perjalanan menuju klinik untuk keperluan tertentu, mencoba sekuat tenaga untuk tidak terisak hebat di belakang punggung bapak-bapak yang tengah mengendarai motor...