Hujan yang Mengering | In Memoriam of Sendekala

“Wa keyf int?”

Satu minggu yang lalu, saat kukira aku masih akan punya kesempatan untuk mengobrol lebih banyak lagi seperti tahun-tahun sebelumnya, aku belum menjawab pertanyaan balikmu mengenai kabarku, yang mungkin kau tanyakan sebagai sopan santun belaka.

Meski jawaban ini tidak akan pernah terdengar, izinkan diri yang naif ini menjawabnya juga sebagai sopan santunku.

"Cukup sulit. Tapi mungkin sedikit. Sesedikit waktu kita di dunia, kan?"

//

I don't wish for us nor for me, I'm praying for you now..

Sudah masuk hari kedua sejak kabar pahit itu datang, dan aku masih berusaha membangun kekuatan untuk menerimanya sepenuh hati. Kau bilang, kerelaan seluruhnya kepada Allah tanpa pamrih adalah sebenar-benarnya nikmat iman, bukan?

Secepat kabar itu datang, secepat itu pula diri ini tergugu. Saat itu aku dalam perjalanan menuju klinik untuk keperluan tertentu, mencoba sekuat tenaga untuk tidak terisak hebat di belakang punggung bapak-bapak yang tengah mengendarai motornya. Aku harus menyelesaikan urusan ini dulu.

Pertama kali hal yang kulakukan tentu mengelana mencari jejakmu. Aku tidak peduli bagaimana kronologi kejadian itu, mendengarnya pun tidak sanggup.

Namun pencarianku hanya membuatku kembali jatuh.

Dari sekian macam warisan dan jejak yang bisa dipilih, yang kau pilih justru sebaliknya, sedapat mungkin membakar jejak-jejakmu di manapun. Puisi-puisimu, tulisan, akun dunia maya, bahkan situs blog yang amat ciamik itu kau biarkan orang-orang melupakan keberadaannya.

Termasuk aku.

Aku beruntung bisa menemukan setidaknya satu karyamu yang masih tersimpan dalam memori digital, dan akan terus kusimpan sampai kapanpun.

Andai ada satu pertanyaan yang boleh kuajukan, aku hanya ingin bertanya lebih jauh. Bertanya lebih detail tentang kabarmu. Apa kau serius baik-baik saja? Bagaimana arti “lumayan” menurutmu seperti yang kau bilang terakhir kali itu?

Aku tidak tau bahwa kehilangan seseorang, yang bahkan belum pernah kita temui, ternyata cukup menghujam sesak. Terlalu banyak kesan yang kau tinggalkan, dan satu-satunya obat dari tidak pernah adanya pertemuan ini hanyalah membaca tulisan-tulisanmu, yang entah di mana.

Tulisan-tulisan itulah yang dulu mengajariku bagaimana merangkai kalimat bermajas tanpa terdengar membosankan. Estetik bukan segalanya, katamu. Meski masih tidak sebagus karyamu. Meski saat ini pun, aku sudah lupa caranya.

Sudah lama sejak terakhir kali aku membaca tulisanmu dengan penuh kekaguman itu...

Aku telah terlalu sibuk dengan kerumitan diriku sendiri satu setengah tahun ke belakang.

Terima kasih banyak sudah hadir, wahai sosok yang penuh kejutan hingga akhir hidupmu. Selama beberapa kali berbincang, dari hal ringan sampai berat, aku sedikitpun tidak pernah merasa digurui. Setiap tutur katamu selalu memiliki makna yang dalam. Kerendah hatianmu membuat setiap kalimat mudah sekali menyentuh sanubari. Mencerminkan sesosok jiwa yang bijak dan dewasa, terbingkai dalam sisi humoris yang membuat kepribadianmu kian istimewa. Kau mudah berteman namun tetap tidak terduga. Kau mudah bercakap-cakap kecuali hal yang menyangkut dirimu sendiri. Barangkali ada alasan mengapa kau menghapus tiap jejakmu, dan aku akan mencoba memahami itu.

Pesanku yang mungkin tidak akan pernah sampai.. Bahkan jika kau bisa, jangan baca tulisan ini, aku sudah jauh dari permainan kata sejak beberapa waktu lalu. Aku malu, meski aku tau kau selalu menghargai setiap tulisan bagaimanapun bentuknya, biar tulisan ini yang menanggung luka dari seseorang yang belum sempat berterima kasih padamu.

Aku tidak ingin memperburuk suasana dengan merasa menyesal sudah mengenalmu dan membawa diriku pada situasi ini, aku justru bahagia bisa mengenal sosok luar biasa sepanjang hidupku. Sampai akhir hidupmu pun, kau mengajariku banyak hal. 

Kau telah kembali pada Penciptamu, dan semoga Ia berimu tempat terbaik di sisi-Nya, menjauhkanmu dari kedinginan dan ketakutan di bawah tanah, serta menerangi tempat peristirahatanmu untuk sementara waktu, sampai seluruh manusia mendapatkan gilirannya, termasuk diriku sendiri.

//

Maka kini, kesempatan berbincang itu telah berganti menjadi jalanku untuk berbicara lebih banyak dengan Tuhanmu...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah Berapa Lama?

RESENSI NOVEL PULANG LEILA S. CHUDORI