MEMORABILIA

"Al ini adanya piring satu doang. Nasinya dikit lagi." 
Loh, aku kira memang bakal berdua aja, kan? 

"Ini Al yang buat kamu. Pake piring itu ya."

Saya yang masih beres-beresin sampah masak tiba-tiba tertegun. Menyadari sesuatu yang hilang, tidak salah sih, hanya kontras dari budaya yang sudah menjiwai keseharian saya. Saya lupa, ini bukan di dulu lagi. Yang tanpa diinstruksi diminta apapun udah langsung terpola kalau makan ya bareng, masak bareng makan bareng, nyuci yang gak bareng:). 

Tradisi itu sudah mendarah daging, justru kalau makan sendiri jadinya ogah-ogahan. Makan tunggal hanya laku di kalangan santri baru yang sedang tahap adaptasi, heuheu. Dan kalangan santri bersayap satu atau dua atau bayang-bayang yang ngesok senioritas itu ya kalau tidak bareng teman, ya tidak makan. (saya sih).

Tertegunnya sebentar, rasa anyir kehilangan itu yang semakin memar di dada. 

Dan, maka itu memarnya ingin saya bagi dan sedikit dibumbui.

//

Gute nacht:)

Dari kemarin sih, gatau kenapa ada gelora yang menggelitik buat kembali mengupas ingatan setaun yang lalu. Tanggal 5 Mei yang lalu, tepat setahun sudah jadi alumni dan beralih ke mahasiswa dengan sekelumit kronik dan epiknya. time runs so fast! isnt it?

Satu warsa sudah terlewati, sayangnya gemuruh rindu itu masih belum terobati. Kehidupan 180 derajat yang berbeda jauh, dan nggak pernah berhenti mengeluhkan kehilangan-kehilangan yang anyir terasa di setiap harinya. Kehilangan teman yang selalu mengingatkan, jadi sumber semangat, tempat saling sambat, temen makan pagi siang sore walaupun lauk ibu dapur itu-itu aja, tapi selera dan nafsu makan nggak sedikitpun berkurang (saya sih, yang kalo makan bareng sangat terpacu ).

Selalu rindu ritual-ritual kecil yang dulunya biasa-biasa saja dijalani: abis subuh ngetem di masjid entah tidur, ngobrol, atau solihahnya mah baca quran; makan bareng satu tray (ini sih woi yang bikin kehidupan ngekos sangat amat terasa hampa!), ngobrol di depan kamar sampai dimatiin lampunya; ngerjain yang ulang tahun sampe seantero asrama tahu kalau doi ultah (such a hilarious (not alike) little party); berangkat ke sekolah detik-detik terakhir saat sweeping sedang gencar-gencarnya, alhasil masuk gerbang sekolah pun mesti terbirit-birit kalau nggak mau terblokade dari sekolah sendiri; tiap istirahat pertama, agaknya terdiri dari tiga golongan: dhuha terus jajan, jajan aja, jajan tapi NITIP (dan pernah ke adek kelas:)), dan kalau saya sedang berhibernasi maka tidur (biasanya kalau sebelumnya pelajaran non eksak bisa 3 pelajaran saya tidur); laundry yang kadang jadi ajang buat jajan cilok; keluar pondok izin gak izin entah buat belanja, makan-makan, nonton ke crb, apapun yang bikin mata jadi seger lagi --tapi nagih; selalu menanti hari selasa, terlebih yang rumah mentornya bikin ada kesempatan jalan keluar: jajan, ketemu doi dan teman-temannya, dan sekian hal lain yang justru melunturkan filosofi dan arah tujuan dari mentoring itu sendiri, gapapa.. santri mah bebas~ meski sekarang tahu betapa pentingnya kegiatan yang sering menjadi ajang hura-hura itu :)
banyak banget sayangnya kalau dijabarin semua, apalagi modus-modus terselubung yang suka timbul redam di beberapa kesempatan manis. ceilah

Tapi, 5 Mei 2018 kemarin kita lulus semua dengan 56 orang menyelesaikan lembaran syair-nya Allah. Dan, semuanya lulus. 399 insan luar biasa itu lulus.

Atmosfer haru, bahagia, sedih, takut dan banyak aroma rasa lain yang terhirup hari itu. Dan yang membekas sampai sekarang itu, sedihnya yang menggundah-gulanakan ramadan saya sekarang.


"Bukan ramadan pertama di bumi rantau, tapi ramadan pertama setelah 6 tahun saya melewatinya bersama mereka."

Mencoba berdamai dengan sekian perbedaan yang amat kontras, tapi atmosfer berlagukan irama syahdu di setiap sudut hk selalu bikin hati mengalah sama sindiran rindu. Gak butuh alarm, cukup satu manusia baik yang dibangunin malaikat langsung, entah bagaimana menjalar ke yang lain dan beberapa lagi hanya butuh disentuh. Masjid yang semakin ramai, semua orang berlomba-lomba paling lama di masjid, puas-puasin baca Al-Quran dan gak ada yang mau kalah.
Bahkan kerap kali saya malas, saya merasa hina sama diri sendiri. Hari-hari dimana kesadaran akan berbuat baik amat mudah bersemi dalam sanubari. Sebab energi positif itu merambat dan mewabah ke seluruh penjuru, hanya oleh sentuhan angin sebagai perantara.


"Sepertiga malam yang indah, setiap insan tersebar di dalam surau; terpekur dalam sajadah yang terhampar; berjuta rapal dilirihkan pada Tuhannya; beruntai-untai air mata membersihkan hati yang bernoda, harmoni cinta itu menjadi nafas dalam sujudnya yang panjang..."

Sahur yang ramai meski kantuk menerjang, kebaikan-kebaikan yang berkelindan di setiap detiknya, dan gegap gempita saat buka puasa yang betul-betul bikin rindu semakin berdahaga.
Beberapa yang piket bertugas mengambil makanan dan ta'jil yang semakin berlimpah ruah, yang lain sibuk membeli tambahan sebab mengindahkan hasrat yang bertalu. kalau tidak habis, yang lain siap membuatnya tandas. Biasanya, agenda makan adalah setelah solat maghrib ditunaikan. Tapi, tetap saja tidak merusak ritual suci itu dengan rengekan lapar atau ketidaksabaran dalam hati. Solat tetap terasa damai dan syahdu...

Isya dan tarawih yang panjang, meski banyak keluh kesah, tapi kami tetap mengerjakannya. Bahkan saya pernah merasa lelah sebab ayat-ayat itu begitu panjang dan memori saya tidak memilikinya sama sekali, tapi saya dan yang lain, mau tidak mau tetap melanjutkannya. Kemalasan itu terkikis oleh kebersamaan yang mengalun di dalamnya kebaikan.

Malam yang panjang, beberapa tidak segera pulang usai tarawih, mencari-cari perhatian Tuhan sebegitu inginnya. Lantunan itu mengangkasa, malaikat betul-betul sibuk di malam itu, hiruk pikuknya terasa begitu damai..

Lagi-lagi syahdu, aroma ramadan yang bergelora dan harmonis selalu terkenang manis di ingatan.

Tetap saja, ingatan hanya ingatan.

Syahdan, terdengar alarm yang berdenting tak sabaran, jam sahur rupanya sudah datang. Hari puasa pertama, gegap gempita beriak dalam dada. Sekelebat kemudian tersadar, kali ini saya hanya berteman kesendirian.

Kemudian keseharian yang padat oleh kuliah, rapat, tugas. Kesibukan yang datang, lelah dan melenakan.

Al-Quran yang cemburu, sajadah yang selalu terlipat, sujud yang terengah-engah, dan kesendirian yang menikam...

Bahkan jika mencari keramaian, aroma itu tidak akan pernah sama...

//

Ah, barangkali Tuhan ingin tahu, seberapa besar tekad itu jika tidak bersama ?



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah Berapa Lama?

RESENSI NOVEL PULANG LEILA S. CHUDORI