"Kukira Tuhan Terluka"
Ahura Mazda, dan pada langit-langit yang berwajah
nestapa
Bahkan makian swastamita yang oren itu gagu pada
geramnya`
Hendak meludahi anggur lezatku dalam mangkuk-mangkuk
dosa
Ah, betapa sudah kusiapkan segala hal dari cangkir
kuno yang kucuri dari pasar Cina,
Lampu gemerlap diskotik yang menyihir para penari mala
Telah terpongah sofa-sofa cantik yang merayu birahi
asmaraloka
Lantas kubiarkan botol-botol manis mengendus hasrat
manusia, pagi pada
buta hingga merana, sebab gulita tiada cukup mematikan
nyala
pun atma renjana, maka akan kudengar segala desis,
erang, gemulai bergema-gema
ah kecuali tuhan, atau astvat ereta yang
dipuji-pujikannya itu,
lantas bertebaran ambisi yang dijual belikan itu,
berlembar-lembar
tipu daya atas imaji dan angka, dia bernilai hanya
pada
dunia, dicumbuinya segala nafsu para serigala berbulu
domba, agar kenyang lambung melar itu oleh sarayu
fatamorgana
hahaha
dunia mu ini kata mu Tuhan? Sang maha bijaksana?
Alangkah saban hari aku tiada berdoa, kubiarkan raga
hanyut
menggerayangi sungai gersang, menerjang marka bisu
agama
daun-daun mengerontang, tiada kutemukan bahkan secuil
pun tirta amarta, betapa manusia telah menghabisinya
tiada
setahi pun sisa
tapi tuhan!
Aku bahagia
Lalu kau apa? Dimana segala kebijaksanaanmu wahai
ahura mazda?
maka kubiarkan senja meludahiku dengan liurnya
mengiris cahaya
kutuang sumpah serapah pada gelas-gelas bir yang
gemetaran, mengadu
pada cahaya yang lindap, lumat oleh dentang kematian
sang senja, yang liur
nya sudah tertumpah entah kemana,
mangkuk, gelas, gemerlap diskotik, sofa-sofa cantik,
lembaran nilai yang mengukur
dunia, betapa nyalang aku menatap kepada gelora yang
tiada memiliki marka
atas dahayu bentala nan menggoda, sedang apa gerangan
yang belum jua
tersaji di atas meja?
Wahai tuhan, dan engkau bahkan tiada bergumam barang
sekata!
aku menyodorkan secangkir sumpah serapah yang dicumbui
anggur padamu,
atas mahligai nan tahta nirwana, dunia, melodi
arunika, segala-gala
ada!
Wahai ahuramazda, tiadakah engkau terpana?
Syahdan,
lututku lemas tiada tara, menerjang bumi menggeletar
ke palung dada
Sehentak panas mengaliri benang tubuhku, memuncak pada
hati, melelehkan
karsa bersama jiwa yang tiada daya, sebab tidak
ditemukan padanya
kecuali nista dan durjana
ahurmazda..
dan aku kian nelangsa, biar saja gemerlap diskotik
mencaciku dengan gelak tawa
ahuramazda..
tiadakah engkau terluka?
Betapa pun aku telah mencintai duniamu begitu mesra,
melacuri derma
oleh segunung hasrat dan fana
untuk lalu terpikun dari langitmu nan berkuasa
tiadakah, sedikitpun engkau terluka?
Aku menghadap pada diri, pandangku menelanjangi segala
yang ada padanya
Anggur merah yang tumpah, menyumpahi pakaian hina
berkain cela
Ragaku kian luruh, tubuh seakan memantik api, dibakarnya
asa hingga binasa,
darah-darah hingga pasrah, tawa hingga meratap lara,
rayuan hingga tenggelam,
durhaka hingga terluka..
Komentar
Posting Komentar