Seni Mendengarkan
halo!
sebelumnya, seperti biasa, komentar, kritik, dan saran amat terbuka lebar. di sini, kita sama sama belajar untuk jadi lebih baik ya.sila lanjut.
walaupun jarang baca, saya hobi mengutip kata-kata menarik yang kebetulan lewat di timeline sosmed saya. entah di sosmed yang mana, suatu waktu saya membaca sebuah tulisan yang mengklaim kalau, jika ingin menjadi pembicara yang hebat, maka kau pertama-tama mesti jadi pendengar yang baik. dan pada waktu yang lain, yang juga tidak tau di platform mana, saya menemukan gagasan yang kurang lebih berbicara mengenai orang-orang hebat, seperti pemimpin besar misalnya, mereka adalah sosok pendengar yang baik. maka ada korelasi positif antara kualifikasi seorang pemimpin dengan salah satu sifat terpuji: pendengar yang baik. bahkan Muhammad SAW, salah satu nama berpengaruh yang pernah memimpin dunia adalah sosok pendengar yang tidak pernah mengalihkan pandangannya sedikitpun selama orang tersebut sedang berbicara kepadanya.
tentu saja saya paham, mendengarkan adalah hal paling membosankan, sementara didengar tentu menyenangkan. kontradiksi yang miris, yang berdasar lebih banyak pada 'siapa' yang berbicara, bukan 'apa' yang dibicarakan olehnya. karena mendengar itu membosankan, manusia-manusia yang mengaku mempunyai telinga ini akan memilah mana yang akan didengar mana yang tidak, menggunakan penilaian mata dan sedikit sekali dari akalnya sendiri.
maka cukup wajar banyak dari orang-orang yang tidak menarik, entah dari segi tampilan atau konten, yang merasa tidak dihargai bicaranya. karena bicaranya tidak dihargai, keberadaannya pun terguncang.
menjadi lebih sulit ketika zaman semakin berkembang, orang-orang yang semakin bodoh gemar sekali menggenggam telepon pintar. segala yang nyata di sekitarnya semakin diabaikan, sementara seseorang di hadapannya berbusa-busa mulutnya demi menceritakan bagaimana memalukannya ia terpeleset karena pipis kucing yang sembarangan di balkon kamarnya sendiri.
'hah'
'oh iya ya'
'oh begitu ya'
sembari tetap bercumbu dengan telepon pintarnya, seolah yang diajaknya bicara adalah teleponnya dan bukan seseorang yang mempunyai lidah dan hati. tanpa menatap sedikitpun, sedang lawan bicaranya setengah mati kapok. belum lagi kalau baterai hp miliknya habis, sial sekali hidupnya, mempunyai mulut untuk berbicara, tapi serupa menciptakan sepoi angin lalu. atau barangkali kentut yang menjijikkan, yang segera ingin dilupakan siapapun yang mendengar.
atau dia tetap berusaha mencuri perhatian temannya, dan usahanya berhasil. temannya menoleh dan akhirnya menanggapi! yah, walaupun agak memotong, setidaknya dia telah sedikit berusaha, bukan?
"eh, bagaimana kalau kita mencari kucing?"
oh atau,
"hei, aku bahkan pernah terpeleset pipis sendiri. kau masih jauh lebih baik daripada aku."
lihat betapa menjijikkannya ketidaknyambungan obrolan itu.
bahkan jika dalam sebuah majelis ghibah, memotong lidah orang lain tentu bukan hal baik. mungkin menjadi paling buruk dari ghibah itu sendiri.
dalam sebuah novel terjemahan berjudul "13 reasons why", Hannah Baker yang bunuh diri mengatakan satu kalimat saktinya sebagai awal dari semua alasan untuk mengakhiri hidup, bahwa 'segala sesuatu memengaruhi segalanya'. bagaimana satu hal yang dilakukan seseorang, bahkan meski sebesar biji zarrah, dapat memengaruhi kelanjutan hidup orang lain. bisa bagus, bisa sebaliknya.
salah satunya yang paling utama adalah, bagaimana harus menghargai orang lain. itu sebuah dasar, yang memengaruhi perilaku dan tindakan yang akan diambil selanjutnya. mirisnya, banyak manusia yang mengaku memiliki hati dan akal seringkali abai. mengaku menuruti nurani, padahal hanya ego berbalut selimut.
manusia, termasuk saya, mengaku mempunyai telinga, tapi sempit sekali perannya untuk mendengar orang lain.
manusia pula, mengaku punya mulut, dan sombong sekali menggunakannya.
barangkali sudah amat bosan mendengar tentang filosofi kuantitas dari mulut dan telinga. mulut yang mempunyai hak untuk berbicara diciptakan hanya satu, sedangkan telinga yang mempunyai kewajiban untuk mendengar, diciptakan dua. sudah dua, tidak mendengar, bangsat.
yang kita pahami dari fisiologi mulut yaitu ia mempunyai fungsi bicara. maka sudah tentu mulut berhak berbicara, sangat berhak. tapi tentu saja hak punya batas yang bersinggungan dengan milik orang lain. yang punya mulut bukan cuma kamu lho. lantas jika seseorang sedang berbicara, entah itu menceritakan pengalamannya, menyatakan sebuah pendapat, bahkan melontarkan sebuah ejekan, maka biarkan mulut memilih haknya yang lain.
haknya untuk, diam.
hei, diam juga adalah haknya bukan?
cukup telinga yang berperan, sebab telinga mempunyai kewajiban untuk mendengar. setidaknya begitu dulu.
satu kalimat telah diucapkan seseorang.
jika baik, maka tetaplah seperti itu,
jika buruk serupa ejekan, mengumpat, atau mengkambing hitamkan orang lain, dan hatimu menolak, biarkan telinga menggunakan haknya untuk tidak mendengar. atau mulut menggunakan haknya untuk berbicara. yah, jika kau tidak ingin repot, maka diam saja, ambil fokus yang lain.
kita tidak harus berbicara untuk mengungkapkan kebenaran atau membela seseorang. jika diam akan mempersingkat obrolan tidak menyenangkan, kenapa tidak?
tentu saja, kau tetap boleh melakukannya jika ingin.
tapi kita tidak bisa memutuskan akan mendengar atau tidak sebelum seseorang mengungkapkan kalimatnya, kan?
maka sebelum itu, jadilah orang baik, biarkan 2 telinga kita berperan sebelum mulut menyerang.
lalu tatap matanya dengan antusias, bijak-bijaklah memerhatikan telepon genggam itu selama tidak begitu mendesak.
dan hei, jika telingamu mendengar terlalu kecil, minta tolong pada mulut untuk mengatakannya dengan bijak. jika telingamu pusing dengan tempo yg melunjak lari, jangan mengalihkan pandanganmu. katakanlah dengan hati². mengalihkan pandangan memang menyelesaikan egomu, tapi tidak pada hatinya.
katanya, setiap kita itu berharga,
kalau mau menghargai orang lain.
jadi, cobalah untuk mendengarkan ceritanya, sebelum mendengar kabar kematiannya.
Tulisannya bagus, saya suka. Memang jarang ada orang yang mau mendengarkan. Lebih banyak kita temui mereka yang mau suaranya didengarkan
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus