Penyakit Itu Bernama "Sial"
Suatu waktu pada jam pelajaran tutorial dengan dokter
pembimbing, beliau menuturkan sebuah kesimpulan atas pandangannya terhadap
‘penyakit’. Setelah panjang lebar menjelaskan etiologi dan mekanisme penyebab
terjadinya infeksi bakteri, sebuah pernyataan mematahkan semua usaha tentang
berlembar-lembar flipchart yang kami tulis dan mulut kami yang sudah
berbusa-busa.
“Kalau dipikir-pikir, setiap manusia itu sama.
Sama-sama punya peluang sakit dan terinfeksi bakteri. Bakteri ada dimana-mana,
semua orang bisa terkena sakit gigi dan sembuh setelahnya, tapi satu dari
sepuluh kasus bisa sangat mematikan. Banyak orang giginya bolong dan tidak
apa-apa, tapi teman saya yang sangat sehat terinfeksi bakteri dan sampai
meninggal.”
“Dia rajin sekali berolahraga. Pola hidupnya sehat,
badannya sangat sehat. Tapi saat diidentifikasi, rupanya ia meninggal karena
bakteri yang masuk menuju aliran darah melalui gigi yang bolong itu.”
Aku bergidik. Bahkan satu hal kerdil yang tidak
pernah kita kira darimana datangnya bisa jadi bumerang bagi kehidupan kita
sendiri. Lho, siapa yang bisa menduga bakteri mematikan akan masuk ke dalam
gigi dan menjalar menuju jantung demi menghentikan detak seorang manusia dengan
kebugarannya? Bukti kalau manusia memang punya akal, tapi tidak dapat mencegah
ajal.
“Simpel saja. Dasar dari penyakit itu memang sial.
Sebuah kasus bisa terjadi di banyak orang, tapi infeksi kronis bahkan sampai
kematian itu adalah sebuah jarum dari tumpukan jerami. Jarang, tapi bukan tidak
ada dan tidak bisa.”
Aku manggut-manggut mendengarnya. Sebuah pernyataan
yang unik dan terlebih didengar dari mulut seorang dokter gigi.
“Nah tugas kita adalah mencegah terjadinya peluang
itu, yang meski kecil namun sangat berbahaya, dan mengobati selama masih bisa
diobati. Selanjutnya ya.. serahkan sama Tuhan.”
Dia dengan pola hidup yang sangat sehat pun akan
dapat sakit, akan mati bahkan hanya oleh satu musabab kecil yang kasat oleh
matanya sendiri.
Lho jadi, semua itu cuma soal takdir? Kalau begitu,
untuk apa capek-capek menerapkan pola hidup yang baik jika akhirnya mati
disengat bakteri? Untuk apa menjaga detak jantung yang sehat jika
tiba-tiba berhenti tanpa sirine apapun?
Mending rebahan aja terus, kan.
Memangnya, kita menjaga tubuh tetap segar bugar nan
sehat abadi itu untuk apa, sih? Untuk memperpanjang hidup yang padahal sudah
diatur di alarm malaikat izrail oleh Tuhan? Itu mungkin bisa jadi harapan yang
diusahakan, meski sangat samar karena kematian adalah misteri kehidupan.
Jadi sebetulnya untuk apa semua usaha itu? Kenapa
tidak berpikir ingin mati dengan mudah dan tidak merepotkan uang siapapun?
Barangkali tubuh yang sehat, bahkan meski pada akhirnya mati, lebih disukai
Tuhan ketika berjumpa. Menjadi hamba yang menjaga titipan Tuhan dengan baik, misalnya.
Yang sehat bukan berarti terbebas dari peluang sakit,
yaa apalagi yang tidak menjaga kesehatan, dong.
Maka jika kita masih sehat bahkan dengan pola hidup
yang rusak, bukan semata-mata tidak sakit.
Komentar
Posting Komentar