Memeluk Api


Halo. Lama banget ini ga nulis di sini, rasanya hampa. Karena ga banyak kejadian insighful yang gue alamin di masa kurungan nasional ini, gue mau ajak kalian buat mengilas balik masa lalu. Bukan mantan tentu saja, i dont have either.


Gimana? Gabut banget kan sekarang?


Hari-hari gabut ini bikin saya sering nostalgia. Kadang saya lupa kalau masih kuliah, lupa kalau banyak tanggung jawab di atas pundak dan banyak capaian menunggu di hadapan. Tapi tadi malam, sebuah video mampir di pandangan saya, dan setelah berbulan-bulan kering air mata, saya nangis. Saya dirundung haru kalau ingat masa lalu. Video itu bercerita soal perjuangan nyata beberapa orang untuk masuk ke jurusan kuliah mereka, sampai mereka ada di titik menerima hal-hal yang mulanya nggak terduga sama sekali.

Saya menolak lupa, bahkan selalu mengingat dengan baik gimana hancurnya saya di tahun pertama kuliah. Kalau kalian pembaca setia blog ini dari awal entri yang saya buat, kalian pasti paham, setidaknya.. walaupun sedikit. (Raise ur hand if you're one of them, you're definitely precious im so grateful

Tahun pertama rasanya seperti neraka berbalut surga; dari luar orang selalu melihat saya dengan pandangan dan harapan yang saya nggak mampu menerimanya, bahkan dari orang-orang terdekat saya, saya nggak siap dengan semua beban itu. Harapan itu berubah jadi tekanan yang meneriaki saya dari segala arah, terlebih saat sedang jatuh-jatuhnya. Diri saya hancur lebur di dalam dengan langkah yang terseok, memelihara keputus asaan yang tak berujung. Ada api dalam jiwa yang mengobarkan perih dan melelehkan segala ketabahan yang saya coba pertahankan. 

Saya kalah, tapi tidak benar-benar punah.

Pertahanan saya boleh runtuh, tapi entah kenapa langkah tetap berjalan. Meski pelan, meski membawa kepiluan, saya bahkan tanpa sadar telah melewati banyak ranjau. 1000 kali saya menangis, 1000 kali saya ingin berhenti, tapi nyatanya 1001 kali saya tetap memilih bangkit. 

Dari langkah-langkah kecil yang saya buat, saya berkali-kali menanyakan tujuan pada angan. Saya kehilangan kepercayaan pada dunia, terlebih pada diri saya sendiri. Tidak ada pilihan yang benar, semuanya tampak salah dan menakutkan bagi diri yang rapuh itu..

Saya tidak pernah memimpikan mati, saya hanya ingin lari. Tapi bahkan membayangkan pelarian justru lebih menyeramkan daripada pelarian itu sendiri. 

Saat-saat terhancur, ketika kalimat "Tuhan yang menakdirkan kamu di sini, maka kamu mampu dan kamu pantas" rasanya terlalu utopis. Saya mau memercayainya, tapi hati saya tidak menerima itu. Terlepas dari selalu berdoa dan solat, segala nasihat tentang Tuhan justru melelahkan dan membebani diri sendiri.

Pada akhirnya dunia tetap berputar, waktu tak pernah sudi menunggu musim gugur yang terlalu panjang, maka sembari memungut dedaunan yang jatuh saya berjalan dengan segenap kebimbangan.

Memaksa langkah untuk membuntuti dunia yang amat gesit tentu saja membuat saya tersengal. Lagipula, untuk apa berlomba dengan dunia ? Terkadang kita perlu mengurangi kecepatan bukan untuk menyerah, tapi demi mengambil hal-hal baik di antara banyaknya ranjau di depan mata. Menjernihkan pandangan bahwa tiap aral mengandung pesan, dan kita tidak perlu selalu memaksakan diri. Pemaksaan hanya akan memburamkan makna.

Api yang meluluhkan ketabahan di dalam jiwa berkobar karena angkara yang disimpannya dapat menjadi bahan bakar kapanpun ia menyulut bara tersebut.

Saya bahkan banyak belajar dari tulisan saya sendiri. Tulisan membuat saya bisa melihat apa yang nggak tampak dari hanya mengeluh dan memaki keadaan. Keadaan, seburuk apapun tetap ciptaan takdir yang tidak bisa diubah, kecuali bagaimana mata kita memandang dan memaknainya.

Seiring banyaknya dedaunan gugur yang saya ambil, saya akhirnya tau bahwa penolakan itu terjadi karena saya mengindahkan kekurangan diri sebagai sesuatu yang hina.

Kesangsian terhadap kemampuan diri menciptakan bara yang disulut angkara atas marahnya saya terhadap dunia, berakhir dengan saya membakar diri sendiri sementara dunia baik-baik saja tanpa acuh secuilpun.

Saya, patah demi patah, menerima bahwa saya memang nggak sesempurna itu. Saya nggak sehebat dunia di sekitar saya berpijak, tapi saya harusnya bangga bisa berada di antara mereka.

Bahkan untuk nggak mati, saya hebat sudah bertahan.

Saya hancur karena menolak memaksa diri saya untuk jadi sehebat mereka, menolak melihat kelebihan dunia. Saya menutup mata dan hati saya terhadap diri sendiri lalu dunia, lantas bagaimana bisa memahami? Padahal tidak perlu memaksa diri untuk apapun, dan mengapa enggan menikmati keindahan dunia barang sedikit saja? 

Perjalanan jatuh bangun itu sampai pada kesimpulan bahwa setiap jiwa punya luka yang untuk bisa sembuh, kita perlu sadar bahwa kita "punya" dan menerimanya. Kita punya duri yang jika ditekan justru membuat sakit, tapi tanpa cela kita nggak akan belajar kalau kita punya batas yang nggak bisa dipaksakan. Kita punya cacat untuk menjaga dari kepongahan, dan memang hanya Tuhan yang Maha sempurna.

Menerima cela memberi saya lapang pandang terhadap kebaikan dan kelebihan yang saya punya. Waktu tidak habis percuma untuk meratapi dan merutuki apa yang saya nggak punya, tapi bagaimana kelebihan yang ada-bahkan walaupun sedikit-bisa berguna? ((setidak-tidaknya untuk kemaslahatan diri sendiri))

Masih banyak aral melintang di hadapan, ini masih satu potong dari 8 potong pizza di atas meja takdir.

Tapi kita memang kudu belajar dari hal-hal kecil, untuk setelahnya bisa melakukan hal besar.

Saya nggak pernah mengaku siap untuk masa depan yang bias, tapi hari ini, detik saya bernapas harus dapat dijalani dengan baik.

______________________________

Cerita gue bisa berdamai dengan iblis bernama insecure. Gue sering insecure, tapi selalu gue atasi dengan menerima semua kekurangan itu, dan buat apa berharap banyak sama diri sendiri? Berharap sama Tuhan!



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah Berapa Lama?

RESENSI NOVEL PULANG LEILA S. CHUDORI