Sekarat
Jika sebuah tangisan bisa dihitung dan dikumpulkan, maka ia sudah jadi teman laut sekarang dan bukan cuma-cuma membasahi wajahku. Jika ketakutan bisa dibungkus menjadi satu, barangkali tumpahannya bisa menambah kelamnya aroma malam. Jika keputus-asaan yang berlimpah ini seandainya tertiup angin, dibawanya pada suatu gurun, sudahlah ia menghembuskan kemuraman di atasnya selama bertahun-tahun.
Jika kemurungan ini dapat dibagi, diantarkan menuju langit, lalu ia menangisinya dengan hujan deras tanpa henti. Bahkan jika tubuh ini dibelah menjadi beberapa potong, yang memakannya akan sakit dan gila karena darahnya hanya menguarkan bau anyir lebih daripada kematian.
Maka apa konklusi agung dari sekian balada itu?
Ketika doa menjadi sesuatu yang ditakuti, karena kenyataan tak pernah menjamin sucinya doa. Ketika kepercayaan pada keajaiban Tuhan menjadi tumpul, dan gerakan-gerakan hanya sebatas ritual menunaikan kewajiban. Manuver yang tak mengandung makna, tapi menyirat suatu prihatin bahwa tidak ada lagi hal yang bisa diupayakan kecuali ia.
Runyamnya segenap jiwa dan pikiran, sebagai manifestasi trauma atas takdir yang sempat diaminkan. Mengapa juga harus seperti ini? Dibanting, diruntuhkan, dikoyak oleh hidup sendiri dari doa-doa yang dulu dilangitkan.
Buat apa menjadi sesuatu yang baik tapi tidak sungguh-sungguh mewujudkannya?
Buat apa berdoa saban malam, jika hanya jatuh dan gagal yang dituai esok hari?
Buat apa menjadi seseorang yang tidak berguna hanya karena tersesat di jalan yang salah?
Buat apa diberi bahagia jika bertubi-tubi dibantingkan ke tanah oleh takdir yang katanya punya makna?
Tali telah tersimpul dengan kuat, luka itu menganga besar sampai melihat kebahagiaan dan keberuntungan apapun rasanya hambar, hampir-hampir pahit tapi lagi-lagi ditelan ludah.
Tidakkah menjadi sesuatu yang buruk, tidak berguna, adalah hidup yang sia-sia?
Dalam bayanganku sebuah kungkang, penuh lamban dan keluguan, tak pernah terlatih dan memang tidak harus untuk bersahabat dengan kecepatan, lantas dipertemukan ia dengan segerombol cheetah dari ganasnya hutan Afrika, berburu adalah sahabatnya dan lamban adalah mangsanya.
Apa yang akan terjadi pada seekor kungkang malang itu jika tak ada pilihan keberuntungan yang disuguhkan padanya?
Apa pula yang akan dilakukan sekelompok cheetah tanpa harus membuang-buang waktunya sedikit pun?
Tidakkah perbandingan itu menyakitkan? Kungkang tak akan disebut lamban seandainya cheetah atau siapapun tak pernah membandingkannya, dan cheetah tak akan disebut cepat jika tak ada yang membandingkannya.
Apakah seekor kungkang harus menjadi cheetah untuk bertahan hidup?
Apakah cheetah harus memakan kunkang agar hidupnya tidak repot?
__________________________
Percayalah Tuhan, paradoks ini melelahkan...
Komentar
Posting Komentar