Yang Terseok-seok

Halo. 


Akhir-akhir ini aku sedang banyak memikirkan sesuatu. Terlebih ketika akhir minggu tiba, semua hal menjadi terasa rumit dan menekan diri. Aku dalam kebimbangan yang tidak ada ujungnya. Ini adalah siklus yang terulang berkali-kali, ada trauma yang juga muncul menghantui hari-hari sulitku dan.. aku takut. Aku tidak tau persis apa yang aku takutkan, kacamataku buram dan aku terseok-seok di atas jalanku sendiri. 

Aku bergelut dengan semua ini dan berakhir memendamnya sampai nafasku rasanya sesak. Bertahun-tahun mencoba memaklumi dan berharap bahwa sesuatu yang baik itu akan tiba tapi nihil. Aku tetap menemui diriku yang bahkan semakin merunduk dari kepercayaan pada dirinya sendiri.

Aku bertahan dengan kebimbangan, keterpurukan, kegagalan yang berulang dan menyimpannya dalam suatu kotak yang selalu aku bawa di setiap langkah. Kotak itu kian hari kian terisi penuh sampai langkahku berat dan ada suatu ketika aku benar-benar jatuh. Aku lupa menutupnya dengan baik sehingga ia membeludak tumpah ke mana-mana. Mengotori segala hal di sekitarku, bahkan hari-hariku setelahnya ternodai oleh bau tengiknya yang luar biasa. Aku tidak memiliki nafsu untuk melakukan sesuatu kecuali soal tubuhku yang tidak bisa menolak apapun. 

Sejauh ini, rasanya terkadang membaik, sering juga memburuk, dan tidak pernah benar-benar baik. Aku lelah dengan kepura-puraan untuk selalu percaya bahwa "hei, semua akan membaik. semua akan baik-baik saja." Omong kosong. Apa yang aku dapat dari bertahun-tahun bertahan kecuali hanya diri yang semakin luka dan hilang dari radarnya? 

Kelelahan yang berulang, dan mereka tidak pernah lelah mengekorku. Segala hal yang bertubi-tubi dan buruk ini membuatku muak. Muak pada diri sendiri, muak pada takdir, muak pada sandiwara yang aku buat sendiri hanya untuk memposisikan diriku terasa lebih baik, pada akhirnya itu hanya ilusi yang sia-sia. Aku merasa dikhianati rasa syukurku sendiri.

Aku merasa kehilangan diriku sendiri, entah kapan tepatnya aku mengucapkan perpisahan padanya atau aku sendiri yang secara tak sengaja telah membunuhnya.

Ke mana gerangan harimau yang dulu selalu gigih menghadapi segala rintangan? Apakah ia sudah mati kekeringan oleh harapannya sendiri? Apakah ia terbunuh oleh senapan angan yang memburunya dari segala arah? Ataukah ia hanya tertidur dan kelelahan karena terlalu jauh tersasar di belantara hutan yang tidak ia kenali? Apa yang benar-benar terjadi pada dirinya?
Pada fase ini, mungkin siapapun akan menjawab bahwa hanya Tuhan dan kau sendiri yang tau. Haha. Sayangnya tidak. Akupun tidak tau mengapa dan bagaimana pula harus mencarinya?

Sebagai bentuk pertahanan diriku terhadap takdir yang membenturku saban kali, aku menjeruji diriku sendiri dengan kekejaman pikiran dan ketidakpercayaan terhadap apapun di sekitarku. Untuk bisa berharap lagi aku bahkan tidak sanggup. Aku lagi-lagi takut dikhianati harapanku sendiri, aku takut untuk berprasangka buruk pada Tuhan hanya karena Dia tidak menghendaki keinginanku. Keinginan untuk dimudahkan, dilancarkan, namun berkali-kali aku tetap dibantingnya lagi. Aku menjadi skeptis terhadap doa itu sendiri sebab aku tidak siap untuk menganggap kuasa Tuhan telah mengkhianatiku. 

Bagiku tanpa harapan, maka tidak ada kekecewaan. 

Aku pikir.

Nyatanya tidak.

Berharap itu seperti nafas bagi manusia lemah. Bahkan tanpa aku sadari, dengan menutup diri dari doa aku telah berharap bagaimana Tuhan akan memberi takdir kepadaku. Aku, dalam palung hati yang terdalam tetap terbersit suatu manik bernama harap yang bersinar secara malu-malu. Akankah Tuhan tetap peduli padaku? Akankah Tuhan akan memberiku apa yang aku ingin tanpa harus kusematkan dalam kesyahduan? Apa yang akan Tuhan lakukan?

Aku sekarat dalam kekejaman diri dan harapanku sendiri.

Adakah seseorang bisa memahami ini dan berbincang denganku tanpa merasa dirinya terbebani?

Memang aku sendiri yang harus mencari, aku harus memperjuangkan diriku sendiri bahkan jika ia kini terasa amat tidak berguna.

Setidaknya, pencarian ini membuatku terasa lebih baik. Aku berbincang dengan seseorang, meluah limpahkan sejuta keluh kesahku yang aku pendam dalam kotak itu. Kotak yang seringkali membeludak tapi lagi-lagi kusimpan dengan aroma buruknya. Seseorang itu mendengarkanku dengan baik, memberiku kalimat-kalimat indah yang tidak utopis seperti harapanku terhadap hidup sendiri.

Dia bilang, "Buat aku, untuk kamu bisa bertahan sejauh ini dengan segala kondisi yang kamu sendiri yang tau, dan bagaimana kamu berjuang dan memaksa diri untuk melakukan sesuatu yang berat tapi tidak benar-benar kau sukai, itu hal yang sangat tidak mudah. Aku sangat mengapresiasi kamu."

Kamu bahkan hebat bisa bertahan.
 
Aku setengah mati menahan tangis karena aku tidak ingin perbincangan malam ini rusak dan tidak tersampaikan dengan baik. Aku memberi tahu seseorang itu semua hal yang aku alami dan aku pikirkan saban hari. Rasanya seperti tengah menumpahkan isi kotak secara perlahan dengan pipa ke dalam suatu tangki baru dengan penyaringnya.

Pada luahan itu, ia mengutarakan banyak kalimat menenangkan dan membuatnya tidak begitu buruk. Dan, bau tengiknya perlahan menguap.

Aku terus bercerita tentang segala hal, mencoba mengingat-ingat apa yang terlupa karena aku tidak ingin ada perasaan buruk yang tersisa dan terabaikan olehku setelah cengkerama malam ini.

Tentang seekor kungkang yang tersasar di sebuah daerah hutan yang dihuni segerombolan cheetah, yang hidup dengan memaki dirinya sendiri karena tidak bisa menyamai kecepatan mereka. Bertahun-tahun mencoba beradaptasi, yang ia tuai hanya kegagalan beribu kali.

Ia kecewa pada dirinya sendiri, dalam kacamata perbandingan orang lain.

"Kalau kamu membandingkan diri kamu dengan orang lain, ketika kamu sendiri yang tau baik buruknya kamu, apa tujuan kamu yang mungkin berbeda dengan orang lain, itu sangat nggak adil loh buat diri kamu sendiri.."

"Coba bayangkan yah.. kamu memakai kacamata orang lain untuk melihat hidup kamu sendiri, tidakkah itu justru akan menyakiti dirimu sendiri? Ini hal yang keliru dan hanya ketidakdilan yang kamu dapatkan darinya.

Daripada membandingkan dengan orang lain, coba lihat dirimu ke belakang, bagaimana kamu bisa dengan kuat bertahan sampai ke tahap ini. Bagaimana dulu kamu pernah jatuh dan kamu telah bangkit lagi, membawa diri kamu ke masa sekarang. Dengan segala kekurangan dan apa yang kamu alami sejauh ini, bisa bertahan saja kamu hebat."

Dia terus melontarkan banyak hal bagus sebagai amunisiku untuk menghadapi ini kemudian hari. Sedang aku tersenyum dalam keharuan yang meruah dalam jiwa. Hampir-hampir mata ini menjatuhkan butirannya, tapi aku tidak ingin membuat malam ini menjadi terlalu sendu sehingga aku terbawa sampai seterusnya. Ah, seseorang itu, terima kasih. Terima kasih atas pertolongan dalam 7200 detik yang bagiku terlalu singkat.

Aku memang belum menemukan secara pasti ke mana gerangan harimau itu pergi, atau bagaimana seekor kungkang itu harus hidup seterusnya.

Tapi, kali ini biarkan aku berharap sedikit dalam kegelisahanku, semoga, meski takdir akan berkali-kali menghujamku, aku tidak hancur karena sebelumnya telah memenangi kendali atas diriku sendiri.

_________________________________________


Karena kalian, ah setidaknya aku sendiri, ingin cerita ini berlanjut dengan luar biasa, bukan?


Ahad, 4 Oktober 2020


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah Berapa Lama?

RESENSI NOVEL PULANG LEILA S. CHUDORI