Enigma
Ssst, kali ini gue mau serius dikit. Barangkali ada yang bersedia diajak diskusi.
Kemarin malam gue ikut sebuah acara (akhirnya gue beralih dari program insekyur), di akhir pematerian salah seorang founder lembaga yang ngadain acara ini banyak menyampaikan petuah-petuah dengan aksen nada dia yang unik. (Apparently he was graduated from Gontor BS, fyi.)
Gue paling seneng dengerin gituan kan.
Ada beberapa premis yang menarik perhatian gue dan bikin gue mikir. Gue ceritain salah satunya aja. Katanya sih gini, "jangan hanya membuat produk, tapi ciptakan ekosistem. produk bisa nggak laku, gagal lalu tenggelam, sementara dalam ekosistem yang telah terbangun, produk apapun punya peluang sukses lebih besar."
Dalam konteks sekali baca, kita langsung terbayang soal industri atau bisnis. Barangkali jadi inget start up dan tidak lupa kedua tim pemanis itu (sayangnya gue belum nonton). Gabungan premis di atas cukup menyentil dinamika pikir gue, dan agaknya banyak contoh yang bisa kita temukan di sekitar kita.
Menurut gue, KPOP jadi representasi paling pas soal membangun ekosistem tadi. Bagaimana mereka tidak hanya sibuk menerbitkan satu produk beriring produk lainnya, tetapi mengikat sebuah ekosistem bernama "fandom" yang tanpa harus bertemu dan berkoordinasi secara langsung tapi hebatnya amat solid. Kita tidak lupa kan, setiap hashtag yang bertandang di jajaran tren twitter tiap detiknya berasal darimana ? Setiap penjualan produk meski dalam waktu berdekatan, hasilnya selalu gila-gila-an. Di samping industri hiburan Korea Selatan yang memiliki integritas dan totalitas yang tinggi, kita bisa akui, peran ekosistem berwujud fandom ini cukup unik, dan luar biasa gila.
Barangkali soal Habib Rizieq yang ramai ini pun bisa jadi contoh kedua, bersanding dengan fandom. Sama-sama solid dan mmm agresif?
Ah ada lagi. Drama korea bisa dibilang mulai membangun ekosistem yang kuat di masa pandemi ini. Setiap kali ada drama baru, muncul tren baru yang semakin luas dan menarik perhatian publik. Dunia hiburan jadi salah satu yang paling dibutuhkan di sepanjang tahun penat ini, kan? Memang ada untung dibalik pandemi, bagi beberapa yang melihat peluang.
Ketika berbagai industri merancang strateginya sendiri dalam meluncurkan produk sekaligus menumbuhkan ekosistem.. mari kita beralih fokus sedikit, bagaimana jika itu bukan sebuah perusahaan atau segala hal yang berkaitan dengan putaran ekonomi & uang? Bagaimana jika itu hanya sebuah organisasi yang tanpa wujud, sebatas bayangan bagi pengampu & pion-pion di dalamnya?
Bagaimana, sebuah lembaga berasaskan kebaikan & keagamaan, dengan paradigma eksklusif yang menaungi pandangan khalayak terhadapnya, bisa menerapkan prinsip itu?
Sebut saja langsung lembaga dakwah kampus. Sebab gue juga masih bocah di ranah kampus.
Organisasi ini cukup epik. Untuk nggak berakhir jadi sekadar bayang-bayang bagi siapapun di dalam atau di luar lingkaran, dia butuh "produk" yang bisa menghadirkan wujudnya. Setidak-tidaknya, keberadaannya bisa dirasakan, dan tentu tidak bisa sembarang produk.
Ironisnya, problema yang melanda kapal yang berlayar setiap tahun meski dengan pergantian pengurusnya tetap sama dan jadi budaya turun menurun. Bukan lagi menjawab bagaimana membuat produk berupa kajian dan program-program yang menarik? Melainkan bagaimana membangun public interest dari berbagai kalangan apatis, marxis, sampai feminis terhadap produk-produk dakwah tersebut?
Kita bisa mengelompokkan berbagai level masyarakat berdasarkan tingkat wawasan & kecenderungan mereka terhadap dakwah. Sayangnya, ada yang luput dari klasifikasi tersebut. Di mana letak apatis berada? Yang betul-betul tidak peduli atau tidak sadar bahwa mereka tidak peduli, ternyata memang belum dipedulikan oleh dakwah.
Gue mengutarakan ini dengan ide yang masih melompong untuk mencari solusi, berangkat dari menjadi volunteer yang cukup prihatin. Beberapa ironi yang terjadi di lapangan misalnya; kajian yang dimasak dengan bagus tapi berakhir sepi, media-media dakwah yang juga kehabisan jumlah likes meski dengan follower ratusan, dan lain-lain.
Dengan beberapa keterbatasan dan stereotip selama ini, bagaimana sebetulnya kita bisa membangun ekosistem dan bersifat inklusif bagi siapapun tanpa meleburkan roma agama itu sendiri? Atau seharusnya memang tidak menjadi inklusif? Eksklusif atau inklusif, mana yang tepat?
Gue bener-bener merenungi apa yang udah gue lakuin selama ini, dan.. benar, adalah pekerjaan besar sepanjang hayat bagi lembaga dakwah terutama di ranah amanah gue sendiri, bagaimana cara membangun ekosistem kepercayaan bahkan di lingkungan apatis sekalipun. Barangkali jawaban dari kering kerontangnya program dan media dakwah sepanjang jalan ini berakar dari ekosistem yang masih layu di ranah objek. Mungkin kalau digali lebih dalam, bahkan ekosistem subjek hampir-hampir retak.
Gue yakin, kalau ekosistemnya udah ada, afiliasi yang sempurna antara ekosistem dalam ke luar lingkaran, produk dakwah apapun bakal laku dan anti garing.
Meski ekosistem itu sendiri harus dibangun dari produk fenomenal dengan kontrol berkelanjutan, produk ini setidaknya perlu membuat ikatan kebutuhan yang kuat antara khalayak dan lembaga itu sendiri. Dengan begitu interest dan kepercayaan publik bisa terbangun.
Menurut lu gimana?
Iya ya al, kebanyakan dari lembaga dakwah kita cuman berusaha untuk mengadakan kajian² yg dibungkus dengan begitu indah dan program² kebaikan lainnya tapi yg ikut ya itu² lagi, dia² lagi dan jarang menyentuh yg udah dijelasin diatas hehehe. Ini kekny pr bgt ya buat kita.
BalasHapusKalau ngebahas ekosistem dari aku pribadi sebagai calon guru wkwkwkk jadi keinget pengertiannya ekosistem, ekosistem = Hubungan saling ketergantungan antara mahluk hidup dengan lingkungannya, eh tapi gak akan ngebahas pelajaran kok hehehe, cuman emang bisa kita ibaratkan makhluk hidup adalah kita manusia dan lingkungan adalah tempat tinggal kita dan kalau lingkungan itu kita ibaratkan kampus mungkin bisa kebayang di benak kita tentang kondisi lingkungan kampus masing-masing, karena mungkin bisa aja tiap kampus punya lingkungan yg berbeda. Mungkin ini agak maksain nyambung ya wkwkwkk, jadi untuk membuat ekosistem tentu kita perlu menyiapkan lingkungan yg baik, lingkungan yg baik bisa terbentuk karena orang² yang memiliki tujuan yg sama dan berusaha untuk menggapai ridho-Nya. Mungkin mirip sama perjuangannya teh qoonit untuk membuat ekosistem yg peduli terhadap palestina dengan baikberisik nya yang dimana ngebuat banyak mata jadi berpikir dan mencoba untuk membuat produk serupa yaitu munashoroh mungkin ya bisa kita bilang gtu.
Mungkin bisa jadi dengan baikberisik ini banyak orang2 yg awalnya apatis menjadi peduli, ya aku kurang tau di lapangannya kek gimana cuman dari Podcast², postingan dll dari teh qoonit ini bnyk bgt yg menginspirasi orang2, bahkan kebanyakan temen kampus aku tau siapa teh qoonit dan apa yg diperjuangkan beliau, jadi pendekatan dakwahnya itu bisa menyentuh banyak orang. Emang kalau udah ngebahas yg ranahnya kemanusiaan, hmm hati manusia mana yg tidak terketuk, tidak menangis dan tidak iba kecuali ya....
Itu mungkin dari ke sotoy an aku, aku kurang bisa menjawab karena emng gk memumpuni tapi kalau dari pendapat aku kita bisa bikin suatu ekosistem dengan membuat lingkungan yg baik bersama orang² yg memiliki tujuan yg sama dan kita punya fokus tujuan tertentu, kalau udah ada fokus tujuan kita bisa mengoptimalkan tujuan itu dengan membuat sesuatu yg berbeda dari yg pernah ada, karena biasanya yg berbeda yg bisa membuat banyak mata melihat. Semangat al semoga aliya dan teman² bisa membuat ekosistem yg bisa membuat daya tarik tersendiri dan selalu ada produk² yg dihasilkan yang bisa membuat banyak orang tertarik khususnya untuk kalangan yg apatis. Semangat 🔥🔥🔥
woww the best comment dengan sepanjang itu. ahh, i see buat penjelasan ekosistem secara ilmiahnya, berarti memang harus ada ketergantungan satu sama lain ya. setuju, teh qonit bener2 representasi empowering woman banget dah. baik berisik juga dateng dari perencanaan yang matang ya mi. makasih banyak doanya, semoga kita bisa terus evaluasi dan berinovasi ^^
Hapus