Halte Bus #BukanCerpen
"Hei, kita kayak sesuatu yang nggak selesai ya."
Aku menunduk dan sibuk menatap jari-jariku, mencoba rileks dengan menghindar dari memandanginya. Aku bisa kacau.Kekacauan yang sebetulnya sudah dimulai sejak beberapa hari yang lalu. Pesan masuk di suatu sore; singkat, padat, dan tidak jelas.
"Aku akan ke daerah kampusmu."
Kalimat yang sejak saat itu tidak pernah minggat secuilpun dari pikiran dan mimpi-mimpiku di malam hari, meski tidak kujawab. Dan kau memang tidak sedang meminta izin, kau menyisihkan ketidakjelasan pesan sore itu dengan panggilan Whatsapp siang tadi. Beberapa menit sebelum praktikum dimulai. Kerja bagus, sebab debaran dalam hati ini kian berpacu entah oleh dokter yang tiada henti mengkritik atau teleponmu yang berakhir pada pertemuan mendadak saat ini.
"Memangnya kita pernah mulai?"
Kau terkekeh masam, seolah itu hal yang amat kau sesali dan entah kau harus menyalahkan siapa.
"Kalau menurutku pernah gimana?"
"Kalau menurutmu pernah, kapan?"
"Mungkin 2 tahun lalu.. Ketika kita sama-sama tau perasaan masing-masing."
"Aku tidak pernah tau, aku hanya berusaha terus..." Kau menggantung kalimatmu pada angin. Membiarkan ia membawa lisanmu yang tertahan pada arah tidak pasti, sebab itu pula hidup dan bagaimana aku yang selama ini kau hadapi.
"Kalau begitu, pintu itu terbuka dengan tidak sengaja. Kita memulai dalam hati kita masing-masing. Dalam bentuk yang hanya kita yang tau, aku kepadamu, dan kau kepadaku. Aku hanya, ingin kita menyudahi saja apapun bentuk yang kita percayai itu."
Kau diam sejenak, mengerutkan keningmu dalam gamang, lalu menunduk. Kau menyerah pada kata-kataku. Atau pada harapanmu sendiri.
"Baiklah." Kau mengangkat kembali wajahmu dan menatapku, berusaha amat yakin dengan satu jawabanmu tadi.
Secepat itu kau menjawab permintaanku, secepat itu pula keyakinanku goyah. Aku buru-buru mengalihkan pandanganku. Setengah mati menghindarinya dan kini tatapan itu kembali menghujam. Aku sendiri yang meminta dan aku sendiri yang merasa kalah.
"Maksudku, agar tidak perlu ada yang disesali jika masa depan tidak memberi kita ruang bersama karena kita sudah selesai dengan harapan itu. Dan jika sebaliknya yang terjadi, maka itu adalah benar-benar lembaran baru dalam hidup kita yang perlu disyukuri." Kalimat panjang yang diucapkan terutama untuk diriku sendiri, bukan kau. Tetapi kau menunduk, amat dalam.
Aku mengarahkan pandanganku ke depan, lalu lintas jalan raya tampak padat dan sibuk. Klakson bersahutan, pejalan kaki berusaha menyebrangi jalan menuju trotoar yang aman, di sekitar kami banyak mahasiswa menunggu jemputan dan transportasi umum. Aku mencoba mendistraksi pikiranku, dari dirimu yang terpekur dalam diam. Dari kegoyahan terhadap kata-kata yang sebetulnya ditujukan untuk diriku sendiri. Mencoba mendistraksi animoku dari keinginan mengangkat wajah dan memelukmu kali itu juga.
Halte bus menjadi sehening lautan, kau masih asyik dalam diammu. Kau menggantungku. Setelah bertahun-tahun aku tega menarik dan merenggangkan tali denganmu, diammu yang hanya sebentar sudah amat merisaukanku.
Yang kau lakukan sudah tepat. Tenanglah. Berkali-kali aku ucapkan dalam hati. Dia Maha Tahu apa yang terbaik.
"Hei jangan diam.. aku bingung."
Kau bangkit dari diammu menjadi tersungging kecil. lalu menghela napas panjang. Menangkupkan kedua tanganmu di pangkuan.
"Kalau itu yang kau mau, yasudah."
"Ada apa? Kau ingin yang bagaimana?"
"Kalau masa depan itu bisa diawali sekarang, kamu mau?"
"Memangnya kita pernah mulai?"
Kau terkekeh masam, seolah itu hal yang amat kau sesali dan entah kau harus menyalahkan siapa.
"Kalau menurutku pernah gimana?"
"Kalau menurutmu pernah, kapan?"
"Mungkin 2 tahun lalu.. Ketika kita sama-sama tau perasaan masing-masing."
"Aku tidak pernah tau, aku hanya berusaha terus..." Kau menggantung kalimatmu pada angin. Membiarkan ia membawa lisanmu yang tertahan pada arah tidak pasti, sebab itu pula hidup dan bagaimana aku yang selama ini kau hadapi.
"Kalau begitu, pintu itu terbuka dengan tidak sengaja. Kita memulai dalam hati kita masing-masing. Dalam bentuk yang hanya kita yang tau, aku kepadamu, dan kau kepadaku. Aku hanya, ingin kita menyudahi saja apapun bentuk yang kita percayai itu."
Kau diam sejenak, mengerutkan keningmu dalam gamang, lalu menunduk. Kau menyerah pada kata-kataku. Atau pada harapanmu sendiri.
"Baiklah." Kau mengangkat kembali wajahmu dan menatapku, berusaha amat yakin dengan satu jawabanmu tadi.
Secepat itu kau menjawab permintaanku, secepat itu pula keyakinanku goyah. Aku buru-buru mengalihkan pandanganku. Setengah mati menghindarinya dan kini tatapan itu kembali menghujam. Aku sendiri yang meminta dan aku sendiri yang merasa kalah.
"Maksudku, agar tidak perlu ada yang disesali jika masa depan tidak memberi kita ruang bersama karena kita sudah selesai dengan harapan itu. Dan jika sebaliknya yang terjadi, maka itu adalah benar-benar lembaran baru dalam hidup kita yang perlu disyukuri." Kalimat panjang yang diucapkan terutama untuk diriku sendiri, bukan kau. Tetapi kau menunduk, amat dalam.
Aku mengarahkan pandanganku ke depan, lalu lintas jalan raya tampak padat dan sibuk. Klakson bersahutan, pejalan kaki berusaha menyebrangi jalan menuju trotoar yang aman, di sekitar kami banyak mahasiswa menunggu jemputan dan transportasi umum. Aku mencoba mendistraksi pikiranku, dari dirimu yang terpekur dalam diam. Dari kegoyahan terhadap kata-kata yang sebetulnya ditujukan untuk diriku sendiri. Mencoba mendistraksi animoku dari keinginan mengangkat wajah dan memelukmu kali itu juga.
Halte bus menjadi sehening lautan, kau masih asyik dalam diammu. Kau menggantungku. Setelah bertahun-tahun aku tega menarik dan merenggangkan tali denganmu, diammu yang hanya sebentar sudah amat merisaukanku.
Yang kau lakukan sudah tepat. Tenanglah. Berkali-kali aku ucapkan dalam hati. Dia Maha Tahu apa yang terbaik.
"Hei jangan diam.. aku bingung."
Kau bangkit dari diammu menjadi tersungging kecil. lalu menghela napas panjang. Menangkupkan kedua tanganmu di pangkuan.
"Kalau itu yang kau mau, yasudah."
"Ada apa? Kau ingin yang bagaimana?"
"Kalau masa depan itu bisa diawali sekarang, kamu mau?"
Dahsyat sekali, kalimat purna itu. Aku bergeming hebat. Kau? Sedang? Melamarku? Di halte bus?
Aku seperti kehilangan akal. Banyak sekali bisikan-bisikan di kepalaku sampai jengah. Aku tidak murni senang, aku betul-betul terperanjat.
"Kaget ya?"
Aku terkekeh gugup. Pakai nanya. Kau benar-benar sialan.
"Kenapa baru bilang setelah aku ngoceh panjang lebar..."
Kau tertawa. Kali ini benar-benar tulus dan tampak puas. Kurang ajar.
"Entahlah." Kini kau tersenyum sembari mengendikkan bahu. "Tapi berkat itu aku justru makin yakin soal perasaan kamu." Kau menjeda lagi perkataanmu,
"Jadi selama ini aku gak berjuang sendiri ya. Walaupun tetap menyedihkan sih." Ucapan pungkas yang terlontar seiring dengan tatapan menyindir tertuju padaku.
"Kamu nggak tau aja berjuang versi aku bagaimana."
Aku menggerutu kecil, memandangi rok hitam plisket yang terkena banyak noda-noda gips bahan praktikum tadi siang. Ya Tuhan, bagaimana bisa aku bertemu dia dengan pakaian seperti ini.
"Jadi gimana? Aku mau berkunjung ke ayah dan ibu kalau kamu setuju."
Sudah berhasil mengalihkan topik, kau membuatku bergeming kembali. Lama sekali sampai aku lupa kau masih menunggu jawabanku.
"Kamu lucu sekali sih. Yasudah nanti aku datang ya. Sekarang aku izin pamit dulu." Kau tertawa kecil dalam ucapan putusanmu secara sepihak terhadap jawaban nihilku.
"Kok?" Sedikit bersyukur bisa menghindar sejenak dari todongan pertanyaan yang mengacaukan pikiranku, sayangnya lebih banyak enggan dengan kepergianmu yang terlalu cepat.
"Nggak baik diliatin teman kamu terus tuh. Galak betul matanya, takut kamu diculik."
Kau terkekeh dalam spekulasi ngacomu itu. "Yasudah aku pamit ya, sehat-sehat."
Bus berhenti di depan halte yang kami duduki. Bus tujuanmu, baru kali ini aku berharap bus tidak datang atau setidaknya terlambat saja. Tetapi kau telah bangkit dari dudukmu, berlalu menjauh dari diriku yang masih kalap termangu.
Aku seperti kehilangan akal. Banyak sekali bisikan-bisikan di kepalaku sampai jengah. Aku tidak murni senang, aku betul-betul terperanjat.
"Kaget ya?"
Aku terkekeh gugup. Pakai nanya. Kau benar-benar sialan.
"Kenapa baru bilang setelah aku ngoceh panjang lebar..."
Kau tertawa. Kali ini benar-benar tulus dan tampak puas. Kurang ajar.
"Entahlah." Kini kau tersenyum sembari mengendikkan bahu. "Tapi berkat itu aku justru makin yakin soal perasaan kamu." Kau menjeda lagi perkataanmu,
"Jadi selama ini aku gak berjuang sendiri ya. Walaupun tetap menyedihkan sih." Ucapan pungkas yang terlontar seiring dengan tatapan menyindir tertuju padaku.
"Kamu nggak tau aja berjuang versi aku bagaimana."
Aku menggerutu kecil, memandangi rok hitam plisket yang terkena banyak noda-noda gips bahan praktikum tadi siang. Ya Tuhan, bagaimana bisa aku bertemu dia dengan pakaian seperti ini.
"Jadi gimana? Aku mau berkunjung ke ayah dan ibu kalau kamu setuju."
Sudah berhasil mengalihkan topik, kau membuatku bergeming kembali. Lama sekali sampai aku lupa kau masih menunggu jawabanku.
"Kamu lucu sekali sih. Yasudah nanti aku datang ya. Sekarang aku izin pamit dulu." Kau tertawa kecil dalam ucapan putusanmu secara sepihak terhadap jawaban nihilku.
"Kok?" Sedikit bersyukur bisa menghindar sejenak dari todongan pertanyaan yang mengacaukan pikiranku, sayangnya lebih banyak enggan dengan kepergianmu yang terlalu cepat.
"Nggak baik diliatin teman kamu terus tuh. Galak betul matanya, takut kamu diculik."
Kau terkekeh dalam spekulasi ngacomu itu. "Yasudah aku pamit ya, sehat-sehat."
Bus berhenti di depan halte yang kami duduki. Bus tujuanmu, baru kali ini aku berharap bus tidak datang atau setidaknya terlambat saja. Tetapi kau telah bangkit dari dudukmu, berlalu menjauh dari diriku yang masih kalap termangu.
Komentar
Posting Komentar