Meregang
Hidup melelahkan sekali ya?
Akhir-akhir ini bahkan bernafas saja menurutku menambah beban pikiran. Bagaimana aku harus mengurus banyak hal dengan hanya 2 tangan dan jiwa yang telah terburai? Bagaimana aku harus melanjutkan hidup di atas kaki yang tertatih setelah terjerembab dalam kubangan? Bagaimana aku harus mempertanggung jawabkan diriku yang kacau balau ini di hadapan Tuhan? Apakah Tuhan akan menerimaku?
Sudah tidak ada lagi gairah dalam diri ini. Bahwa rasanya ide tentang betapa kematian akan menyudahi kesulitan lebih disenangi oleh pikiran daripada kehidupan yang membanting tulang-tulang pertahananku saban hari. Bahwa kepedulian manusia hanya akan tumbuh ketika aku mati, aku sangat meyakini itu.
Jika kemarin aku lahir sendiri, akan mati sendiri, mengapa saat hidup harus begini sendiri jua? Apakah bau dosaku menyingkirkan semua manusia dari peredaranku? Apakah aku belum cukup menderita dalam sunyi sejak dulu? Apakah hanya sepi yang benar-benar sudi jadi kawanku sampai akhir hayat? Biarlah.
Sudah berapa kali kau menangis hari ini dan kemarin?
Jika mesti aku menunggu waktu, aku sudah tidak kuat. Pertahananku sudah di ujung tombaknya. Dadaku sesak. Tidurku sedikitpun tidak pernah nyenyak. Tapi setidaknya aku bisa tidur, haha. Pasti akan ada yang menyangkal begitu. Makanku terjaga, tapi aku seperti setengah manusia. Aku tidak mengerti mengapa aku masih bisa melanjutkan hidupku dengan baik, tetapi di sisi lain di dalam relung itu, aku benar-benar terpuruk. Segalanya aku lakukan dan telan sendiri. Selain itu, hanya Tuhan dan kamar 3x3-ku yang tau.
Aku harap kesengsaraan ini segera berakhir, entah dalam bentuk takdir yang mana. Suatu waktu jika masih diberi hidup dan kewarasan, barangkali tulisan ini hanya akan jadi satu dari sekian memoriam kelam hidupku, tetapi jika sebaliknya, aku tidak bisa menebak apa jadinya.
Aku selalu ingin memberikan nilai dalam tulisan-tulisanku. Meski dalam kehancuran jiwa penulisnya, entah bagaimana nilai itu akan bisa tersampaikan? Aku tidak tau, aku hanya tidak ingin yang membaca mengalami prahara yang sama denganku.
Pilihannya hanya dua; berkawanlah dengan yang selalu ada, atau kuatkan dirimu sendiri.
Komentar
Posting Komentar