Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2022

Sandiwara

Oh, halo? Rupanya aku masih terbangun hari ini. Tanpa gairah. Terlalu banyak sakit dan keraguan. Sepertinya kelopak mataku berat, lipatan-lipatannya tidak kunjung hilang. Sebab belum sembuh satu sudah muncul yang lain-lain. Aku bubuhi ukiran cantik di rambut-rambut halus yang sering mengerut, harap-harap membantu menyamarkan.  Aku mencoba tersenyum di depan cermin yang selalu berbohong, namun senyumku juga pura-pura. Kita impas. Lalu, apakah hidup yang tanpa harapan masih bisa disebut hidup? Tidak masalah apabila jawabannya tidak, jangan hibur seseorang dengan membohonginya.  Dan hari ini, di hari ragaku kembali diberi hidup, lagi-lagi aku salah. Sudah mencoba, kalah lagi. Kupikir dengan terangkatnya satu beban, jiwaku sembuh. Namun rupanya dia bukan hanya terlalu banyak beban, tapi sudah terkoyak-koyak sehingga tidak dapat dipikulnya lagi harapan. Asa itu tidak membuatnya hidup, hanya menambah sesak dan rapuh. Kata-kata baik berubah menjadi belati yang menusuk. Sindiran dan c...

Ambang Pintu

Dalam titik di antara kewarasan dan kegilaan, tawaran soal lawan dari kehidupan masih terasa manis di pikiran. Aku masih sadar bahwa menjemputnya dengan sengaja bukan sesuatu yang benar, aku sudah benci diriku sendiri dan aku tidak mau Tuhan juga membenciku. Hanya atas tangan Tuhan diriku masih sudi bergerak dan bisa menyelesaikan sesuatu, meski tertatih.  Yang bisa aku simpulkan saat ini adalah, setidaknya jika pintu kebahagiaan dan keberhasilan dalam hidup duniawi terasa amat jauh dan mustahil, aku harus selalu mengusahakan bahwa pintu surga dekat denganku.  Aku harus mengingatnya dengan baik, kapanpun itu, baik saat terpuruk atau hanya tersandung.  Tidak bisakah dua-duanya aku percaya? Jawabannya adalah, saat ini tidak. Belum.. Sampai aku bisa benar-benar mencintai diriku dan apa yang ia lakukan sekarang dan di masa depan. Cinta itu tidak bisa dipaksakan, bukan? Tapi bahkan untuk berdoa meminta Tuhan memberikan rasa cinta itu, aku tetap sungkan. Sebab telah sejauh itu ...

lost

 Aku... nggak tau harus memulai halaman ini dengan apa. Aku takut.  Akhir-akhir ini, aku benar-benar takut. Aku menulis ini sambil berlinang muram.  Meski mendengar tawa keluargaku di ruangan lain, tidak ada yang berkurang dari kegamanganku.  Dalam 1-2 tahun ke belakang, aku gak pernah berani membayangkan diriku ada di posisi saat ini. Hanya karena aku yakin aku tidak akan melanjutkannya. Aku tidak akan sampai di sini. Atau, aku tidak perlu khawatir karena penderitaanku pasti akan selesai ketika aku mencapai titik ini. Nyatanya, tidak sama sekali. Kini aku betul-betul dihadapkan pada keputusan final, apakah akan melanjutkan atau berhenti? Tidak ada setengah-setengah dalam keduanya. Tidak boleh ada penyesalan di masa depan, sebagaimana yang aku pendam setengah mati beberapa tahun ini. Aku harus memutuskan. Tapi apa belum jelas bagiku bagaimana orang2 terdekat jelas akan menentang itu? Aku tidak dalam keadaan yang baik dari segi apapun. Rasanya, memilih apapun juga tet...