Sandiwara
Oh, halo? Rupanya aku masih terbangun hari ini. Tanpa gairah. Terlalu banyak sakit dan keraguan. Sepertinya kelopak mataku berat, lipatan-lipatannya tidak kunjung hilang. Sebab belum sembuh satu sudah muncul yang lain-lain. Aku bubuhi ukiran cantik di rambut-rambut halus yang sering mengerut, harap-harap membantu menyamarkan. Aku mencoba tersenyum di depan cermin yang selalu berbohong, namun senyumku juga pura-pura. Kita impas. Lalu, apakah hidup yang tanpa harapan masih bisa disebut hidup? Tidak masalah apabila jawabannya tidak, jangan hibur seseorang dengan membohonginya. Dan hari ini, di hari ragaku kembali diberi hidup, lagi-lagi aku salah. Sudah mencoba, kalah lagi. Kupikir dengan terangkatnya satu beban, jiwaku sembuh. Namun rupanya dia bukan hanya terlalu banyak beban, tapi sudah terkoyak-koyak sehingga tidak dapat dipikulnya lagi harapan. Asa itu tidak membuatnya hidup, hanya menambah sesak dan rapuh. Kata-kata baik berubah menjadi belati yang menusuk. Sindiran dan c...