Ambang Pintu

Dalam titik di antara kewarasan dan kegilaan, tawaran soal lawan dari kehidupan masih terasa manis di pikiran. Aku masih sadar bahwa menjemputnya dengan sengaja bukan sesuatu yang benar, aku sudah benci diriku sendiri dan aku tidak mau Tuhan juga membenciku. Hanya atas tangan Tuhan diriku masih sudi bergerak dan bisa menyelesaikan sesuatu, meski tertatih. 

Yang bisa aku simpulkan saat ini adalah, setidaknya jika pintu kebahagiaan dan keberhasilan dalam hidup duniawi terasa amat jauh dan mustahil, aku harus selalu mengusahakan bahwa pintu surga dekat denganku.

 Aku harus mengingatnya dengan baik, kapanpun itu, baik saat terpuruk atau hanya tersandung. 

Tidak bisakah dua-duanya aku percaya? Jawabannya adalah, saat ini tidak. Belum.. Sampai aku bisa benar-benar mencintai diriku dan apa yang ia lakukan sekarang dan di masa depan.

Cinta itu tidak bisa dipaksakan, bukan?

Tapi bahkan untuk berdoa meminta Tuhan memberikan rasa cinta itu, aku tetap sungkan. Sebab telah sejauh itu kesukaranku. 

Aku mencoba membangun cinta. Telah kulempar jala beribu kali dalam ekspektasi yang ditekan kuat-kuat, aku berupaya dan menanti, bukan satu dua hari. Jala itu tetap kosong, sampah-sampah tersangkut dan tiada didapatnya animo secuilpun. 

Begitulah, cinta yang tidak dibangun dua arah hanya akan melukai salah seorang pejuangnya. Aku kira aku telah melakukan suatu hal, nyatanya lagi-lagi aku kembali dengan tangan hampa dan hati yang bertambah sayatannya tiap kali umpanku sia-sia. Apakah laut telah mati atau barangkali aku memang tidak becus mengusahakannya?

Aku tidak tau kapan ini berakhir, membayangkan seumur hidup bersama seseorang yang tidak kau kehendaki pun rasanya sulit.. seperti hidup bersama pisau yang tertancap ke dalam jantung. Sakit, tetapi apabila kau ambil, darah akan bercucuran lebih deras, dan kematian menjadi lebih dekat dari urat leher sendiri.

Atau, mau tidak mau pisau itu harus diambil untuk bisa diobati, dengan syarat menerima risiko apapun yang terjadi setelahnya? Barangkali bukan mati, barangkali hidup baru menanti...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah Berapa Lama?

RESENSI NOVEL PULANG LEILA S. CHUDORI