Sandiwara

Oh, halo?

Rupanya aku masih terbangun hari ini. Tanpa gairah. Terlalu banyak sakit dan keraguan. Sepertinya kelopak mataku berat, lipatan-lipatannya tidak kunjung hilang. Sebab belum sembuh satu sudah muncul yang lain-lain. Aku bubuhi ukiran cantik di rambut-rambut halus yang sering mengerut, harap-harap membantu menyamarkan. 

Aku mencoba tersenyum di depan cermin yang selalu berbohong, namun senyumku juga pura-pura. Kita impas.

Lalu, apakah hidup yang tanpa harapan masih bisa disebut hidup? Tidak masalah apabila jawabannya tidak, jangan hibur seseorang dengan membohonginya. 

Dan hari ini, di hari ragaku kembali diberi hidup, lagi-lagi aku salah. Sudah mencoba, kalah lagi.

Kupikir dengan terangkatnya satu beban, jiwaku sembuh. Namun rupanya dia bukan hanya terlalu banyak beban, tapi sudah terkoyak-koyak sehingga tidak dapat dipikulnya lagi harapan. Asa itu tidak membuatnya hidup, hanya menambah sesak dan rapuh. Kata-kata baik berubah menjadi belati yang menusuk. Sindiran dan cercaan memantik kobaran api di dalamnya.

Kupikir aku juga terlalu berlebihan. Seperti kata seseorang, "Kau terlalu jahat dengan dirimu sendiri."

Tidak seburuk itu, kan?

Tapi memang buruk, lebih buruk dari masa-masa sebelumnya. Setidaknya untuk ini aku tidak salah.

Seorang anak kecil menanyaiku, betapa lugunya ia, betapa aku ingin melindunginya dengan segenap hati, tapi bahkan untuk diri sendiri begitu kalut. 

"Kenapa ada tattoo di tanganmu?"

Bagus juga, menggambar tattoo di tangan baru terasa sangat seru sekarang. Kuharap tidak lebih daripada teraan tinta-tinta pulpen yang menganggur. 

"Kenapa? Apa kamu salah?"

Tuhan, mengapa anak kecil begitu pintar? Dia bahkan lebih peka dari siapapun dan aku jadi takut.

Di depannya tidak boleh ada air mata yang meleleh, tidak terbayangkan bagaimana dia akan tumbuh melihat seorang dewasa yang hidupnya timbul tenggelam tanpa gairah. Maka aku hanya tersenyum dan terkekeh. 

"Nanti kita main ya kalau udah selesai." Bisiknya di telinga kanan. Terlalu sulit untuk ditolak dan diabaikan, dia tulus dalam binar dan tuturnya, aku mengangguk. 

Aku menatap layar kembali dengan nanar, menunggu seseorang di hadapan berbicara sampai selesai, menyindirku dengan telak sebab aku salah dan mereka selalu benar. Sayangnya hidupkuhidup yang kehilangan gairah itutetap saja berlanjut sebagaimana biasa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah Berapa Lama?

RESENSI NOVEL PULANG LEILA S. CHUDORI