Signatura

Kalau dalam resep obat terdapat aturan pakai, aturan konsumsi, disebut signatura, berisi waktu dan frekuensi serta lewat mana obat itu dimasukkan, maka menangis pun memiliki signatura-nya sendiri.

Hari ini aku sedikit, lumayan, berhasil mengendalikan diri. Hari ini hari ke 10 Ramadhan. Ramadhan, proyek menuai banyak-banyak pahala dan ampunan, sekaligus aku untuk berlatih menahan & menghibur diri dengan siraman kebaikan yang disediakan Tuhan alih-alih mulai melukai dan memaki diri dengan segala cara yang kupunya. 

Al-Quran adalah obat. Al-Quran adalah obat. Assyifaa, salah satu nama yang disematkan padanya bukan semata-mata nama, namun sebuah tujuan, sebuah jiwa, sebuah penenang & solusi, ramuan yang Tuhan sendiri buatkan untuk para pengabdi-Nya yang pesakitan oleh dunia. 

Dan hari ini aku telah memilihnya, daripada benda-benda tajam lain yang tersedia di atas meja. Aku telah memilihnya. Aku telah mengendalikan diri dalam aliran air mata yang membahana. Meski kalimat-kalimat baik yang aku dengarkan bersitegang hebat dengan alegori jahatku sendiri, dan berkali-kali aku kalap, aku tetap mengakhirinya dengan baik. 

Aku hari ini menang dari diriku sendiri. Aku menyayanginya lebih dari apapun sebab dengan itu aku beriman pada Tuhan, namun kerapuhan jiwanya adalah pekerjaan besarku, yang selalu aku mohonkan pada Tuhan yang sebenar-benarnya memiliki. Dia Maha Menolong, bukan?

Maka tangisan hari ini tidak berujung pada suntuk dan suramnya jiwa, terkulainya tubuh, dan tiada henti memaki diri sendiri.

Setidaknya kudapat waktu dalam signatura tangis itu, adalah sebelum dan atau sesudah "kelas".

Ada saat di mana aku betul-betul cemas dan khawatir, menangis sejadinya, kemudian kelas itu tiba-tiba terlewati. 

Allah, mudahkanlah dunia ini untukku... Entah bagaimana lagi aku harus memohon, bahwa ibadahku tiada sedikitpun ingin berhenti dan berkurang, namun dunia sungguh memberatkan dan menghancurkan segala sisi dari diriku.. Berilah aku dunia yang di mana aku bisa beramal tanpa lalai dan beribadah sebaik-baiknya pada-Mu, sungguh sangat kuyakini bahwa tubuh ini, jiwa ini akan kembali pada-Mu.. Engkau yang Abadi, surga yang abadi adalah sebenar-benarnya tujuan..

Kemudian Ia betul-betul mudahkan lewat skenario-Nya... yang tidak terduga.

Saat yang lain ketika aku mencoba yakin dan mempersiapkan diri, dijatuhkannya aku dalam segala usaha aku mencoba. Salah lagi, kurang lagi, tidak dianggap. Tidak dihargai. Kelas itu, tidak lain terasa seperti penghukuman.

Maka tangisan itu keluar sejadi-jadinya. 

Kalau bukan sebelum, maka waspada pada setelahnya. 

Betapa rapuh diri ini, lagi-lagi..

Anugerahkanlah kecintaan yang besar, yang datang dari Dzat-Mu pada pilihan hidup yang kini sedang dijalani, bahwa ridha-Mu dan orangtuaku adalah sebenar-benarnya alasan dan tujuan.. Limpahkanlah kecintaan atas nama-Mu, agar tidak sedikitpun apa yang aku hadapi ini, hidupku ini justru melalaikanku dari mengingat-Mu, melainkan terus membuatku merasa diawasi, dicintai, didukung untuk beramal sebaik mungkin untuk-Mu.. lagi-lagi Allah-ku, semua ini untuk-Mu..



- akan diperbarui -


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah Berapa Lama?

RESENSI NOVEL PULANG LEILA S. CHUDORI