Menulis itu luka | Kilas Cerpen

“Menulis itu luka.” Dia menanggapi dengan singkat ucapanku dengan menunduk. Cangkir berisi kopi di hadapan yang tampak sudah mendingin membuat tangannya menggapai gagangnya lalu menyesapnya pelan.

Aku menghela napas sejenak. Mataku menatap kembali lembaran kertas yang masih kupegang dengan sayu, telah berhari-hari aku merangkai cerita yang kusiapkan untuk kolom redaksi bagianku, hanya untuk mendapatkan tanggapan yang jauh dari kata baik. Siang itu juga, dia mengajakku untuk menepi di cafe dekat kantor. Menyegarkan pikiran, katanya.

“Kenapa luka? Bisa juga pelampiasan.” Sanggahku bukan tidak setuju, hanya ingin lebih banyak dengar pendapatnya. Mendengarnya berbicara tidak pernah membosankan. Selalu ada hal menarik dari perkataannya.

“Luka kalau menulis buat orang lain. Nulis buat diri sendiri, dan cari kepuasan sendiri mungkin jalan paling baik.” Selorohnya setelah kembali meletakkan cangkir ke piringnya, kini menatap manik mataku dengan lembut.

Aku mengangguk-angguk dalam.

“Bahkan jika urusan profesional. Kalau tujuannya mau cari kepuasan diri sendiri, kata-kata orang lain jadi nggak betul-betul memengaruhi kita. Mungkin cukup terima bagian pentingnya aja.”

Ada betulnya, hanya masih sulit untuk sepenuhnya memahami, aku masih terlalu terbawa suasana tadi.

“Kadang jadi ngerasa nggak berharga, padahal tulisan gue yang dikritik, bukan diri sendiri.”

“Ngerasa enggak berharga karena suatu kondisi itu wajar kok, tapi jangan lama-lama, entar esnya cair tuh.”

Beda dengan dia yang memesan minuman panas, kupikir es vanilla latte lebih tepat mengurangi runyam pikiranku saat ini. Aku sedikit tersenyum miring dengan sindiran halusnya. Lantas kuteguk minumanku sampai setengah gelas, hingga tiba-tiba terbersit suatu pertanyaan.

Aku menengadah, menatap matanya yang kini kebingungan.

“Apa?” Dia heran dengan perubahan cepat pada mimik wajahku.

“Eh tapi, kata lo kan menulis itu luka kalau buat orang lain..”

Dia mengangguk, dan masih menanti kalimatku selanjutnya.

“Kalau.. orang lainnya udah nggak ada gimana?”

Kali ini dia bergeming, sejenak. Dia sempat menghela napas sebelum memberi tanggapan dari pertanyaanku. Seolah, ini sesuatu yang cukup berat.

“Menurutku, asal bisa bikin kita lebih lega, malah jadi hal yang bagus. Meskipun kelihatannya untuk orang lain, sebetulnya kita nulis itu untuk kepuasan diri sendiri kan? Toh orang yang kita tuju nggak akan pernah bisa baca tulisan kita. Gitu nggak sih?”

Aku manggut-manggut setuju.

“Kita yang butuh tulisan itu ya justru?”

“Nah, tepat, anak muda.”

“Gue bukan anak muda.”

“Anak tua mana yang senewen sama bosnya?”

Aku mendengus kesal. “Kata lo wajar...”

“Hahaha bercanda mbak.” Pungkasmu sambil terkekeh ringan. Panggilan “mbak” lagi, khas dengan nuansa medhok-nya ketika mengucapkan itu. Dia mengecek gawainya beberapa saat, lalu segera menyesap habis kopi miliknya.

“Udah mau balik?” aku mengernyit melihat dirinya cepat menghabiskan minuman dan tampak membereskan barang-barang di meja.

“Bos manggil katanya, ada yang penting. Lo juga nggak ngantor? Udah mau jam 1.”

“Astagaa, iya ya gue kan masih harus ngantor.”

“Lo bukan dipecat, Re.”

“Ya maaf..” Setelah gesit meneguk habis minumanku dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal di meja, aku berlari menyusul dia yang sudah terlebih dahulu melangkah keluar cafe. Anti tunggu menunggu ketika buru-buru, prinsipnya.

//

Dan ketika seseorang terburu-buru, dia menjadi tidak waspada dengan sekitarnya.

Kejadian berlalu sekelebat ketika aku baru saja mendapatkan kesadaran penuh terhadap jalan di depan cafe yang akan aku sebrangi. Orang-orang sudah ramai berkerumun di satu titik, sementara batang hidung temanku entah di mana.

Apa yang terjadi?

“Re!” Sebuah suara keras memanggilku dari arah samping.

“Lama banget, ayo!” Itu dia, entah mengapa aku menghela napas cukup panjang, lega. Dia aneh sekali, tiba-tiba datang dari arah lain. Dan yang lebih aneh, dia nungguin gue?

“Itu di depan kenapa?”

“Oh, nggak apa-apa. Barusan ada orang lagi nyebrang tiba-tiba pingsan, untung mobil depan gesit langsung ngerem. Yah dia nyebrang pas lampu kuning juga sih.” 

Aku yang berusaha menyamai langkah dia menuju kantor, manggut-manggut meski sejujurnya cukup bergidik ngeri. Itu kalau ada yang teledor dikit, nyawa bisa melayang.

"Mungkin udah pusing, jadi buru-buru, nggak sempet mastiin lampu udah ijo atau belum. Beruntung tuh mobil nggak asal kebut aja ya." tanggapku sembari mempercepat langkah. Demi Tuhan, dia jalan secepat kilat. 

“Lo kalau nyebrang hati-hati ya. Minum dulu deh, biar nggak meleng.” Terlampau terbawa suasana, aku tiba-tiba mengatakan itu tanpa berpikir dua kali. Tidak ada yang salah, hanya terlalu tidak biasa. Tidak ada yang salah, hanya momennya cukup membingungkan. 

Dia berhenti, menolehkan kepalanya dan menatapku bingung. Tentu saja, dari bagian bumi mana aku mendadak dapat ide untuk mengatakan itu? Dan, untuk apa?

Dia akhirnya terkekeh kecil sembari menggelengkan kepala. 

“Lo yang harus banyak minum biar fokus revisian. Semoga lancar, Re.” Tentu saja, lebih tepat untukku mengkhawatirkan diri sendiri saat ini. 

Kebetulan kita sudah sampai di kantor, dan kembali ke ruangan dengan urusan masing-masing. Begitu menyelesaikan kalimatnya, dia lekas menuju ruangan lain dan menghilang dari pandanganku. Bahkan dalam pikiran sendiri, ucapanku tadi lebih serupa angin lalu karena sekarang pun aku sudah harus berhadapan dengan revisi tulisan yang ditargetkan oleh atasan selesai sebelum jam pulang kantor sore ini. Aku tidak mau berakhir dikritik lagi hari ini. Ayolah. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah Berapa Lama?

RESENSI NOVEL PULANG LEILA S. CHUDORI