Mimpi-Mimpi yang Gelisah | Sebuah Lembar Evaluasi
Seumur-umur dalam hidup, saya melihat orang tua saya benar-benar bahagia murni karena 'saya' itu hanya dua kali. Pertama, saat saya wisuda SMA dengan hafalan Quran, dan saat saya jadi mahasiswa kedokteran (gigi). Saya masih ingat benar bagaimana mimik mereka ketika mendapati saya diterima sebagai mahasiswa kedokteran gigi, dan bagaimana lisan-lisan itu lancar dan bangga memberitahukannya ke segala penjuru. Aura kebahagiaan mereka jelas terpancar dan sialnya menusuk-nusuk sanubari sendiri, mengingat luntang lantungnya saya di perkuliahan hingga sekarang. Karena di sini, saya betul merasakan titik balik dari hidup saya 180 derajat. Saya kira saya berada di atas awan, nyatanya saya lupa tentang langit dan gemintang. Saya kira saya yang terbaik, dan stigma itu dihempas begitu saja dengan takdir di hadapan saya yang menukik tajam. Setiap nafas yang saya jalani kini lebih terasa berat, dan bayang-bayang wajah mereka selalu memenuhi dimensi pikiran saya. Ada emosi yang bercampur r...