Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2019

Mimpi-Mimpi yang Gelisah | Sebuah Lembar Evaluasi

Seumur-umur dalam hidup, saya melihat orang tua saya benar-benar bahagia murni karena 'saya' itu hanya dua kali. Pertama, saat saya wisuda SMA dengan hafalan Quran, dan saat saya jadi mahasiswa kedokteran (gigi). Saya masih ingat benar bagaimana mimik mereka ketika mendapati saya diterima sebagai mahasiswa kedokteran gigi, dan bagaimana lisan-lisan itu lancar dan bangga memberitahukannya ke segala penjuru. Aura kebahagiaan mereka jelas terpancar dan sialnya menusuk-nusuk sanubari sendiri, mengingat luntang lantungnya saya di perkuliahan hingga sekarang. Karena di sini, saya betul merasakan titik balik dari hidup saya 180 derajat. Saya kira saya berada di atas awan, nyatanya saya lupa tentang langit dan gemintang. Saya kira saya yang terbaik, dan stigma itu dihempas begitu saja dengan takdir di hadapan saya yang menukik tajam. Setiap nafas yang saya jalani kini lebih terasa berat, dan bayang-bayang wajah mereka selalu memenuhi dimensi pikiran saya. Ada emosi yang bercampur r...

"Rindu"

Atas perasaan yang hendak disuarakan, untuk kakak sepupu saya --- Pada pagi yang temaram, aku tertatih membawa langkah Melawan angin yang tersedu Hendak membersihkan puing-puing hujan semalam, berantakan Tangan ini menggapai-gapai, rindu yang disebar hujan dan kelam yang diantar gemuruh Sebab dia lelah, rindu-rindu itu menyesakkan awan, dan menjelma embun-embun pagi yang dingin menusuk aku terpuruk, dan rindu kian menumpuk menggantung pada langkah-langkah; melangitkan rapal dari hati yang lemah pada siapa hendak dirindu ? sedang rasamu masih tuli padaku pada siapa gerangan merindu ? jika hanya angin yang mendengar, dan burung enggan menyampaikan kemana harus rindu berucap? jika bisu adalah suaranya dan tuli, adalah dengarmu seumpama pagi yang mengusir malam, dan kemarau yang membekukan hujan rinduku masih mengembun di atas dedaunan, menanti sang kupu-kupu itu datang -Aliyya Rifqunnisa

"Menghargai" | Tragedi 15 Maret Chirstchurch, Selandia Baru

Agaknya masih hangat, tragedi penembakan masal di dua masjid Christchurch dan insan-insan Tuhan yang mulia itu. Demi Allah, ketika mendengar warta itu sampai di telinga, palung hati seperti berdarah, siapa yang rela saudara seimannya sendiri meninggal di tangan insan yang zhalim? Banyak sekali respon dan ungkapan simpati yang terhaturkan, meski beberapa tampak menyudutkan Islam. Tapi sadar tidak ? Peristiwa ini jelas menggemparkan dunia, dan mengulik hati-hati kecil siapapun, terlebih menyadarkan umat Islam sendiri bahwa kita adalah satu tubuh. Sedang para zhalim itu tidak pernah membeda-bedakan kita pada sekte-sekte yang ada, lalu mengapa kita repot-repot berdebat dan merasa paling benar? Seakan lupa, kebenaran hakiki hanya dari Tuhan, dan yang lainnya hanya wujud dari ambisi dan keegoisan. Melihat masyarakat Selandia Baru yang tampak begitu harmonis dengan berjejer di masjid demi menjaga kelancaran masyarakat muslim yang sedang melaksanakan sholat tentu membuat hati terenyuh. P...

#SELAMATHARIPUISISEDUNIA | 21 MARET

kepada sajak-sajak dan aksara, terimakasih atas sewindu dibuang lima-nya; sudah bersuara dan tidak pergi; menemaniku di ruang renjana. // Di belantara malam ini aku berjalan, pada gelap, pada sepi, kaki melangkah biar harap-harapan yang disulut di atas kayu bakar, menjadi pelitaku meski mengerjap-ngerjap, dirayu angin, diinjak kaki-kaki dingin ditepis ombak, disiram pasir-pasir, hei ini laut! masih malam, dan harap-harapan masih tertanam dibawa langkah yang terseok, harap dan nyata menjadi penarik ulurnya ia tertatih, hingga harap-harapan itu merapal, disulut angkara, entah bermaniskan dunia sebab nafasku adalah harap, bersama lorong-lorong waktu yang berdetak mimpiku berdarah, dan kaki ini salah melangkah! puisi dan sajakku menjelma rindu yang gelisah jiwa-jiwa penakut, melarat, dan karsa mengalah menyila tuan-tuan dunia, demi masa depan indah --katanya, ditelannya lidah-lidah itu! dibiarkan oleh langkah, padahal raga sudah patah menyuapi ambisi, menghibur diri pada ...

Romantisme Kelebihan & Kekurangan #Opini

Sebentar-sebentar, sebelum mulai tenggelam, lembaran ini sangat terbuka untuk saran dan kritik dari pikiran2 beragam yang sudah rela membacanya;) ** Kekurangan kadang jadi kambing hitam yang bikin kita mengeruhkan suatu masalah atau bahkan kelebihan lain yang kita punya. Seakan karena kekurangan itu, kita mutlak tidak bisa melakukan suatu hal tanpa ada percobaan dan usaha yang menjadi buktinya. Pokoknya kita gak bisa. titik. Maka dengan resume yang kita tetapkan atas diri kita, kita jadi merasa paling tahu, membenarkan dogma buruk terhadap diri kita sendiri. Bagus ketika kita punya suatu hal lain yang tidak hanya sibuk kita banggakan, tapi juga kita asah dan buktikan kebermanfaatannya terhadap diri kita sendiri dan orang lain. Sayangnya, beberapa orang justru pasrah dengan satu masalah yang ada dan dibesar-besarkan, sehingga menjadi penghadang terhadap peluang-peluang lain yang sebetulnya terbuka lebar. Kadang pula, kelebihan yang kita punya jika dibumbui ego akan membuat kita s...