#SELAMATHARIPUISISEDUNIA | 21 MARET
kepada sajak-sajak dan aksara, terimakasih atas sewindu dibuang lima-nya; sudah bersuara dan tidak pergi; menemaniku di ruang renjana.
//
Di belantara malam ini aku berjalan,
pada gelap, pada sepi, kaki melangkah
biar harap-harapan yang disulut di atas kayu bakar,
menjadi pelitaku
meski mengerjap-ngerjap, dirayu angin, diinjak kaki-kaki dingin
ditepis ombak, disiram pasir-pasir, hei ini laut!
masih malam, dan harap-harapan masih tertanam
dibawa langkah yang terseok, harap dan nyata menjadi penarik ulurnya
ia tertatih, hingga harap-harapan itu merapal, disulut angkara, entah bermaniskan dunia
sebab nafasku adalah harap, bersama lorong-lorong waktu yang berdetak
mimpiku berdarah, dan kaki ini salah melangkah!
puisi dan sajakku menjelma rindu yang gelisah
jiwa-jiwa penakut, melarat, dan karsa mengalah
menyila tuan-tuan dunia, demi masa depan indah
--katanya, ditelannya lidah-lidah itu!
dibiarkan oleh langkah, padahal raga sudah patah
menyuapi ambisi, menghibur diri pada lacur kebodohan
tapi ini malam!
serunya--dan langkahku tuli
esok pagi akan cerah, dan selalu cerah
langkah biar memapah, mengantar angin, membawa pagi
dan mimpi yang semoga tidak mati.
#SELAMATHARIPUISISEDUNIA
-Aliyya Rifqunnisa
Komentar
Posting Komentar