Mimpi-Mimpi yang Gelisah | Sebuah Lembar Evaluasi

Seumur-umur dalam hidup, saya melihat orang tua saya benar-benar bahagia murni karena 'saya' itu hanya dua kali. Pertama, saat saya wisuda SMA dengan hafalan Quran, dan saat saya jadi mahasiswa kedokteran (gigi).

Saya masih ingat benar bagaimana mimik mereka ketika mendapati saya diterima sebagai mahasiswa kedokteran gigi, dan bagaimana lisan-lisan itu lancar dan bangga memberitahukannya ke segala penjuru. Aura kebahagiaan mereka jelas terpancar dan sialnya menusuk-nusuk sanubari sendiri, mengingat luntang lantungnya saya di perkuliahan hingga sekarang. Karena di sini, saya betul merasakan titik balik dari hidup saya 180 derajat. Saya kira saya berada di atas awan, nyatanya saya lupa tentang langit dan gemintang. Saya kira saya yang terbaik, dan stigma itu dihempas begitu saja dengan takdir di hadapan saya yang menukik tajam.

Setiap nafas yang saya jalani kini lebih terasa berat, dan bayang-bayang wajah mereka selalu memenuhi dimensi pikiran saya. Ada emosi yang bercampur ruah, antara marah, sedih, kecewa, haru, dan sekian lain yang tidak terjelaskan. Saya terjebak antara dua mimpi; satu, mimpi saya sejak kecil, dan dua, kebahagiaan mereka berdua.
Sebab dalam perspektif mereka, mimpi saya jelas bukan faktor utama kebahagiaan mereka. Dia hanya imbuhan atau bahkan remahan kecil yang akan hambar jika dia tidak ada. Tapi, bagi mereka hidup saya akan jatuh jika mimpi kedua tidak ada. Dan akhir-akhir ini, mereka mendogmakan mimpi saya sebagai pengganggu, dan saya tentu tidak setuju.

Maka selama hampir dua semester menapaki panas-teriknya perkuliahan, saya hanya terus mencari jawaban.
Mengapa saya harus berada di sini karena mereka?
Mengapa mereka harus menginvasi bahkan menyisihkan mimpi saya sendiri?
Mengapa saya harus menghidupi mimpi mereka, dengan mengesampingkan mimpi saya sendiri?
Mengapa takdir mengantar saya ke sini, dan bukan ke mimpi saya sejak dulu?
Mengapa saya harus memupuskan mimpi saya hanya untuk menanggung ribuan harap yang orang-orang taruh di pundak saya sekarang?

Lalu mulai membandingkannya dengan orang lain, yang sudah seribu langkah di depan saya.

Mengapa saya tidak bisa seperti dia, jika saya tidak di sini saya yakin sudah melampauinya.
Mengapa takdir baik tentang mimpi saya tidak kunjung tiba, sedang saya kian tertinggal daripada yang lain.

Dan sungguh, saya hanya ingin mimpi saya dihargai.


Saya paham, Tuhan tahu yang terbaik, namun ego terus membesar dan menjajah jiwa yang sakit. Saat itu saya hanya butuh satu penjelasan dari seribu 'mengapa' itu, dan bukan tentang Tuhan dan agama.

Tetap saja, pada akhirnya saya hanya seorang pengecut, yang sibuk mengeluh tanpa pernah berani memutuskan.

Apakah saya harus pergi dan mengejar mimpi saya sendiri, atau tetap berjuang di sini menggapai mimpi mereka dengan mengubur dalam-dalam mimpi saya ?

Saya hidup dengan banyak aksara yang berotasi dan terus bercabang tiada henti dalam benak, dan itu serupa kuman-kuman pengganggu jika tidak segera ditulis dan diselesaikan.

Dan pertanyaan-pertanyaan itu tiada letih meneror setiap langkah yang saya buat, terlebih jika fase kuliah sedang di puncak komplikasi.

Maka yang saya lakukan adalah bertahan dengan mimpi saya. Impian, bagi saya adalah nafas dan alasan mengapa hidup harus terus berjalan. Saya tentu tidak menghendaki bunuh diri, sebab yang saya ingin bukan menyudahi konflik, tapi melakukan migrasi skenario dan konflik yang baru.

Hingga pada hari ke sekian hidup di bawah pohon-pohon pertanyaan yang tidak berujung itu, saya kira saya mendapat jawabannya kemarin, 26 Maret 2019.

Saya seperti kejatuhan bumi dan langit, dan serbuk-serbuk tangis itu sialnya tidak mau menahan diri lebih lama lagi. Sekian lama saya menanti jawaban, Tuhan antarkan saya di suatu perkumpulan umum, lantas saya ajukan pertanyaan-pertanyaan itu dengan setengah mati menahan rintik-rintik yang tesedu.

Dan saya gagal menahannya.

Beliau bilang, setiap orang punya mimpi sejak kecil. Dan tidak setiap takdir mengantarkan kita langsung pada mimpi itu. Jika berbicara mengenai waktu, detik-detik yang sudah orang tua jalani dengan kronik asam garam hidup mereka, rasanya mereka amat berhak mendapat balasan-bahkan untuk sekadar merasa bahagia-dari diri kita sendiri, yang entah sudah ribuan kali merepotkan hidup dan beban mereka.

Bahkan mereka lebih pantas dibahagiakan, daripada diri saya sendiri. Sebab mereka tulus, dan saya menuhankan ego.

Soal benar atau salahnya sebuah keputusan di masa yang akan datang nanti, hanya takdir yang bisa menjawabnya, kan?

Maka tugas kita adalah saling mendukung, dan tetap bersabar.

Bersyukur dan berprasangka baik kepada Tuhan saya kira adalah kunci serta akar dari semua polemik ini.

"Sebab jiwa yang bersyukur tidak akan pernah merasa terbebani dengan nikmat yang justru sudah banyak diberikan kepadanya, dan prasangka baik akan membuat jiwa kita tenang, bahkan meski yang terjadi di luar dugaan--bahkan buruk sekalipun."


Karena setiap kepingan hidup, selalu menyimpan mutiara hikmahnya.

Berbelok sedikit tidak selalu bermakna menjauh dari mimpi, kan? Barangkali Tuhan hanya ingin hidup kita lebih berarti.

***

"Dan sejatinya, cerita ini tidak akan pernah tuntas. Cerita ini justru baru bermula, dan semoga Tuhan izinkan dunia mendengar kelanjutannya."


Sabar, skenario-Nya hanya belum selesai.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah Berapa Lama?

RESENSI NOVEL PULANG LEILA S. CHUDORI