"Menghargai" | Tragedi 15 Maret Chirstchurch, Selandia Baru

Agaknya masih hangat, tragedi penembakan masal di dua masjid Christchurch dan insan-insan Tuhan yang mulia itu.

Demi Allah, ketika mendengar warta itu sampai di telinga, palung hati seperti berdarah, siapa yang rela saudara seimannya sendiri meninggal di tangan insan yang zhalim?

Banyak sekali respon dan ungkapan simpati yang terhaturkan, meski beberapa tampak menyudutkan Islam. Tapi sadar tidak ? Peristiwa ini jelas menggemparkan dunia, dan mengulik hati-hati kecil siapapun, terlebih menyadarkan umat Islam sendiri bahwa kita adalah satu tubuh. Sedang para zhalim itu tidak pernah membeda-bedakan kita pada sekte-sekte yang ada, lalu mengapa kita repot-repot berdebat dan merasa paling benar? Seakan lupa, kebenaran hakiki hanya dari Tuhan, dan yang lainnya hanya wujud dari ambisi dan keegoisan.

Melihat masyarakat Selandia Baru yang tampak begitu harmonis dengan berjejer di masjid demi menjaga kelancaran masyarakat muslim yang sedang melaksanakan sholat tentu membuat hati terenyuh. Peristiwa ini menumbuhkan rasa toleransi yang kuat pada jiwa mereka. Bahwa ada tanggung jawab yang teremban pada pundak masing-masing, sebab toleransi itu berwujud rasa saling memiliki. Jumat ini akan dilaksanakan penghormatan kepada para insan mulia itu, dengan azan yang disiarkan secara nasional di Selandia Baru. Penjagaan sholat datang dari sejumlah warga, polisi, bahkan geng motor pun siap menjamin keamanan jalannya ibadah wajib umat Muslim di Masjid An-Noor, Selandia Baru (Republika/21).

Masya Allah, akan selalu ada hikmah besar dari peristiwa besar. Allah tidak pernah menakdirkan sesuatu tanpa menghadiahkan rahmat dan kejutan di dalamnya.

Dari kronik peristiwa ini harusnya kita sadar, baik sebagai bangsa maupun penganut agama yang baik, rasa saling menghargai adalah akar dari segala kedamaian dan kesejahteraan. Menghargai orang lain; mau kaya atau berkecukupan, pintar atau lebih pintar, berkedudukan tinggi atau biasa saja, bahkan hewan dan tumbuhan. Menghargai, dengan tidak menuhankan gengsi, dan bukan berarti merendahkan diri.

Jadi, sudah seberapa besar kita bisa menghargai?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah Berapa Lama?

RESENSI NOVEL PULANG LEILA S. CHUDORI