Romantisme Kelebihan & Kekurangan #Opini
Sebentar-sebentar, sebelum mulai tenggelam, lembaran ini sangat terbuka untuk saran dan kritik dari pikiran2 beragam yang sudah rela membacanya;)
**
Kekurangan kadang jadi kambing hitam yang bikin kita mengeruhkan suatu masalah atau bahkan kelebihan lain yang kita punya. Seakan karena kekurangan itu, kita mutlak tidak bisa melakukan suatu hal tanpa ada percobaan dan usaha yang menjadi buktinya. Pokoknya kita gak bisa. titik.
Maka dengan resume yang kita tetapkan atas diri kita, kita jadi merasa paling tahu, membenarkan dogma buruk terhadap diri kita sendiri. Bagus ketika kita punya suatu hal lain yang tidak hanya sibuk kita banggakan, tapi juga kita asah dan buktikan kebermanfaatannya terhadap diri kita sendiri dan orang lain. Sayangnya, beberapa orang justru pasrah dengan satu masalah yang ada dan dibesar-besarkan, sehingga menjadi penghadang terhadap peluang-peluang lain yang sebetulnya terbuka lebar.
Kadang pula, kelebihan yang kita punya jika dibumbui ego akan membuat kita seolah-olah berada di atas, merasa paling baik, tanpa berusaha memperbaiki yang bisa diperbaiki.
Kelebihan yang ada juga bukan untuk dijadikan alasan dan memblokade perbaikan-perbaikan diri yang lain. Jika begitu adanya, maka kelebihan tak ubahnya batu yang terus membesar, hingga menghalangi pandangan--yang berarti peluang-peluang kita di masa depan. Yang ada di hadapan kita hanya diri kita yang dirasa semakin baik, padahal hanya wujud dari dada yang membusung kian besar.
Ngerti tidak?
Contoh begini.
Ah, aku sudah jago ngomong kok, aku jago organisasi, ga perlu lah pintar-pintar di akademik.
Ah aku jago akademik, aku mau fokus ke akademik aja, aku mah ga bakat organisasi.
Aku mah apa atuh, ga punya organisasi apa-apa. Dan ga mencoba apa-apa (ya gmn mau punya pamungkas:)
Aku sukanya nulis, gausah ambis-ambislah, apalagi buat hal yang gak suka-suka banget, yang penting lulus. (ini gw)
Premis2 di atas berarti mendiskreditkan suatu usaha yang bahkan belum ada angka yang diolah dalam sebuah rumus. Tidak ada variabel dan konstanta, maka tidak ada hasil. Gaya aksi sama dengan reaksi, tidak ada usaha yang dilakukan, maka hasilnya pun stagnan.
Setiap orang memang punya porsi masing-masing, tapi tidak selalu memiliki kesempatan yang berbeda; satu luas, satu sempit. Tidak, tinggal bagaimana setiap manusia itu mau mencari dan berusaha.
Saya pikir sebetulnya semua orang bisa; sebagian orang langsung menyukai suatu hal karena banyak faktor berbeda (nyaman, menghasilkan benefit, perasaan dan seseorang, desakan masa lalu, petuah dan pendekatan yang berulang, dan lain-lain), dan sebagian lain belum--bukan tidak--menyukai sesuatu karena memang belum mencoba entah karena tidak ada kesempatan dan tidak mau mencari, takut, trauma masa lalu, atau sudah mencoba tetapi tidak mau bertahan dan berusaha, lalu menyerah.
Tapi saya gak bilang ini buruk, hanya kelebihan yang dilebih-lebihkan dalam wujud batu yang justru menghalangi kesempatan adalah bukan sesuatu yang sehat.
Kelebihan bukan menjadi alasan suatu kepasrahan, kelebihan yang Tuhan kasih ke kita cukup terus dikembangkan, dan perkembangan akan semakin baik jika kelebihan ini bisa membuat kita berusaha mengusahakan diri untuk mengatasi kekurangan.
Sebelumnya begini, kekurangan yang saya maksud di sini adalah bukan seperti kelainan kongenital (bawaan) yang mutlak tidak bisa diubah: cacat fisik.
Dan cara mengembangkan kelebihan adalah bukan memberitahu orang lain, bahkan menggembor-gemborkannya, atau merendahkan orang lain dengan kelebihan sama, tanpa pendekatan usaha yang dinamis.
Nyatanya, gak ada usaha yang mengkhianati hasil. Kita dilahirkan bukan hanya untuk melakukan apa yang kita suka, menjadi dewasa berarti siap menghadapi tantangan-tantangan baru--bahkan sesuatu yang pada mulanya kita hindari. Melakukan hal yang kita suka itu mudah, namun mencoba melakukan hal baru--bahkan yang tidak kita suka adalah sebuah keberanian hidup.
Jangan biasakan berpikir tidak bisa sebelum mencoba, karena ke-sok-tahuan hanya akan membuat kita mudah memprejudis suatu hal hanya dari tampaknya saja, tanpa mencoba kenal lebih dekat. Ke-sok-tahuan akan mempersempit cara pandang kita dari hikmah dan pelajaran lain yang bisa kita dapat.
Prasangka buruk bisa mendiskriminasi keinginan berubah dan bergerak, dan pada akhirnya kita hanya berdiri pada tempat yang sama, di antara ribuan orang yang bermanuver.
Ketika darah beroksigen yang disalurkan ke seluruh tubuh, pikiran pun juga begitu. Pikiran baik mengandung energi positif yang akan disebarkan ke tiap-tiap jaringan tubuh agar dapat bersinergi dengan baik.
Baik kelebihan maupun kekurangan pun harus dipandang positif dan optimis, karena kelebihan tidak mutlak bermakna sesuatu yang positif, atau kekurangan tidak harus dimaknai sebagai sesuatu yang negatif. Keduanya punya peran masing-masing. Tergantung bagaimana kita menyiasatinya.
Dan bagi saya, kekurangan bukan sebuah hal mutlak.
Misal begini.
Ada seorang anak muda ingin membangun penerbit, tetapi dia tidak punya kemampuan seperti editor, tidak memiliki keahlian sebagaimana lulusan desain visual, apalagi tidak punya modal naskah apapun untuk menjadi buku terbitan pertamanya.
Tetapi, dia kemudian berpikir. Dan menemukan sebuah cara. Dia merasa confident untuk menjadi penggagas utama dengan modal yang ia punya dan mengajak teman-temannya membangun sebuah penerbit. Teman-teman yang diajak sesuai kualifikasi kebutuhan dalam sebuah penerbit yang hendak ia dirikan, dengan keahlian editor, desain komunikasi visual, marketing, dan menulis. Untuk mendirikan bangunan yang pas dan sistematis, ia juga mengundang teman lulusan arsitektur agar mau bekerja sama dengannya. Maka dengan banyak kekurangan yang dia miliki, ia tetap bisa membangun penerbit yang dia mau tanpa memaksakan diri untuk menjadi bisa di semua keahlian.
Dia mampu menggagas suatu ide praktis yang dapat mengakomodasi kekurangan-kekurangannya. Tapi, tentu bukan dengan cara menolerir semua yang tidak dimilikinya kemudian menyerah begitu saja.
Contoh kedua.
Seseorang ingin membuat suatu konten yang menarik dan kreatif. Tetapi, keahlian yang dia miliki baru sebatas menulis, sedangkan untuk bisa menulis dengan baik, seseorang harus mempunyai amunisi. Jika untuk menembak butuh peluru, maka menulis butuh buku. Semakin banyak buku yang dibaca, semakin berkelas tulisan yang dihasilkan. Sayangnya, gak cuma buku sumber amunisi itu. Untuk bisa menjadi seseorang yang kreatif, kita perlu pengalaman. Dengan pengalaman, pikiran dan cara pandang kita akan meluas, melihat apa yang dulu gak tampak, memikirkan apa yang dulu gak terpikir, dan jiwa kita akan semakin kritis. Ya ujung-ujungnya, gak cuma jago nulis yang dia butuh. Ada aspek-aspek sekunder yang bakal menunjang bobot 'tulisan'nya.
Contoh lain lagi seperti musisi.
Yang membuat dan memasarkan lagu.
Bagaimana membuat lagu yang disukai orang?
Bagaimana membuat aransemen yang pas dan match dengan lirik yang sudah dibuat?
Kalangan mana yang merupakan objek paling menguntungkan?
Bagaimana strategi pemasaran lagu itu agar terjual habis?
Apa saja yang harus dilakukan agar lagu itu terdengar dan trending?
Kemampuan yang harus dia punya bukan hanya suara emas, namun kreatif, inovatif, komunikatif, dan mampu bekerja sama dengan baik. Dan jika dia takut untuk memasarkan lagunya, maka semua kesuksesan dan pencapaian yang dia inginkan gak akan pernah dapat. Mengatasi ketakutan-ketakutan yang beriak dalam hati, mencekoki pendengaran akal, dan menghambat manuver adalah kemampuan yang esensial.
Seseorang dengan akademik bagus yang mencoba untuk mengakselerasi dirinya dengan banyak pengalaman, adalah bukan dengan maksud menghacurkan akademiknya itu sendiri.
Tantangannya adalah, bagaimana dengan kegiatan yang padat seseorang dapat tetap memanajemen waktunya untuk berorganisasi dan belajar secara bijak?
Semakin terstruktur, semakin baik. Semakin berbobot hidupnya.
Eh tidak-tidak, aku gak suruh semua orang harus berorganisasi, atau ambisius.
Yang penting, jangan gak ngapa-ngapain. Apalagi di umur muda, masih sendiri, masih dikasih duit, masih dipermudah.
Sebab pada akhirnya, setiap manusia akan menjual diri. Ada yang menjual suara, jasa, barang-barang, makanan, tulisan, desain, temuan, kebijakan, keadilan, bahkan dirinya sendiri.
**
Kekurangan kadang jadi kambing hitam yang bikin kita mengeruhkan suatu masalah atau bahkan kelebihan lain yang kita punya. Seakan karena kekurangan itu, kita mutlak tidak bisa melakukan suatu hal tanpa ada percobaan dan usaha yang menjadi buktinya. Pokoknya kita gak bisa. titik.
Maka dengan resume yang kita tetapkan atas diri kita, kita jadi merasa paling tahu, membenarkan dogma buruk terhadap diri kita sendiri. Bagus ketika kita punya suatu hal lain yang tidak hanya sibuk kita banggakan, tapi juga kita asah dan buktikan kebermanfaatannya terhadap diri kita sendiri dan orang lain. Sayangnya, beberapa orang justru pasrah dengan satu masalah yang ada dan dibesar-besarkan, sehingga menjadi penghadang terhadap peluang-peluang lain yang sebetulnya terbuka lebar.
Kadang pula, kelebihan yang kita punya jika dibumbui ego akan membuat kita seolah-olah berada di atas, merasa paling baik, tanpa berusaha memperbaiki yang bisa diperbaiki.
Kelebihan yang ada juga bukan untuk dijadikan alasan dan memblokade perbaikan-perbaikan diri yang lain. Jika begitu adanya, maka kelebihan tak ubahnya batu yang terus membesar, hingga menghalangi pandangan--yang berarti peluang-peluang kita di masa depan. Yang ada di hadapan kita hanya diri kita yang dirasa semakin baik, padahal hanya wujud dari dada yang membusung kian besar.
Ngerti tidak?
Contoh begini.
Ah, aku sudah jago ngomong kok, aku jago organisasi, ga perlu lah pintar-pintar di akademik.
Ah aku jago akademik, aku mau fokus ke akademik aja, aku mah ga bakat organisasi.
Aku mah apa atuh, ga punya organisasi apa-apa. Dan ga mencoba apa-apa (ya gmn mau punya pamungkas:)
Aku sukanya nulis, gausah ambis-ambislah, apalagi buat hal yang gak suka-suka banget, yang penting lulus. (ini gw)
Premis2 di atas berarti mendiskreditkan suatu usaha yang bahkan belum ada angka yang diolah dalam sebuah rumus. Tidak ada variabel dan konstanta, maka tidak ada hasil. Gaya aksi sama dengan reaksi, tidak ada usaha yang dilakukan, maka hasilnya pun stagnan.
Setiap orang memang punya porsi masing-masing, tapi tidak selalu memiliki kesempatan yang berbeda; satu luas, satu sempit. Tidak, tinggal bagaimana setiap manusia itu mau mencari dan berusaha.
Saya pikir sebetulnya semua orang bisa; sebagian orang langsung menyukai suatu hal karena banyak faktor berbeda (nyaman, menghasilkan benefit, perasaan dan seseorang, desakan masa lalu, petuah dan pendekatan yang berulang, dan lain-lain), dan sebagian lain belum--bukan tidak--menyukai sesuatu karena memang belum mencoba entah karena tidak ada kesempatan dan tidak mau mencari, takut, trauma masa lalu, atau sudah mencoba tetapi tidak mau bertahan dan berusaha, lalu menyerah.
"Jika kelebihan hanya untuk memuaskan gengsi dan menoleransi kekurangan, maka rasa syukur itu barangkali salah tujuan. Atau justru berwujud suatu dogma yang mengkerdilkan ikhtiar kita sendiri untuk menjadi lebih baik."
Tapi saya gak bilang ini buruk, hanya kelebihan yang dilebih-lebihkan dalam wujud batu yang justru menghalangi kesempatan adalah bukan sesuatu yang sehat.
Kelebihan bukan menjadi alasan suatu kepasrahan, kelebihan yang Tuhan kasih ke kita cukup terus dikembangkan, dan perkembangan akan semakin baik jika kelebihan ini bisa membuat kita berusaha mengusahakan diri untuk mengatasi kekurangan.
Sebelumnya begini, kekurangan yang saya maksud di sini adalah bukan seperti kelainan kongenital (bawaan) yang mutlak tidak bisa diubah: cacat fisik.
Dan cara mengembangkan kelebihan adalah bukan memberitahu orang lain, bahkan menggembor-gemborkannya, atau merendahkan orang lain dengan kelebihan sama, tanpa pendekatan usaha yang dinamis.
Nyatanya, gak ada usaha yang mengkhianati hasil. Kita dilahirkan bukan hanya untuk melakukan apa yang kita suka, menjadi dewasa berarti siap menghadapi tantangan-tantangan baru--bahkan sesuatu yang pada mulanya kita hindari. Melakukan hal yang kita suka itu mudah, namun mencoba melakukan hal baru--bahkan yang tidak kita suka adalah sebuah keberanian hidup.
Jangan biasakan berpikir tidak bisa sebelum mencoba, karena ke-sok-tahuan hanya akan membuat kita mudah memprejudis suatu hal hanya dari tampaknya saja, tanpa mencoba kenal lebih dekat. Ke-sok-tahuan akan mempersempit cara pandang kita dari hikmah dan pelajaran lain yang bisa kita dapat.
Prasangka buruk bisa mendiskriminasi keinginan berubah dan bergerak, dan pada akhirnya kita hanya berdiri pada tempat yang sama, di antara ribuan orang yang bermanuver.
Ketika darah beroksigen yang disalurkan ke seluruh tubuh, pikiran pun juga begitu. Pikiran baik mengandung energi positif yang akan disebarkan ke tiap-tiap jaringan tubuh agar dapat bersinergi dengan baik.
Baik kelebihan maupun kekurangan pun harus dipandang positif dan optimis, karena kelebihan tidak mutlak bermakna sesuatu yang positif, atau kekurangan tidak harus dimaknai sebagai sesuatu yang negatif. Keduanya punya peran masing-masing. Tergantung bagaimana kita menyiasatinya.
Dan bagi saya, kekurangan bukan sebuah hal mutlak.
Misal begini.
Ada seorang anak muda ingin membangun penerbit, tetapi dia tidak punya kemampuan seperti editor, tidak memiliki keahlian sebagaimana lulusan desain visual, apalagi tidak punya modal naskah apapun untuk menjadi buku terbitan pertamanya.
Tetapi, dia kemudian berpikir. Dan menemukan sebuah cara. Dia merasa confident untuk menjadi penggagas utama dengan modal yang ia punya dan mengajak teman-temannya membangun sebuah penerbit. Teman-teman yang diajak sesuai kualifikasi kebutuhan dalam sebuah penerbit yang hendak ia dirikan, dengan keahlian editor, desain komunikasi visual, marketing, dan menulis. Untuk mendirikan bangunan yang pas dan sistematis, ia juga mengundang teman lulusan arsitektur agar mau bekerja sama dengannya. Maka dengan banyak kekurangan yang dia miliki, ia tetap bisa membangun penerbit yang dia mau tanpa memaksakan diri untuk menjadi bisa di semua keahlian.
Dia mampu menggagas suatu ide praktis yang dapat mengakomodasi kekurangan-kekurangannya. Tapi, tentu bukan dengan cara menolerir semua yang tidak dimilikinya kemudian menyerah begitu saja.
Contoh kedua.
Seseorang ingin membuat suatu konten yang menarik dan kreatif. Tetapi, keahlian yang dia miliki baru sebatas menulis, sedangkan untuk bisa menulis dengan baik, seseorang harus mempunyai amunisi. Jika untuk menembak butuh peluru, maka menulis butuh buku. Semakin banyak buku yang dibaca, semakin berkelas tulisan yang dihasilkan. Sayangnya, gak cuma buku sumber amunisi itu. Untuk bisa menjadi seseorang yang kreatif, kita perlu pengalaman. Dengan pengalaman, pikiran dan cara pandang kita akan meluas, melihat apa yang dulu gak tampak, memikirkan apa yang dulu gak terpikir, dan jiwa kita akan semakin kritis. Ya ujung-ujungnya, gak cuma jago nulis yang dia butuh. Ada aspek-aspek sekunder yang bakal menunjang bobot 'tulisan'nya.
Contoh lain lagi seperti musisi.
Yang membuat dan memasarkan lagu.
Bagaimana membuat lagu yang disukai orang?
Bagaimana membuat aransemen yang pas dan match dengan lirik yang sudah dibuat?
Kalangan mana yang merupakan objek paling menguntungkan?
Bagaimana strategi pemasaran lagu itu agar terjual habis?
Apa saja yang harus dilakukan agar lagu itu terdengar dan trending?
Kemampuan yang harus dia punya bukan hanya suara emas, namun kreatif, inovatif, komunikatif, dan mampu bekerja sama dengan baik. Dan jika dia takut untuk memasarkan lagunya, maka semua kesuksesan dan pencapaian yang dia inginkan gak akan pernah dapat. Mengatasi ketakutan-ketakutan yang beriak dalam hati, mencekoki pendengaran akal, dan menghambat manuver adalah kemampuan yang esensial.
Seseorang dengan akademik bagus yang mencoba untuk mengakselerasi dirinya dengan banyak pengalaman, adalah bukan dengan maksud menghacurkan akademiknya itu sendiri.
Tantangannya adalah, bagaimana dengan kegiatan yang padat seseorang dapat tetap memanajemen waktunya untuk berorganisasi dan belajar secara bijak?
Semakin terstruktur, semakin baik. Semakin berbobot hidupnya.
Eh tidak-tidak, aku gak suruh semua orang harus berorganisasi, atau ambisius.
Yang penting, jangan gak ngapa-ngapain. Apalagi di umur muda, masih sendiri, masih dikasih duit, masih dipermudah.
Sebab pada akhirnya, setiap manusia akan menjual diri. Ada yang menjual suara, jasa, barang-barang, makanan, tulisan, desain, temuan, kebijakan, keadilan, bahkan dirinya sendiri.
Jadi begini kawan, banyak orang-orang sukses (dengan definisi masing-masing) di masa depan, semata-mata bukan karena kelebihan. Lebih dari itu, mereka punya kemauan untuk mengatasi ketakutan dan kekurangan diri sendiri.
Semangat berproses, jangan sungkan untuk kalah dan gagal.
Komentar
Posting Komentar