(Bukan) Seperti Quick Count Yang Tak Pasti

Halo, tenang-tenang. Saya gak akan bahas sinetron melopolitik yang sedang menyesaki atmosfer nusantara, kok.

Sama, saya pun pusing.
__

Sebelumnya, ini sekadar sharing opini aja ya, saya pun gak lebih baik dari kalian :)

//

Jadi begini, tiba-tiba terlintas aja suatu topik akibat gejolak memoriam yang lancang mengisi kegabutan-kegabutan saya. Dan, itu gak sehat.

Ngomong-ngomong soal kepastian, pasti identik banget sama 'cinta' dan si dia.

Saya paham banget, saya juga pernah berada di posisi tidak diberi kepastian, dan tidak memberi kepastian. Yang posisi kedua, tentu terpikir agak jahat ya? Saya hanya mengira saya tidak cukup pantas memberi kepastian apapun kepada siapapun, toh hati dan semua yang saya miliki pun tidak pasti selamanya milik saya. Ada yang Maha Membolak-balikkan, menetapkannya, juga menghilangkannya.

Lha wong besok saya juga gatau apa yang bakal terjadi sama saya.
Gimana mau kasih kepastian yang bahayanya bisa sampai seumur hidup?

Padahal, kalo kita betul-betul memaknai arti kepastian itu sendiri, semua jadi lebih mudah. Kita jadi tidak mudah memberi harap, tidak mudah menggantungkan harapan, karena sejatinya, soal 'cinta' itu sudah jelas.

Mengenai sumber 'kepastian' sendiri, sebenernya datang dari mana sih? Saya pikir, semua hanya soal waktu dan takdir. Kalau kita paham titah Tuhan yang ribuan kali menyinggung soal hukum 'kepastian' itu sendiri, mengenai surga dan neraka, ajal, jodoh, segala kebaikan-kebaikan-Nya, agaknya hidup tidak akan dipenuhi kegalauan-kegalauan terlebih soal 'cinta'.

Saya sendiri seringkali mengingkari itu. Tempo hari saya sempat baca tweet orang yang tiba-tiba masuk aja gitu ke timeline saya, kira-kira dia bilang begini: "Dikasih spoiler tentang End Game (seri terakhir dari Avengers) senengnya ampe keranjingan gitu, padahal Tuhan udah berkali-kali ngasih tau kiamat itu nyata, gimana indahnya surga dan menyeramkannya neraka, maksiat masih aja jalan."

Saya langsung tekan like, sebagai bentuk dari ketercengangan saya terhadap apa yang saya abaikan selama ini. Analogi nya ngena, betul-betul efektif menampar hamba yang hina banget ini. (saya sih, gatau kalian, ehe)

Selama bertahun-tahun mempelajari ayat-ayat Tuhan dan maknanya, kok miris sekali betapa semua hanya sekadar menempel secara berkala, dan tidak ada bekasnya di hati.

Padahal, kepastian itu sudah ada lebih dulu dari segala ketidakpastian-ketidakpastian cinta, bahkan jauh di ratusan abad yang lalu. Ketika sosok insan paling sempurna yang pernah menginjak bumi ini hadir, membawa mentari yang menerangi kegelapan, memperjelas kelaliman manusia, dan menunjukkan jalan-jalan kebaikan. Tapi dengan dangkalnya pikiran dan hati kita, kita mau diayun-ayunkan oleh kuasa manusia yang lemah bernama ketidakpastian itu.

Sementara Tuhan dengan amat gamblang memaparkan bahwa siapapun yang beriman dan berbuat baik maka akan masuk surga, dan siapa yang mengingkari nikmat-Nya, maka azab-Nya sangat pedih.
Tuhan pun beberapa kali bertitah bahwa ajal, jodoh, dan rezeki itu sudah ditiupkan bersamaan dengan terkonsolidasinya raga dan ruh kita saat umur kita masih 4 bulan dalam kandungan, masih -+ 5 bulan lagi sebelum melihat kejamnya dunia. Bahkan Dia sudah lebih tahu mengenai apa yang akan terjadi pada kita hingga kita mati, tapi saya kok masih suka merepot-repotkan diri dengan menaruh harapan pada yang tidak punya kekuasaan.

Contoh kecilnya misal,

Bagaimana seseorang dapat menjanjikan keadilan kepada banyak orang yang tertindas, jika kekuasaan saja dia tidak punya?

Wong manusia yang punya kekuasaan saja bisa mengecewakan. Gimana tidak sama sekali?

Lalu, bagaimana kita mau memberi, jangankan harta, nurani saja kita tidak punya?

Bagaimana seorang manusia yang hati dan hidupnya diiringi oleh kejutan-kejutan takdir, bisa menjaga harapan yang ditanam kepadanya sedang untuk melihat masa depan saja ia tidak mampu?

Bagaimana saya mempertanggungjawabkan harapan yang dibebankan kepada saya, jika untuk ujian saja saya mati-matian meminta tolong pada Tuhan?

Bahkan sekeras apapun saya belajar, toh jika Tuhan merestuinya tidak sesuai apa yang saya inginkan, ya memang akan begitu, bukan?

Barangkali sama kasusnya jika, sekeras apapun saya menjaga 'perasaan' dan suatu hubungan, kalau Tuhan tidak bilang sesuai apa yang saya angankan, tentu tidak akan menjadi iya..

Nah, masalahnya begini.

Belajar dan kesuksesan jelas identik dengan usaha dan doa. Sayangnya, kalau urusan jodoh kan memang sudah begitu...

Mungkin rasanya memang sudah pasti, tapi takdir-Nya lebih nyata dari kepastian makhluk yang semu,

Mau tidak mau mesti menerima, bahwa posisi kita sebagai manusia memang tidak sebesar harapan kita pada dia dan masa depan bersama kan. Ehe.

Simpulkan saja begini, agar lebih mudah. Semuanya bermula dari rasa takut. Jujur, saya takut jika saya berlebihan menyukai seseorang, saya sendiri yang akan diinjak-injak fakta yang dihidangkan takdir suatu saat nanti. Saya takut, jika saya terlanjur mengemban harapan orang lain pada saya, saya sendiri yang mengingkari janji itu. Saya takut, saya tidak pernah siap untuk dikhianati, bahkan jika bukan salah dia saja. Saya gak berhak melarang siapapun untuk suka ke orang selain saya, dan siapapun juga gak berhak melarang saya untuk kagum pada yang lainnya.

Hati gak ada yang tahu..

Maka saya memutuskan membuat kredit dari rasa sakit itu, sebab saya sudah terlanjur memulai sesuatu yang gak seharusnya dimulai.

Karena jatuh dari lantai 5 gak akan lebih sakit dari lantai 10.

Dan, menjadi seorang pengecut dalam hal ini lebih baik daripada menjadi bangsat.

Kemudian menjauh, pura-pura tidak peduli, dan sampai detik ini, semua hampir berhasil.

Sampai suatu waktu, saya lupa, medan yang saya tempuh dulu jauh berbeda dari sekarang. Mungkin pendirian saya sendiri yang agak goyah, sebab kuping saya juga lama-lama pengang dengar orang sibuk menggalaukan nasibnya masing-masing, berbicara soal cinta; baik yang sukses, yang gagal, maupun yang tidak ada pengalaman, dan saya? Memori itu sudah saya bungkus rapat-rapat, disimpan di suatu sudut ingatan, dan saya tidak berminat membukanya lagi. Bahkan, setelah dengan lancang gejolak itu datang, saya tetap tidak ingin mengenang potongan-potongan masa lalu itu.

Yang saya ingat hanya sekedar apa yang saya rasa waktu itu dan sekarang saja. Itu pun sudah bikin saya jengah, sebab hidup terasa lebih miris daripada biasanya karena dibandingkan dengan kehidupan percintaan teman-teman saya. Padahal dulu, saya tidak merasa begitu. Saya bahagia bisa bernapas dengan bebas meski tanpa kupu-kupu yang berterbangan di perut itu, karena saya tidak perlu repot-repot membahagiakan dan tidak mengecewakan siapapun kan? (Jangan balas mengenai orang tua, jelas berbeda.)

Saya tahu benar, semua sudah di atur Tuhan--apalagi masalah ini, jadi saya tidak berani mencampuri urusan Tuhan. Sebagian diri saya bilang: lebih baik mengkhianati seseorang daripada mengkhianati Tuhan, bukan?

Tuhan bilang, barangsiapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan.
Tuhan bilang, barangsiapa yang bersyukur, maka akan Aku tambahkan rezekinya.
Tuhan bilang, barangsiapa yang berbuat baik dan menjauhi maksiat, maka surga baginya.
Tuhan bilang, barangsiapa yang percaya Aku dan hari kiamat itu, maka selamatlah ia.
Tuhan bilang, barangsiapa yang mengingkari nikmat-Ku, maka azab-Nya sangat pedih.
Tuhan bilang, barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka akan aku beri ampunan.

Ini hanya sedikit dari sekian titah yang seringkali Dia ulang, untuk menegaskan, tapi betapa sibuknya kita sama dunia hingga lupa ingatan..

Kalau kita paham betul titah Tuhan mengenai hukum-hukum kepastian itu, sejahtera lah hidup kita. Kita tidak sibuk memikirkan doi yang punya aja enggak, tidak boros-boros kecewa karena tingginya harapan kita ke makhluk yang gak seyogyanya kita bebankan, tidak pusing juga sama pilpres, karena fanatik bikin kita buta dan tuli sama kecacatan manusia yang memang tidak sempurna.

Padahal, sebegitu baiknya Tuhan dan segala kepastian-Nya, tapi masih sibuk mencari dan mengais-ngaisnya dari wajah-wajah indah dunia...


Dunia memang sangat amat cantik, karena pembandingnya, surga, belum pantas dilihat mata yang bernafsu fana ini.

Mungkin, rasa indah menatap dunia memang karena kita belum memaknai dengan benar titah kepastian-Nya, mendekati dan mengejar-ngejar ridho-Nya..

Bukannya, kalo doi mau peka dan balik suka, harus ada aksi?

Agaknya sama. Yang berbeda itu, kasih sayang Tuhan, kalo udah sayang gak akan ada batasnya...


Kepastian yang Dia punya begitu banyak, agung, dan berharga...

Jadi, kalau mau minta kepastian, jangan ke saya (lho) atau dia, coba minta ke Dia yang Maha Segalanya...

Biar Dia yang menggerakkan hati, dan memutuskan kepada siapa cinta ini berlabuh, hanya untuk sama-sama melabuhkan sebesar-besar cinta kita pada-Nya...

Sebab yang hidup pasti mati, tapi cinta atas nama Allah, akan selalu abadi~


//


Selama gak mengkhianati Tuhan, saya rasa gak ada yang salah dengan menjauh.

Biar waktu dan takdir yang menjawab semua rindu yang mengeluh.

___

Pemalang, April 19th 2019

-Aliyya yang lagi kesamber gatau apaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah Berapa Lama?

RESENSI NOVEL PULANG LEILA S. CHUDORI