Surat dari Tukang Pos

Pada suatu sore yang terik, aku ingat sekali
Sebab lenguhan rem motor bebek itu mendengik di depan rumahku
Ah, tukang pos itu!
Aku riang girang sekali, tidak sia2 menunggu senja di depan rumah sendiri
Larilah aku kepadanya, yang berbaju cokelat tahi selalu itu
Barangkali hanya aku yang selalu ceriwis, sebab tiap hari wajahnya selalu begitu, namun gigi2nya tidak pernah tak meringis saat melihatku
Kemudian surat itu kugenggam
Kupandangi ia hingga muram
Aku tak jadi senang tapi!
maka gigi2 yg meringis itu kembali mengatup, dan wajahnya seperti semula tadi

Kamu tahu kenapa?
Otakku bilang itu bukan surat yang kutunggu
Dia dengar mata berkata bahwa suratnya berwarna putih, ya seperti surat2 formal itu saat mau sekolah atau sakit
Jelas sekali tidak ada cinta di situ!
Timpal hatiku yang pilu
Malang nian kau ini, dambakan mana yang tak datang

Aku makin sedih, tapi hati yang baik bilang:
Coba kau buka dulu, siapa tahu...
Siapa tahu memang begitu hahaha
Setan itu mengataiku
Sialan

Aku mencoba menyeret bibirku ke samping, dan wajah tukang pos itu kembali meringis
Sebab dia tak akan pulang hingga aku kembali tersenyum padanya
Hh Dasar genit

Kugenggam surat putih yang resmi itu, berbalik badan dan duduk lagi di teras senja
Menunggui mentari pulang, dan menyambut rembulan datang

Buka!
Mata dan hatiku tak sabar
Padahal otak sedang ingin tidur-tiduran
Dasar malas!
Bahkan meski sudah kecewa dan sedih kepalang, gemetar nian jemariku mengoyak kertas itu
Dengan segenap hati yang ganjil
Pelan pelan kutarik selembar dari dalam amplop putih yang sudah rusak tadi

Sret...
Sret...
Sret...

Kutarik ia dengan gemetar,
Sret...
Sret...
Sret...

Aku masih sabar menariknya, sebab harapanku masih meniup2 lembaran itu


Sret...
Sret...
Sret...

Tapi otak yang malas tetap jadi bingung
Hatiku justru kian mendung
Tapi mata masih berbinar siang

Surat apa ini??
Sebab julurannya sepanjang sungai Nil, dan tulisannya lebih misteri dari segitiga bermuda

Beruntung jemariku tidak selemah hati yang rapuh
Dia masih menariknya dg kukuh
Seolah ada cinta di ujung yang menunggu disentuh

Hei ini menarik!
Semakin panjang ia terulur, julurannya menyilaukan warna yang berbeda
Pertama-tama ia serupa kanvas tanpa bercak setitikpun
Namun kegelapan menggerayanginya seiring panjang lembaran itu kutarik

Tiba2 aku bergidik
Mataku melirik ke atas bawah tanpa henti
Sial, hatiku justru meringik serupa keledai yang jelek nian suaranya
Otakku bilang, dia malas tapi tiba2 ia mau berpikir
Katanya ini memang menarik!

Lama2 lembaran itu sudah purna gelap
Rupanya malam memang sudah tiba, aku tetiba lupa ada dimana

Sret...
Sret...

Surat panjang ini tiada letih kutarik, dan..
Dia sampai di ujungnya!

Namun tetap saja, tidak kutemukan cinta di sana
Hei, tapi kutemukan warna merah jalang!

Dan tiupan angin seolah menggeser debu2 fantasi di atasnya
Dia punya sejuta aksara!

Aksara yang berputar2, antara putih dan gelap..
Dan terbacakan oleh mata dan hatiku..

Sebelum sampai pada merah jalang itu,
Terukir ribuan kata dan laku yang mengisi lembaran
Dari putih hingga hitam..
Hei, dia tuliskan semua
Bahwa aku pernah ngompol di suatu pagi jam 06.12 detik 10 tahun 2001
Aku berkedip selama 1999888100x sekian dalam hidupku hingga di jam 8 lewat 21 malam sekarang

Hei, dia catat segalanya..
Aku mengupil
Membuang tahi2 sialan itu di kloset hitam
Saat tidur dan mengalirkan air dari mulut dan membuat pulau selebar danau toba
Aku mengigau
Aku memukul2 tembok
Membanting pintu kamarku saat bocah berapa kali..
Aku berkata ah..
Aku bergumam dan mengumpat sesuatu
Aku menangis di sudut malam yg malang
Aku membicarakan temanku dg culas dan pedas
Aku memandangi dia diam-diam dan detak jantungku berdegup sekian frekuensi per detik
Aku menonton... ah... aku takut bilang pada kalian
Aku tidur dalam ibadahku
Bahkan aku melupakannya!
Sebab makan dan tidur memang lebih nikmat
Dan jalan2 menikmati dunia yang mulai berkarat,
Aku bahagia!
Lihat, hidupku bahagia tanpa agama, bukan?

Hei, lagipula-hidup tanpa agama, berarti tanpa dosa
Biarkan saja. Aku memang pelacur dunia yang inginkan surga
Salah?

Tunggu, surat apa ini?
Bodohnya otak yang malas ini, masih bertanya ia dengan dungu!
Setan saja berlari terkentut-kentut membacanya!
Dan dia masih termangu..

Dari putih hingga hitam..
Dari suci hingga kelam..
Sebelum merah jalang..

Kini hati tidak lagi murung
Tapi jiwa dan ragaku kelabu, sekelam langit Bandung

Tukang pos!


Apakah dia malaikat Tuhan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah Berapa Lama?

RESENSI NOVEL PULANG LEILA S. CHUDORI