Random thoughts that you don't have to read, trust me
Sesuatu yang tidak perlu dibaca, mungkin, tapi aku ingin menulisnya pertama-tama untuk diri sendiri.
Liburan kali ini cukup panjang (sungguh gue mensyukuri ini), dan beberapa pikiran yang menggentayangi kepala dari awal libur sampai sekarang gue tuang di sini.
//
Jarak sungguh menguji segala macam hubungan.
//
Kenapa orang harus selalu terhubung satu sama lain? Kenapa nggak bisa cukup dengan diri sendiri? Di saat ketemu sama orang susah, menjaga hubungan itu susah, bahkan banyak berantem sama diri sendiri, kenapa harus tetap terjebak oleh keharusan berhubungan dengan orang lain? Ini keharusan, atau kebutuhan?
Kalau kebutuhan, kenapa rasanya sulit sekali? Kenapa kayak sedang dalam perlombaan siapa dapat paling banyak, siapa dapat paling cepat, siapa dengan siapa? Apa kita harus selalu berusaha keras untuk kenal dekat dengan seseorang? Kalau iya, kenapa kayak lagi memaksa diri? Kalau nggak cocok, usaha apapun bakal percuma kan? Kalau nggak kunjung muncul rasa nyaman, sebenenya apa yang gue cari? Tapi gue juga pengen punya banyak teman, setidak-tidaknya, standar 'banyak' menurut gue.
Nggak semua orang cocok dengan gagasan itu, kan?
//
Sifat hubungan itu dua arah. Kalau ada yang timpang, ya nggak sehat hubungannya. Lalu kenapa dipertahankan? Kadang gue nggak sadar udah banyak berekspektasi entah ke usaha gue sendiri atau ke orang lain, menambah ekspektasi tadi ke timbangan itu biar keliatannya bisa sejajar, adil. Padahal, realita nggak bisa bohong. Kalau nggak klik, ya nggak bisa dilanjutkan lagi, kan? Kalau tau hubungan ini nggak akan mengarah kemanapun-setidaknya dalam waktu yang dekat, nggak ada alasan lain untuk dipertahankan. Tapi gue nggak mau kehilangan.
Pertanyaannya, kehilangan apa? Kehilangan ekspektasi gue sendiri? Kehilangan sosok atau sesuatu yang sebenarnya hidup dalam imajinasi gue sendiri? Kita nggak akan pernah merasa kehilangan kalau kita paham masing-masing nilai diri kita, dan sesuatu atau seseorang yang "hilang"/akan "hilang" itu, kan? Kalau gue nggak mau kehilangan, berarti nilai diri gue ditentukan dari sesuatu/seseorang itu dong?
Gue secara nggak sadar udah bergantung sama hal yang nggak nyata. Gue awalnya merasa punya "sesuatu" atau "seseorang", padahal bisa jadi gue cuma sedang memanipulasi segala hal itu dalam pikiran gue dan menipu diri sendiri. Sial.
//
Serius, kehilangan teman itu menyakitkan. Sadar kalau merasa "dekat" & "nyaman" itu hanya satu arah.
Tapi kita bisa apa?
Kecuali sadar kalau gue emang bukan orang yang bener-bener baik, atau sekadar tidak "secocok" itu dengan seseorang yang gue pikir bisa dibilang dekat.
//
Setiap gue gundah dan tertekan dengan suatu hal atau pikiran, melihat bagaimana uniknya tingkah laku adik adalah suatu anugerah.
Gue sedang pusing-pusingnya lihat laptop, berjejer tugas dan amanah, lalu suara lucu bin cempreng itu mengisi dominan telinga kanan gue. Replika mainan yang dibentuknya menjadi sesuatu menurut "imajinasinya" itu mengarah ke gue, warna warni mengisi pandangan mata.
"Wushhhh zakir punya tanduk!"
Ya Allah, kurang apalagi nikmat yang Tuhan kasih ke lu dengan punya adik segemas ini, tapi masih sibuk kecewa karena ekspektasi sendiri ke orang lain?
Sibuk melihat ke luar, padahal di dalam rumah ada yang benar-benar istimewa. Yang cukup dengan kehadirannya dapat menjadi sebuah penawar hati, berharga tiada tara.
//
Di masa-masa frustasi kayak sekarang, menurut gue, unsur paling penting dalam hidup yang paling dekat ya keluarga. Mereka paling dekat, setidaknya secara "fisik", dan seharusnya secara "psikis" pula. Kalau nggak terpenuhi gimana? Kalau nggak terpenuhi, bagian yang kurang itu apa? Bagian memberi, atau diberi? Bagian memahami, atau dipahami? Bagian mendengar, atau didengar? Katanya, harus dua arah?
Kalau salah satunya kurang, kita jadi cari objek yang lain, kan? Padahal, akar masalahnya mungkin di dalam rumah, lalu kenapa mencari solusi jauh di luar?
Gue terlalu sibuk mencari dan berharap, sampai gue lupa gue punya Tuhan. Hei, you have Allah and that's enough. Tapi sebelum itu, kita punya pilihan untuk merasa "punya" Tuhan atau tidak. Merasa "memiliki" Dia atau tidak.
//
Kadang beberapa perasaan hanya harus dipendam saja, baik lisan maupun tindakan, walaupun setengah mati sulit. Bahkan kalaupun dinyatakan gue bisa dapat hal yang menyenangkan? Kan nggak ada jaminan akan sementara atau selamanya? Jangan menggantungkan harapan dan kebahagiaan ke orang lain.
Sekali lagi. Kau punya Tuhan, dan harusnya itu lebih dari cukup.
//
Gue nggak suka dipanggil "dok" dalam iming-iming kalimat penyemangat, seolah kayak meramal masa depan. Menyempitkan kemungkinan masa depan yang bakal terjadi di hidup gue. Gue bukan nggak mau didoakan (hei, lagipula didoakan itu kan konteksnya bicara dengan Tuhan, bukan seperti ini). Maksudnya, buat bertahan sampai di tahap ini saja gue demikian bersyukur, masih banyak ketakutan yang lebih dekat daripada ramalan futuristik yang terlihat "menjanjikan" itu. Contohnya, skripsi. Tolong, lulus dulu. Satu-satu.
Kalau nggak mau kasih permen atau pelukan, diam.
//
Manusia suka sekali menyulitkan dirinya sendiri.
Sebetulnya peraturan Tuhan dan hukum alam sudah jelas. Simpel. Perasaan, hawa nafsu, ego manusia saja yang inkonsisten, selalu minta ditoleransi dan bikin satu masalah jadi saangaat pelik. Berbelit-belit.
Misalnya? Kita.
//
Insecure itu wajar. Banget. Nggak usah insecure karena merasa insecure. Berarti kita sadar kita punya kekurangan, kita bisa lebih baik lebih berkembang daripada ini, atau, kita hanya masih pelit bersyukur.
Katanya, emosi negatif itu tanda untuk melakukan sesuatu? Kalau hanya untuk diterima, bagaimana?
//
Jangan jadi orang yang setengah-setengah. Kalau dalam Al-Quran, ini disebut "al muqtasid". Golongan tengah. Nanggung. Nggak maksimal melakukan maksiat, ibadah juga nggak nikmat.
Tapi, manusia mana yang nggak labil dan ingin cari hiburan? Ingin mencicipi dunia tapi justru kelewat candu?
Sekali lagi. Kau punya Tuhan.
//
Kalau sudah saling tertarik, setidaknya "beranggapan" begitu, apa jalan keluarnya? Lalu bagaimana urusan kita dengan Tuhan kita? Akan seperti apa nasib dari tanggung jawab kita terhadap prinsip yang dianut? Atau biarkan saja waktu menjawab? Itu lebih aman, kan?
Manusia memang maha labil.
//
Ssst, yang terakhir agak serius.
Pertanyaan beberapa hari terakhir. Ketika gue mulai menyadari "perang pemikiran" itu telah nyata terjadi di depan mata. Banyak banget idealisme muncul dan manuver yang mengiringinya demi terwujud harapan, keadilan, dan kesetaraan bagi masing-masing penganutnya. Tapi, apakah dalam Al Quran dan turunannya semua itu tidak pernah ada? Maksud gue, hei, gagasan keadilan seperti mengalir deras dalam syair-syair terpuji itu, dan bermuara hanya pada Tuhan.
Kalau begitu, apa tidak cukup berbagai pedoman itu menyelesaikan segala perkara? Atau apakah lantunan-nya kurang lantang sehingga mereka perlu menciptakan idealisme-idealisme itu sendiri dibumbui hawa nafsu?
Terkadang gue menggumam dalam hati, loh gue pikir ini pun sudah diatur. Tidak semua unsur dari idealisme itu salah, tapi lebih baik meninggalkan mudharat daripada mengambil manfaat, kan? Misal. Al Quran saangat memuliakan wanita. Dengan banyak kalam-kalam Tuhan yang jelas itu, apakah kurang? Atau, mereka memang tidak tahu? Tidak tau karena tidak mau, atau tidak diberi tau? Lalu tugas siapa untuk seharusnya menggaungkan ajaran-ajaran Tuhan dengan lebih sederhana, dekat, dan mudah didengar? Apakah ajaran itu harus disederhanakan, atau cukuplah dia menjadi peringatan untuk yang enggan mendengar?
Bukannya agama itu sempurna? Munculnya pemikiran-pemikiran ini, apakah karena pemeluk agama lupa dengan pedomannya, atau karena para penyeru masih keliru dalam mengajak dan bersuara?
Gagasan-gagasan idealis itu, mengapa lebih banyak membuka mata manusia daripada kalam Tuhan?
Bagian mana yang salah? Atau fenomena seperti ini benar? Kalau salah, mana yang harus diperbaiki? Kalau benar, kenapa begitu?
Semua gagasan itu, apakah ada untuk melengkapi, atau justru menguji?
//
Baiklah, semoga dunia lekas membaik.
//
Semoga, pilihan apapun yang diambil, apapun yang sedang dihadapi sekarang, kebaikan selalu mengiringi kita semua.
Komentar
Posting Komentar