When Reading Parenting Books Subtly Feels Like Self Parenting

 

A. Gambar kanan:The Danish Way Of Parenting (Jessica J. Alexander & Iben D. Sandahl; Pengantar Ayah Edy); B. Gambar kiri: Mendidik Anak Tanpa Teriakan & Bentakan (Ayah Edy)

Ini bukan review, atau lebih tepatnya, review yang berbaur dan melebur dengan bagian kecil dari hidupku sendiri. Hidupku & kontemplasinya di hari-hari libur, sebab selain tidur, aku diberi banyak waktu untuk merenung.

Salah satu kesimpulan dari perenunganku adalah: aku menemukan titik hitam, mengakar panjang, dan bagaimana langkah untuk mencabutnya secara baik-baik atau, tidak menyiraminya lagi sehingga ia tidak dapat tumbuh menjadi bumerang raksasa, musuh dalam selimut jiwaku.

Kurang lebih satu setengah tahun di rumah, 1 tahun pertama diisi dengan pergolakan hebat dengan banyak kehendak dari diriku sendiri; keinginan, harapan, logika, & asumsi, dalam kapasitas mental yang sedang koyak, sebagaimana dalam bab-bab sebelum ini (kau tidak perlu baca, sungguh). Setengah tahun kemudian dengan kewarasan yang mulai dibangun patah-patah; batu bata yang berserakan ditata kembali dan semen yang telah mengelupas dibersihkan serbuk dan puingnya, dilapis yang baru, dengan harapan bukan untuk diruntuhkan kembali. Kedua fase ini terlihat amat sederhana, bahkan saat sudah melewatinya (entah apa akan berjumpa lagi, tapi aku tidak ingin kecanduan gila) aku berpikir bahwa semua itu tidaklah sebesar "itu" dalam perspektifku di masa lalu. Padahal, bukan karena tidak merasakan (lagi), kesengsaraan itu, ketidakberdayaan itu, menjadi tidak valid. Yang perlu aku percaya adalah, aku telah menjadi lebih kuat. Seberapapun besarnya. Mata jiwaku yang sibuk menatap ke dalam dirinya yang kadang hancur kadang lebur, kini lebih jernih pandangannya, tidak berat lagi kantung matanya yang dulu melingkar-lingkar hitam akibat terlalu banyaknya beban pikir yang dipikul, tidak pernah benar-benar tidur. 

Aku mulai melihat ke luar, sekitarku, bahwa aku adalah manusia pada umumnya; ia mengadu napas di antara lingkaran manusia-manusia lain. Lingkaran itu banyak; bisa jadi beririsan, bisa jadi tidak. Lingkaran terkecil biasanya memiliki gaya tarik menarik yang kuat, dan untuk kurungan lama ini, tentu saja rumah. Keluarga. Hal-hal yang pada awal mula tidak terlihat, kini tampak beberapa polanya. Aku bertumbuh dari remaja ke dewasa awal dalam perantauan, dan pulang hanya menumpang main. Jauh berbeda dengan kondisi saat ini, semua dilakukan di rumah, dimulai dan diselesaikan di rumah. Kau tidur, bangun, belajar, bekerja, beraktivitas, bersosialisasi, berbincang, sampai terlelap kembali. 

Dan, punya adik. Benar-benar waktu untuk merasa menjadi sepenuhnya seorang kakak, yang jauh lebih dewasa-seharusnya, tapi aku justru banyak belajar darinya. Aku, sebagai sudut pandang ketiga, mengamati banyak hal tentang dirinya dan hubungannya dengan orang tua. Bagaimana mereka berinteraksi, membangun komunikasi, bermain, belajar, dan segala dinamika pertumbuhan anak dengan proses pendidikan orang tua. Sebagai kakak dengan jarak umur terlampau jauh, sampai satu dua kali disangka ibunya, tentu saja aku menjadi bagian dari proses tumbuh kembangnya. Sebesar apapun porsiku, hal utama adalah menjadi baik, sebaik-baik contoh dan seorang wali. 

Sekian banyak interaksi dengannya, berbagai pertanyaan silih berganti muncul dalam benak.

"Apakah yang aku lakukan tepat?"

"Apakah perkataanku tadi bisa dia pahami dengan baik?"

"Apa ada dari perbuatanku terhadapnya sangat sia-sia bahkan berdampak buruk?"

"Apakah perlakuanku tadi salah?"

"Apakah dia nyaman bergaul denganku?"

"Bagaimana seharusnya menghadapi dia dalam hal ini dan itu?"

Pada akhirnya, aku tidak betul-betul tahu manakah yang benar dan mana yang salah. Manakah sesuatu yang lebih tepat daripada yang lain. Aku bergerak berdasarkan naluri yang terbentuk dari alam bawah sadarku. Persepsi yang tertanam kuat sejak dahulu, barangkali menyimpan memori masa kecilku sendiri. Padahal, masa laluku tidak untuk semuanya ditiru. Sedang secara tidak langsung, aku sedang menurunkan kembali sesuatu yang membentuk diriku di masa lalu. Sesuatu yang bahkan aku masih buram hitam dan putihnya. Yang menjejak dalam diriku sendiri, berwujud dalam perilaku, pola pikir, dan lagam bicaranya. Banyak hal yang ingin kuubah dan perlu ditelusuri titik salahnya terlebih dulu, sebelum dapat mewariskannya. Maka lewat pengamatan ini, aku seperti tengah bercermin. Bercermin pada layar dimensi waktu yang panjang, berjalan mundur. Berusaha mengais rekaman yang terpencar, bias, dan banyak terputus-putus.

Dari kebersamaan dengan adikku itulah, ada binar keingintahuan berpendar-pendar dalam akalku dan pencerminannya. Ada dua kebutuhan yang bertemu di satu titik keingintahuan, bahwa aku harus tahu bagaimana sebetulnya pengasuhan seharusnya dijalankan, dan apa yang salah dari diriku sendiri, dari mana aku harus memperbaikinya.

Perilaku orang tua kita, pola pikir & lisan mereka, yang terbiasa kita lihat dan dengar di masa kecil, bisa jadi berkembang dan bertransformasi bentuk menjadi alegori kita sendiri saat dewasa. Ia menjadi suar-suar pikiran yang bercakap dengan diri kita, saat mengambil keputusan, saat bersikap, saat memberi tanggapan terhadap apapun, saat memulai sesuatu, saat berhadapan dengan harapan dan mimpi yang haus. Ia dapat mendominasi hati sebab ia lebih dulu terpatri daripada pengalaman apapun di usia mulai paham kerja dunia. Ketiga hal itu tidak serta merta pergi ketika kita dewasa, ketika pengetahuan/pemahaman kita sudah sampai bisa membedakan mana baik dan buruk. Bahkan dalam masa-masa terpuruk, ketika kita lemah kendali terhadap diri sendiri seperti bayi dan anak kecil, terlunta-lunta, mereka dapat mendominasi. Jika dibiarkan, mereka berkembang menjadi monster. Dan monster itu adalah dirimu, diriku di saat-saat pahit itu.

Memaknai berbagai buku seperti 2 buku di atas adalah salah satu jalan yang kutempuh untuk menyelesaikan diriku sendiri, sembari belajar hal baru. Dengan memahami masa lalu, kita bisa memperbaiki masa depan. Dalam perjalanan putar balik itu, aku bisa melihat duri, ranting, paku-paku tertancap dan berserakan yang dulu tidak terlihat di bagian tertentu. Aku juga melihat hijau teduh dalam masa kecilku, tapi dia kadang-kadang serupa lumut yang menipu. Ia membuatku terpelanting. Ada sebentuk pohon beringin, batang-batang berdaun memanjang dan menggelayut, membuatku nyaman tetapi ketakutan. Ada hujan dan badai yang tidak sempat sampai ke tubuhku sebab aku berjalan dengan kotak di luar tubuhku, atau seorang tuan telah berbaik hati memindahkannya dengan tangan raksasa dari langit. Ini bumiku, dan seseorang ada di atasnya untuk melindungi sepenuh hati. Ada batu-batu besar yang membuatku tersandung dan terjerembab, tetapi sepertinya itu hanya mimpi sebab aku bangun pagi dengan bahagia di esok hari. Seorang anak yang merasa cukup dari luar, tetapi tidak menemukan kenyamanan dalam dirinya sebab ia tidak utuh. Ada yang tercerabut sebelum sempat tumbuh, menghilang, lupa jalan pulang. Aku dalam bumiku-dikurung bui, tanpa saingan dan seorang teman.

Dengan memahami bagaimana bunga dapat tumbuh dari dalam tanah, mengapa ada yang buruk rupa dan cantik dari tanah yang sama, mengapa kedua hal itu bahkan amat bervariasi, kita mendapatkan banyak sekali kesimpulan berharga. Satu bunga dapat menjawab sekian pertanyaan yang mewakili dirinya. Aku bersikap retrospektif, sebagaimana kata itu mirip dengan introspeksi, dan begitulah ia akan berjalan beriringan. Memahami masa lalu berarti tidak untuk menghakiminya. Memahami masa lalu adalah cara untuk diriku sendiri, memperbaiki masa kini dan masa depan. Setiap pikiran, lisan, dan tindakan adalah implementasi nyata dari konstelasi dinamis jiwa dan akal di dalam tubuh. Kekerasan dan kekeliruan dalam pola asuh tidak untuk diturunkan ke generasi selanjutnya. Kecacatan diri tidak boleh mencederai jiwa-jiwa yang terlahir suci, dan perjalananku baru sampai di sini.

_____________________________________________________

Soal orangtuaku, aku mencintai mereka karena Allah. Mereka membuatku merasa aman dan sangat cukup, bahkan dengan materi yang tidak banyak, yang kadang-kadang butuh ngirit. Tahu kapan benar-benar butuh sesuatu, kapan tidak. Paham bagaimana mempertahankan prinsip, terutama peran ayah yang sangat berpengaruh terhadap penjagaan diri dan hati. Lewat mereka pula, aku bertemu teman-teman terbaik yang mengingatkan kebajikan. Terlalu banyak untuk dijabarkan.

Aku yakin teman-teman pasti sudah paham, hanya ingin mengutarakan kalau proses belajar parenting ini bukan ajang untuk menyalahkan siapapun, melainkan untuk memahami dan memaklumi, sebab diri kita dan masa depannya tetap tanggung jawab sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah Berapa Lama?

RESENSI NOVEL PULANG LEILA S. CHUDORI