Gigi Tiga
"Naik ke tiga ayok." "Nah dorong, ini kamu dorongnya sambil diangkat sedikit ke depan, jangan dorong paksa ke kiri," komando itu bersumber dari sebelah kiri kursi pengemudi, siap siaga dengan tiap gerak-gerik situasi jalan untuk mengambil peluang. Tentu saja peluang itu dibebankan dalam bentuk perintah pada sosok yang diberi komando. Jalanan di depan meliuk panjang, sudah cukup jauh mobil berjalan untuk memaksanya tetap di gigi dua, maka mau tidak mau aku menginjak kopling dan mengatur persneling manual naik satu ke gigi tiga. Mobil merespon perubahan itu dengan gerungan yang terasa "berat" secara fisik bagi pemegang setir, aneh untuk dibilang gigi tiga. Aku menoleh bingung pada ayah di sebelahku. "Nah, itu gigi satu. Kamu tuh dorong ke kiri tadi nggak sadar." Seloroh Ayah, dalam ucapannya dapat kudengar ia sedikit menahan gemas lantaran ini bukan sekali dua kali supir cadangannya berulah dengan "gigi tiga". Aku dan gigi tiga, bisa di...