Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

TRIP DIENG!! | ADA MAKNA DIBALIK KATA

Gambar
Ada yang paling menyakitkan memang dari ditolaknya naskah. Yaitu raibnya naskah. Sama kaya sekarang. Nasibnya adalah konten pos ini. Sudah ditulis 2x. Lalu terhapus 2x juga. Alhamdulillah. Allah memberi saya kesempatan untuk melatih sabar dan pantang menyerah. // Ada yang bilang, mulutmu harimaumu. Betul memang, sepatah kata mampu mengiris-ngiris optimisme, seuntai aksara dapat menceraiberaikan mimpi seseorang. Dan lukanya menganga pada hati, mengisap energi2 positif atas resolusi diri yang sedemikian dirancang begitu apik. Hati2. Dan pada Dieng, terimakasih sudah memberi saya pelajaran untuk tetap teguh dan optimis. Meski sekadar pendakian 800 meter, melihat prosesnya saya bersyukur untuk tidak menyerah dan mengindahkan tembok2 yang membatasi diri saya pada perubahan. "Mau naik, Pak? Anginnya besar dan hujan." "Iya kira2 sedikit sih yang naik kalau hujan2 begini." "Jangan gitu, Pak. Kalau mau naik ya naik, kalau gak ya...

TRIP DIENG !! | ADA TUHAN DIBALIK DZAN

Buat liburan2 yang udah berlalu dan 'sedang' dilewati, budayanya ialah seputar silaturahim, halal bihalal, pulkam-- repeated , selesai. Trip sekeluarga? Maka guci akan menjadi satu dan terakhir dari pilihan yang ada. Alias, tidak menghadirkan yg lain memang. Ehe. Dan kemarin, tiba2 tersulutlah topik liburan mau kemana? Entah gimana saya nyeletuk aja yang ada di pikiran, "Dieng." Sering denger tapi gak benar2 tahu itu bagaimana. Di jawa pula. Dan disetujui gak pake lama. Yay. Sempet takut karena habis marak2nya bencana, khawatir sana sini rawan, lebih2 dieng itu dataran tinggi tertinggi di pulau jawa. Gak main main. Tapi inget lagi, di atas segalanya, sejuta prasangka manusia yang lemah, ada pemegang kuasa Mahadahsyat, Allah. Bukan meremehkan dengan, kalau Tuhan gak menakdirkan ya gak terjadi. Atau, kita gak maksiat kok. Atau, ah gak mungkin. Buktinya gada notif apa2 kok. Dia gak masuk daerah terprediksi bencana di warta kemarin. We better say, "Alla...

MENDUDUKI POSISI TUHAN, atau MENUHANKAN DIRI SENDIRI ?

Tau gak, sebetulnya banyak kekeliruan yang diciptakan manusia dengan segala praduga dan intuisi lemahnya, yang justru membuat susah hal yang bisa dibikin mudah. Contohnya. Manusia itu, tugasnya menghadapi masalah. Yang nuntasin itu bukan kita, lalu siapa? Allah. Selama ini kita ngerasa payah sendiri dan nyerah, karena mungkin, bagian Tuhan kita ambil alih. Kuasa-Nya kita lupakan. Porsinya kita jamah. Ya bisa apa si, makhluk lemah. Allah sudah berbaik hati siap mendengarkan segala keluh kesah dan rapalan mengemis hamba-Nya, namun dengan mudahnya kita merasa, i can get over those storms by my self . Kita lupa sempatkan tangan untuk menengadah dan tundukkan kepala, padahal semestinya hal itu adalah sebuah prioritas yang diutamakan, bukan disempatkan. Kita berjuang, kita belajar mati-matian, sampai tanpa kita sadari pikiran dan hati kita yakin kalau kita  udah mampu kok buat lewatin ujian besok.  Kita pasti bisa ngerjain ulangan minggu depan .  Kan udah...

Fondasi Yang Terlupakan

Gambar
Seperti laut, keindahan di atasnya ialah cermin dari nirwana bawah samudera. Suatu waktu belum lama ini, saya tersadarkan oleh sebuah jawaban atas pertanyaan benak saya selama ini. Sebelumnya terimakasih pada Tuhan yang sudah menggerakkan ruh dan jiwa saya untuk tidak goyah pada bisikan2 keegoisan. Juga terimakasih sepatutnya ditujukan pada diri yang mematuhi Tuhannya untuk menolak mengindahkan nafsu dan keegoisannya hingga dapat hadir dalam sebuah acara yang insyaAllah penuh berkah dan hidayah (walaupun lelah) *cu.ih. Pada suatu kesempatan yang saya pikir pas, ketika seseorang menyampaikan suatu materi mengenai 'karya' dan 'kreatif', saya memberanikan diri untuk melontarkan sebuah pertanyaan yang sebetulnya cukup klasik. "Kak, bagaimana sih cara agar konsisten menghasilkan karya diantara tugas dan prioritas kuliah yang tidak sedikit?" "Yang pertama adalah, jaga amal yaumiyah kita," ujarnya tanpa berpikir lama. "Kalau amal...

Dia

Gambar
Laut pernah berbisik padaku, "datangilah aku kala kau resah" Dan sore itu aku datang Menumpahkan sejuta gelisah pada riak ombak yang menyapu butiran pasir Lantas ia berlalu Membawa pergi segala rasa yang meluah Yang kini terseret-seret gelungan ombak dg pasrah Laut selalu punya cara mengusir gelisah, bukan? Bolehkah aku bertanya ? Ia tersenyum mengiyakan Sudah semenggunung apa rasa2 yang kau tumpuk dari sekian jiwa yg lelah ? Laut tersenyum bahagia Kini senja sudah menggantung di cakrawala Dan mentari kian terperosok di garis samudera Laut memandangnya penuh makna Aku tidak menumpuknya. Karena aku memang tak pernah membawa rasa rasa itu. Biar ia dibawa angin, berhembus hingga ujung dunia Aku selalu berdoa pada Pencipta langit Namun kau justru memujaku Aku selalu memandang Pemilik senja di kala durja Ketika kau justru bermesra-mengenang duka-bersama senja Aku sering dihadiahi banyak sampah, dan aku tak pernah marah Toh, Tuhan selalu punya cara menegur...