TRIP DIENG!! | ADA MAKNA DIBALIK KATA

Ada yang paling menyakitkan memang dari ditolaknya naskah.
Yaitu raibnya naskah.
Sama kaya sekarang. Nasibnya adalah konten pos ini.
Sudah ditulis 2x.
Lalu terhapus 2x juga.
Alhamdulillah.
Allah memberi saya kesempatan untuk melatih sabar dan pantang menyerah.
//
Ada yang bilang, mulutmu harimaumu.
Betul memang, sepatah kata mampu mengiris-ngiris optimisme, seuntai aksara dapat menceraiberaikan mimpi seseorang.
Dan lukanya menganga pada hati, mengisap energi2 positif atas resolusi diri yang sedemikian dirancang begitu apik.

Hati2.

Dan pada Dieng, terimakasih sudah memberi saya pelajaran untuk tetap teguh dan optimis.
Meski sekadar pendakian 800 meter, melihat prosesnya saya bersyukur untuk tidak menyerah dan mengindahkan tembok2 yang membatasi diri saya pada perubahan.

"Mau naik, Pak? Anginnya besar dan hujan."

"Iya kira2 sedikit sih yang naik kalau hujan2 begini."

"Jangan gitu, Pak. Kalau mau naik ya naik, kalau gak ya gak. Gausah dipaksa." Mementahkan optimisme yang tertanam dalam ucapan ayah.

"Hati-hati kalau jalan... " dinyanyikan ketika terpeleset akibat kaki bergetar.

"Jangan jatuh. Kalau jatuh ditanggung masing2."

"Jangan jatuh. Kalau gak kuat lambaikan tangan."

"Lambaikan tangan ke kamera.. "

Dan sekian ucapan yang masuk ke telinga kanan kemudian berhembus ke telinga kiri bersama dinginnya terpaan angin.

Saya bisa kok.

Saya punya Tuhan.
Mungkin saya lemah, tapi Tuhan Maha Kuat. Tuhan gak segan2 ngasih pertolongan buat orang2 yang yakin dan berusaha. (Lho kok jadi baper)

Tahap satu pendakian adalah batu2 dan itu masih mudah.
Kemudian batu2 yang mulanya mendatar berundak menjadi tangga, cukup mengikis energi dan keyakinan saya.
Beruntung ada ayah, dia tunjukkan kepercayaan dan keyakinan pada saya dengan sabar menunggu ketika saya memutuskan istirahat.
Mengumpulkan kembali energi dan tekad yang berhamburan.

Maka setelah batu yang berundak menjadi tangga itu beralih pada tanah-tanah licin yang sudah tidak jelas bentuk undakannya, nyali semakin diuji. Ada tali yang menjadi satu-satunya penyeimbang agar tapak sepatu yang sudah aus ini tidak tergelincir. Satu-dua kali beberapa orang terpeleset dan terlumuri tanah yang becek, namun itu bukan masalah besar. Mereka tetap bangkit menantang rintangan.

Kalau tidak karena ayah yang mengatur dan memosisikan pertahanan saya dengan baik, maka saya pun akan mudah tergelincir seperti yang lain.

Tapi rintangan demi rintangan tetap saya lewati atas karsa yang membuncah berimingkan 'Negeri di atas Awan'. Sayang sekali kalau saya menyerah!

//

Ekspektasi seringkali mengkhianati realita.
Dan pada mata2 yang kecewa, memandang sekitar puncak dengan nelangsa.

Sial!

Tidak peduli seberapa kuat usaha, fakta tidak pernah merendah hati untuk mengindahkannya.

Ah barangkali memang tiada keberuntungan di sini.

Asap putih pekat itu mengambang di seluruh penjuru.
Bukan buramkan pandang lagi, ya memang hanya itu yang tercermin pada bola mata masing2 wisatawan.

Angin sangat kencang pagi itu, dan harapan atas pertunjukan datangnya mentari belum terhempas olehnya.

Karena masih pukul 05.30.

Wisatawan sibuk berfoto ria meski hanya dapat memamerkan latar putih yang memekat mengisi langit Sembungan.

Ah. Bahkan setengah jam setelahnya berlalu dengan sia-sia.

Perlahan2 harapan itu kandas, berhembus bersama angin yang mencekam dingin.

Kemana negeri di atas awan itu ?

Kupikir asap pekat itu tak akan mau mengompromi keinginan kita. Keinginan yg memotivasi langkah2 ini untuk menantang hujan dan angin yang meramaikan perjalanan.

"Turun saja yuk. Hujan ini, ga akan hilang kabutnya."

Dengan setengah kecewa, sembari mengecek jam yang memang sudah menunjukkan pukul 06.30--dimana tidak mungkin mentari masih terpekur di persemayamannya, saya dan ayah melangkah gontai menuruni bukit.

Maka kami turun dengan memori2 asap pekat membumbung dalam pikiran, serta harapan yang menguap bergabung bersama mereka. 

Ehe.

//

Jadi saran saya adalah, berangkatlah ke sini pada musim kemarau di bulan Juni-Agustus. Kemasi jaket dan selimut daann jangan berhemat2 membawa mereka. 

Ingat, dingin itu berat.

Tapi kabut tidak akan memberatkan harapan dan pandanganmu akan negeri di atas awan.

Tenang saja.

Bukan kabut yang salah.

Aku yang salah waktu.



Sekian.





Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah Berapa Lama?

RESENSI NOVEL PULANG LEILA S. CHUDORI