Fondasi Yang Terlupakan

Seperti laut, keindahan di atasnya ialah cermin dari nirwana bawah samudera.
Suatu waktu belum lama ini, saya tersadarkan oleh sebuah jawaban atas pertanyaan benak saya selama ini.
Sebelumnya terimakasih pada Tuhan yang sudah menggerakkan ruh dan jiwa saya untuk tidak goyah pada bisikan2 keegoisan.
Juga terimakasih sepatutnya ditujukan pada diri yang mematuhi Tuhannya untuk menolak mengindahkan nafsu dan keegoisannya hingga dapat hadir dalam sebuah acara yang insyaAllah penuh berkah dan hidayah (walaupun lelah) *cu.ih.
Pada suatu kesempatan yang saya pikir pas, ketika seseorang menyampaikan suatu materi mengenai 'karya' dan 'kreatif', saya memberanikan diri untuk melontarkan sebuah pertanyaan yang sebetulnya cukup klasik.

"Kak, bagaimana sih cara agar konsisten menghasilkan karya diantara tugas dan prioritas kuliah yang tidak sedikit?"

"Yang pertama adalah, jaga amal yaumiyah kita," ujarnya tanpa berpikir lama.

"Kalau amal yaumiyah kita sudah terjalani dengan baik, sholat tepat waktu, tilawahnya, rawatibnya, dhuha, bantu orang lain, sedekah, saya pikir keteraturan tersebut akan membawa berkah bagi waktu-waktu kita yang lain, menjadi lebih produktif dan tidak sekadar sibuk."


Saya terhenyak. 

Mengingat seminggu kemarin berlalu dengan sungguh sia-sia, penyesalan itu menyeruak dalam kotak sanubari saya. Sholat saja masih suka ditunda, qiyamullail yang ogah-ogahan untuk menepis hasrat di atas kasur, dan semua amal lain yang terlewat begitu saja tanpa ada usaha bahkan niat untuk melakukannya. 

Sudah sekeren apa saya sampai membawahprioritaskan urusan Tuhan hanya atas alibi sok sibuk. Sibuk yang rugi. Dan gabut yang sia-sia. 

Sudah merasa baikkah? sudah merasa mampukah?

Padahal, bagaimana hidup seseorang merupakan cerminan dari sholatnya, cerminan dari bagaimana ia memprioritaskan hak Allah di atas haknya sendiri. 

Bagaimana ia tidak hanya berorientasi pada kewajiban sebagai hamba, namun sadar bahwa kewajiban adalah hal mutlak dan semestinya dilakukan, sedang hak adalah sesuatu yang beriringan dengan kewajiban, dan harus diperjuangkan agar korelasinya dapat bersinergi dengan baik.

Yaelah serius amat. Intinya, Allah dulu. 
Apapun yang kita kerjakan untuk menunda hak-Nya, sesungguhnya dia lebih berkuasa atas segala hal. Penuhi hak-Nya, maka Ia akan menuntaskan segala urusan hidup kita.

Hal besar berawal dari hal kecil. Manusia itu laiknya sebuah bangunan. Seperti apa kekokohannnya, ialah refleksi dari fondasi di bawahnya. Semakin konsisten amalannya, semakin kokoh fondasinya. Semakin banyak relasinya, semakin kuat bangunan tersebut berdiri dengan banyak tiang menopang. Tapi ingat, sebanyak apapun relasi, jika tanpa fondasi, tidak akan tercipta harmoni. 
Jika relasi pergi, fondasi rapuh, bangunan akan jatuh, bukan?

Pulang membawa orientasi pikiran yang baru, saya mencoba bertekad memperbaiki dasar-dasar amalan saya. 

Ingat, Allah tidak akan merubah suatu kaum hingga mereka sendiri mengubah dirinya.

Yang penting, niat lurus, dan tekad.


Insya Allah, Dia selalu membersamai.



Komentar

  1. Terimakasih mbaknya sudah membuat saya kagum atas semua keagungan Tuhan. Sungguh saya harus merasa malu jika berkata tidak memiliki kelebihan. Karena Tuhan yang menciptakan, dan Tuhan selalu memberikan keistimewaan pada setiap hambaNya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah Berapa Lama?

RESENSI NOVEL PULANG LEILA S. CHUDORI