Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2019

Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Sebelumnya terimakasih Bang Tere, atas judul novel yang amat sarat makna itu. // Dengan segala ketidakmutuan penggunaan waktu pada fase liburan, Aku merenungkan banyak hal. Tidak banyak sih. Tapi cukup esensial. Barangkali tidak menjawab segala paranoidku, tapi mengarahkannya pada hal lain. Yang tidak pernah terpikir oleh keegoisanku. Kadang kala, beberapa kerabat datang dan selalu ada kata2 yg terlontar mengenai: "Udah nanti periksa giginya di dek aliyya aja." Kemudian aku tertawa, garing. " Aku bilang ke ade aku, dek kalo mau rapiin gigi tunggu nanti dek aliyya jd dokter aja." Lagi, aku tersenyum, agak kecut. "Ehh ada dokter gigi.." Lagi dan lagi, kegetiran itu mengalir seiring senyum yg merekah di bibirku. "Al nanti aku tag kamu behel pokoknya." Seneng ga seneng. Aku selalu takut mengecewakan org lain. "Gimana kuliahnya?" Bertanya dg antusias. Apalagi kalau ada yang ngomong, "dokter Aliyya.." Maka serta merta aku...

Secangkir Kronik dan Bumbu Revolusi

Gambar
BY  SCATTER EDITORIAL DESK Sudah berapa lama blog ini? Kalau dibilang baru, maka debat pilpres penuh kisi-kisi kemarin jauh lebih hangat untuk dibilang baru. Sayangnya, napasnya bahkan belum mencapai usia adik tunggal saya yang sudah numpang di dunia selama kurang lebih 33 bulan jika hendak dibilang tua. Ah, waktu terlalu canggung untuk ditakar. Tahu-tahu saja sudah 2019. Kemarin rasanya masih jadi anak asrama yang semua kebutuhan terpenuhi dengan baik, sekarang sudah harus luntang-lantung jadi anak kos di tepi Bandung kalau masih mau hidup. Baru kemarin rasanya Revolusi Industri Generasi Ketiga, tahu-tahu sudah tercetus wajah-wajah Revolusi Industri 4.0 : anak dari revolusi ketiga yang bergelorakan teknologi. Revolusi yang menjadi arus inti kehidupan masa kini, dimana teknologi dengan putra mahkotanya: internet, akan menahkodai pelayaran kapal dunia dengan layar-layar digital. Dunia dan segala konstruksinya disalin dalam dimensi virtual. Toko tanpa kas...

Malam, Kopi, dan Hati.

Gambar
Kadang aku harus berterimakasih pada malam. Ah, maaf kemarin sudah membencimu, aku memang egois pada nafsu. Malam, dan secangkir kopi di atas meja adalah teman terbaik menemukan jodoh2 ide. Barangkali pagi sudah terlalu sibuk dan siang datang dengan rayuan kantuk, malam adalah jawaban pamungkas untuk menepi dari sejuta hiruk pikuk dunia. Malam, justru membuat mata ini enggan memejam. Aku berbincang dengan hati, pikiran, jari, mata, dan layar kertas di hadapanku, mencoba meracik komposisi aksara yang tepat dari bumbu2 opini yang disampaikan tiap2 mereka. Aksara yang terukir semata2 buah dari perbincangan hangat yang hidup di senyapnya malam. Perjalanan dari detik ke detik berikutnya, aku tetap ditemani malam dan secangkir kopi. Menyusuri setiap butir malam yang tidak boleh terlewat sedikitpun. Ah. Tapi, malam ini hati gelisah sekali. Jari dan pikiranku tetap harus bekerja, sedang dalam dentang waktu yang sama, hati begitu rewel dan menggeram2 macam pesak...

Teruntuk Sajak; di Malam Januari

Gambar

Dua Sisi #Opini

Suatu individu, lebih punya integritas mana, yang lebih baik budi pekertinya atau materinya ? Misal. Ketika seorang A memiliki wajah yang rupawan dan fashion mengagumkan, tentu akan menggugah tiap mata yg memandang. Sayangnya, tidak semua pandangan hati akan sinergis dengan mata. Dan perspektif manusia pun tidak selalu sama dg pandangan Tuhan Yang Maha Tahu. Contoh kedua. Ketika seorang B memiliki wajah yg biasa saja, dengan budi pekerti yang luar biasa, apakah pandangan dg org ini sama dg org pertama? Mata dengan fungsi primer utk melihat justru adalah entitas awal dari hal2 tabu. Barangkali ia memutuskan utk membutakan dirinya sendiri akan sebuah kebenaran dari hati. Sedang pandangan dari hati, lahir dari intervensi keyakinan, pengalaman, dan lingkungan. Jika kombinasi tersebut menciptakan pikiran yang baik dan matang, maka kebenaran hati tidak akan ditolak hanya oleh penglihatan. Sebelum menjelaskan lebih, saya bisikkan bahwa ini hanyalah sample dari 2 manusia yang te...

REST IN PEACE | DUA HADIAH DALAM SATU PAKET

Gambar
-- Sebaik-baik nasihat adalah kematian. Tulisan ini saya dedikasikan untuk salah satu guru saya tercinta, Alm. Bu Nur Apriyani. Kalau dibilang terkejut, maka saya termasuk orang yang 'terpaksa' mencerna kabar itu dalam pikiran saya. Jujur buk, meski entah kapan terakhir kali kita beradu pandang, bayang2 ibu tersenyum masih terngiang dan alam bawah sadar belum mau berhenti memberontak kenyataan pahit itu. Sudah ribuan kali mendengar nasihat akan ajal, namun berkali2 juga hati ini jatuh dan sulit sekali memeluk takdir Tuhan itu. Bahwa detik demi detik yang berhasil dilalui adalah sebuah rezeki, dan hanya kematianlah yang kemudian menghentikannya. Ibu hebat. bahkan dalam kepergianmu, kau sudah tunjukkan betapa gigih perjuanganmu di hadapan Allah, mempersembahkan insan terbaik untuk dunia. InsyaAllah dia sholeh, dan keberadaannya menggantikanmu. Betapa luar biasa kau buk, kau tidak pergi tanpa jejak. Kau tetap biarkan ia di sini, mengembara di hutan dunia.  ...

2019 VIBES | TENTANG RESOLUSI

Gambar
Saya harap belum terlambat lah ya, masih cukup bijak mengunggah konten ini pada 2019 yang masih berumur 5 hari. Ehe. // #captioninstagram 《JANGAN MAU DIJAJAH !》 Saya kira yang menyedihkan bukan ketika kita dijajah. Bukan ketika kita kalah. Yang jauh mengiris hati dan miris, ketika kita dijajah dan kita kalah, tetapi kita tidak merasakannya. Tidak merasakan tentu tidak akan memunculkan perlawanan. Tidak akan ada perjuangan untuk mencapai realisasi daripada resolusi masa depan. Jangankan resolusi bangsa, resolusi diri pun sebatas manis di ucapan. Masih muda jangan mau dijajah malas. Bagaimana mengentaskan penjajahan dan diskriminasi di atas bumi jika dibelai malas saja kemudian lunglai? Sebagaimana kata Bapak Presiden, anak muda harus mau bekerja keras dan jangan senang sama yang instan. Senang dengan proses, dan optimis. Kalau Muhammad Al Fatih tidak pekerja keras, maka Tuhan tidak akan membuatnya menaklukkan Konstantinopel pada 1453. Lho, malas saja tidak pernah...