Secangkir Kronik dan Bumbu Revolusi





Sudah berapa lama blog ini?

Kalau dibilang baru, maka debat pilpres penuh kisi-kisi kemarin jauh lebih hangat untuk dibilang baru. Sayangnya, napasnya bahkan belum mencapai usia adik tunggal saya yang sudah numpang di dunia selama kurang lebih 33 bulan jika hendak dibilang tua.

Ah, waktu terlalu canggung untuk ditakar.

Tahu-tahu saja sudah 2019. Kemarin rasanya masih jadi anak asrama yang semua kebutuhan terpenuhi dengan baik, sekarang sudah harus luntang-lantung jadi anak kos di tepi Bandung kalau masih mau hidup. Baru kemarin rasanya Revolusi Industri Generasi Ketiga, tahu-tahu sudah tercetus wajah-wajah Revolusi Industri 4.0: anak dari revolusi ketiga yang bergelorakan teknologi. Revolusi yang menjadi arus inti kehidupan masa kini, dimana teknologi dengan putra mahkotanya: internet, akan menahkodai pelayaran kapal dunia dengan layar-layar digital. Dunia dan segala konstruksinya disalin dalam dimensi virtual.

Toko tanpa kasir, produksi tanpa tenaga fisik, belajar tanpa guru, kelas tanpa dinding, dan boleh jadi berobat tanpa dokter akan menyusul (inginnya sih tidak, berhubung saya mahasiswa kedokteran). Tapi yang saya petik sejak era revolusi industri pertama hingga sekarang: awal masa revolusi 4.0, buku tidak pernah menjadi kuno. Meski sudah banyak platform  yang menyediakan layanan buku digital seperti wattpad, sweek, termasuk blogspot juga, toko buku tak pernah kehabisan penggilanya. Penerbit juga semakin gencar mempromosikan paket-paket penerbitan via sosial media yang mudah sekali tersebar, dan banyak sekali penulis wattpad yang kemudian diterbitkan naskah digitalnya. 

Ah. Entah kenapa, selalu ada rasa yang menggugah ketika membaca dan membolak-balik lembaran kertas, yang tidak dapat dihembuskan oleh layar telepon genggam dan radiasinya. Seumpama kitab suci, kedigitalan raganya justru akan merusak napas-napas kesyahduannya sendiri.

Maka itu, sedari dulu saya selalu berambisi untuk menebarkan kenikmatan dalam setiap ukiran-ukiran aksara yang saya tuang di atas lembaran kertas. Saya punya sedikit kenangan dalam dunia tulis-menulis. Berawal dari sekadar iseng menulis dengan menggeluti ekstrakulikuler jurnalistik di sekolah, lalu kerap meraih juara satu kecematan yang sialnya dicurangi sehingga tidak bisa lanjut ke tingkat berikutnya, kemudian 4 kali pengiriman naskah yang berujung penolakan. Penolakan berturut-turut dan mental saya yang lembek membuat tangan saya akhirnya bungkam untuk kembali menulis. Dan kesibukan saya di sekolah yang jauh dari orang tua kian meredupkan lampu-lampu ambisi dalam hati saya.

Figure 1: Empat Naskah yang Ditolak

Dalam masa vakum itu, saya tetap menulis diari sebagai upaya kecil untuk tetap menjaga kegemaran saya agar tidak menumpul. Kurang lebih 3 tahun saya berhenti, dan hanya pernah mengirim cerpen ke suatu majalah yang tetap tidak masuk nominasi. Dan karya-karya yang lain hanya berhenti di atas kertas, itu pun paling-paling karena tugas Bahasa Indonesia saja. Saat SMA saya sempat membuat blog, yang perlahan-lahan mati dimakan waktu dan kemalasan saya sendiri.

Hidup di sekolah berasrama, tanpa benda-benda digital yang bisa dijamah sesuka hati ditambah kemalasan saya mencari informasi ternyata membuat saya agak terseok di belakang. Nongkrong di warung internet sekolah hanya untuk menonton film atau video musik, tidak pernah terpikir mencari-cari lomba. Padahal dunia digital sudah semakin meraksasa, dan saya justru dibuat kerdil olehnya.

Pada suatu liburan semester, diantara kegabutan saya mengutak-atik social media, saya dipertemukan dengan sebuah pamflet lomba puisi. Berbayar sih, tapi tidak apa. Barangkali memang masa kebangkitan sudah saatnya dimulai. Mimpi-mimpi yang sempat terkubur dan rata dengan tanah digali, ditanam dengan pupuk tekad yang baru dan disiram dengan doa-doa semesta.

Iseng, tidak berharap hadiah, bahkan saya nyaris ketinggalan informasi karena pengumumannya akan disebar saat saya sudah di asrama. Peradaban suci, dan kesibukan menghafal membuat saya lupa tentang segalanya. Sampai suatu waktu, saya terpikir meminjam android teman, beruntung dibolehkan.

Ajib!

Benar kata Afgan, jodoh pasti bertemu.

Pamflet pengumuman sudah diunggah di depan mata. Takut-takut saya membacanya, padahal tulisan tidak menggigit. Tapi saya memang paranoid.

Baris demi baris saya telan dalam otak, pelan-pelan, khawatir tersedak.

Serta merta saya terkesiap. Tercenganglah jantung saya yang berdetak terbirit-birit, memompa darah lebih kuat, dan gemetar menjalari benang-benang jiwa.

Hei, ada namaku di situ!

Figure 2: Buku Antologi yang Memuat Puisi Saya

Benar, sore itu menjadi saksi bisu awal kebangkitan kronik kepenulisan saya yang sudah mogok beberapa tahun.

Ya meskipun, ini baru kemenangan kedua saya, sih.

Sungguh berterimakasih saya pada lembaga itu, lewat dia Tuhan hembuskan napas-napas angan yang baru.
Kemudian lebih banyak lagi pamflet-pamflet lomba yang mampir di beranda instagram saya. Hampir semua lomba puisi saya ikuti, sampai tidak peduli menang atau tidak, pengumumannya sudah lewat atau belum, bahkan puisi yang mana yang diikutkan pun lupa-lupa ingat.

Namun di setiap lomba yang saya ikuti, lama-kelamaan saya justru merasa kehilangan akan karya-karya saya sendiri. Buku-buku antologi yang memuat puisi saya harus dibeli dengan harga yang tidak murah jika ingin menikmatinya. Sedangkan saya ingin karya saya bisa dengan mudah dinikmati banyak orang, termasuk saya sendiri.

Mendekati ujung tahun 2018 ketika saya sudah mengemban amanah sebagai ‘mahasiswa’, tiba-tiba sebuah ide hinggap di kepala. Blog yang sudah mati biarlah tenang ditelan waktu, dan saya rintis blog baru dengan tekad yang lebih menggebu. Dunia sudah berkembang pesat, jangan tertinggal lagi.

Penatnya perkuliahan adalah salah satu hal yang mendorong saya merintis blog; sebuah diari tanpa rahasia, siapapun dipersilakan untuk membacanya. Dengan menjadi narablog, saya tetap bisa melatih konsistensi sekaligus mengembangkan tulisan-tulisan saya meski di tengah kesibukan kuliah. Saya tentu tidak ingin bakat saya mangkrak dan mogok lagi di tengah jalan sepi tanpa pom bensin. Blog membuat saya bebas menuangkan rasa apapun, menepi dari hiruk pikuk bentala yang memusingkan, mencoba menghargai kesendirian dengan berbagai perenungan diri.

Revolusi Industri 4.0–sebagaimana yang sudah dipaparkan di atas–membuat saya optimis, menjadi narablog adalah suatu keputusan yang tepat! Mendukung literasi bangsa Indonesia melalui jari-jari yang menuang aksara di atas kertas-kertas digital. Meski begitu, mimpi saya menghasilkan sebuah buku sejak SD tidak akan punah. Saya justru mencoba mendekatinya dengan terus menulis di blog dan mengikuti beberapa lomba, percaya bahwa suatu saat semesta akan menggerakkan takdir-takdir yang hebat mendekat pula pada saya. Sungguh, tidak ada kekuatan yang lebih dahsyat dari tangan-tangan Tuhan.



Menjadi narablog nyatanya mampu sedikit demi sedikit mengobati saya atas keputusan kuliah yang masih mencakar kedamaian jiwa dan raga. Keputusan yang membawa saya pada dunia yang menakutkan, dan saya harus menghadapinya. Keputusan yang seringkali berujung keputusasaan. Saya hanya perlu percaya, Tuhan lebih tahu kemana abdinya yang lemah ini mesti melangkah.

Hei, di blog pun saya tidak perlu takut lagi untuk ditolak kan? Ehe.

Intinya sih, sekeras-kerasnya hidup yang kita jalani, jangan pernah berhenti melakukan apa yang kita suka. Takdir yang ada bukan untuk memangkas hak kita untuk membahagiakan diri sendiri, kok.

Sebagaimana blog, yang memberi saya napas-napas harapan baru yang tiada batas.

Dan tahun 2019 menjadi wadah resolusi saya untuk mengembangkan ruang digital ini. Mengokohkan fondasinya dengan segenap tekad, mewarnai dindingnya dengan eufoni sajak, memberinya atap transparan agar pandangannya dapat menembus setiap sisi langit dan rahasianya, dan tidak lupa saya pasang pintu yang tidak terkunci agar siapapun bebas mengunjunginya. Ruangan ini saya bangun agar setiap orang dapat merasakan keteduhan dan memeluk kebahagiaan bersama-sama.

Tanpa pembaca, penulis tak ubahnya matahari tanpa bumi. Kita membaca untuk menulis, dan menulis untuk bisa berbagi.

Tidak ada kata selesai dalam menulis, kita hanya harus berani memulai dan melanjutkannya, kan?

Tapi tidak perlu muluk-muluk, kok. Suatu waktu jika tangan Tuhan sudah berkenan, bibit komitmen dan konsisten yang terus ditanam dalam semen fondasi akan menghasilkan bangunan yang luar biasa. Tuhan sendiri yang akan menggerakkan hati-hati manusia untuk menjadi tamu bahkan pelanggan setia yang rela berlama-lama singgah di sana.

Barangkali lewat blog juga Tuhan titipkan salah dua rezeki untuk kita. Memetik keberkahan dari seuntai kata yang menjadi kalimat, kalimat yang menjadi paragraf, dan paragraf yang membentuk potongan-potongan tubuh narasi. Lalu siap dinikmati!

Ah, angka dua tidak akan ada tanpa angka satu, dan ketiadaan angka satu hanya membuat bilangan seribu menjadi sia-sia. Dan setiap angka satu, selalu tumbuh dari titik nol.

Saya yakin, platform blog adalah titik nol bagi siapapun yang mencintai ukiran aksara dan senang untuk membagikannya. Menjadi narablog berarti menggeser jarum dalam garis bilangan dari titik nol ke angka satu. Bermula dari ketiadaan, menjadi keberadaan, lalu menciptakan peradaban.

Blog membuat siapapun bisa menggunakannya sebagai sarana untuk berperan dan berkontribusi lebih untuk bangsa. 

Revolusi Industri 4.0 sudah di depan mata, jangan sampai digitalisasi yang kian meraksasa membuat bangsa kita menjadi tidak berdaya.

Akan banyak perubahan di masa mendatang, jika kita tidak melakukan manuver resolusi yang menunjang perkembangan diri kita untuk menghadapinya, maka kita sendiri yang akan tergilas roda-roda perubahan itu. 

Kepada resolusi yang meniupkan angin baru 2019, jangan manis-manis kalau nantinya hanya mengulang tahun-tahun kemarin yang berakhir tragis.

Mari optimis!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah Berapa Lama?

RESENSI NOVEL PULANG LEILA S. CHUDORI