Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Sebelumnya terimakasih Bang Tere, atas judul novel yang amat sarat makna itu.

//

Dengan segala ketidakmutuan penggunaan waktu pada fase liburan,

Aku merenungkan banyak hal.

Tidak banyak sih. Tapi cukup esensial. Barangkali tidak menjawab segala paranoidku, tapi mengarahkannya pada hal lain. Yang tidak pernah terpikir oleh keegoisanku.

Kadang kala, beberapa kerabat datang dan selalu ada kata2 yg terlontar mengenai:

"Udah nanti periksa giginya di dek aliyya aja." Kemudian aku tertawa, garing.

"Aku bilang ke ade aku, dek kalo mau rapiin gigi tunggu nanti dek aliyya jd dokter aja." Lagi, aku tersenyum, agak kecut.

"Ehh ada dokter gigi.." Lagi dan lagi, kegetiran itu mengalir seiring senyum yg merekah di bibirku.

"Al nanti aku tag kamu behel pokoknya." Seneng ga seneng. Aku selalu takut mengecewakan org lain.

"Gimana kuliahnya?" Bertanya dg antusias.

Apalagi kalau ada yang ngomong, "dokter Aliyya.." Maka serta merta aku hanya berharap membran timpaniku tidak pernah menangkapnya, atau seharusnya orang itu tidak sembarangan mengucapkannya.

Buatku seluruh ucapan itu seumpama beban yang berton2 massanya.

Semua pandangan dan ucapan penuh harapan besar itu terpikul pada pundak lemah ini. Pundak milik seorang abdi Tuhan yang kelewat hina ..

Apalagi, baru aku satu2nya yang ambil jurusan ini seangkatan yg jumlahnya 400 orang.

Betapa riang sekali mereka mengatakan hal itu, seolah di masa yg akan datang, aku akan benar2 hadir dalam sosok dokter gigi yg mereka bayangkan. Yang akan mereka temui dengan suka hati pada suatu hari nanti. Ya, once upon a time, barangkali ..

Kemudian aku terjerat pada jeruji kegamanganku.

Terkadang aku merutuki diri yg selalu egois dan pesimis akan sesuatu yg tidak kusukai sama sekali. Tapi toh kenyataannya memang ini pilihanku. Maka bukan masalah suka atau tidak, sebab konsekuensi mutlak setelah memilih adalah bertanggung jawab.

Bagus2 kalau suka, kalau tidak suka maka siapapun tidak boleh disalahkan.

Namun di detik yg lain, aku merasa payah. Payah dalam menghancurkan egois dan pesimistis itu sendiri, yg sialnya sudah terbangun kokoh mjd benteng yang kemudian membatasi diri pada gerbang solusi. Solusi yang selalu ada, namun telinga dan mataku bagai terbungkus selimut besi. Aku selalu mengindahkan perspektif yang hanya berpikir mengenaiku, mengenai kesejahteraanku, dan tidak secuilpun memerhatikan eksistensi orang lain yang begitu berharga dalam hidupku.

Mengenai ayah, ibu, dan kerja keras mereka selama ini, yang tidak aku hadirkan dalam diskusi kegelisahanku akan hal ini.

Berkali2 mata ini berurai menyesal, namun pada tabir yang lain berkali2 pula diri ini merutuk penuh dendam, seakan2 aku berada di sini hanya karena hasrat semata mereka. Mereka yang ingin anaknya punya masa depan cerah dan menjanjikan, meski pada detik yang sama aku harus sedikit demi sedikit memadamkan api impianku selama ini dengan air mata yg berderai.

Entah berapa kali..

Aku hanya harus percaya dan berjanji pada diri sendiri, bahwa impian itu tidak akan pernah benar2 padam, menguap bersama ampas2 abu yang beterbangan..

Aku kira menyukai suatu hal itu mudah. Nyatanya tidak begitu. Betul cinta memang tidak bisa dipaksakan, kan?

Biologi tidak pernah menjadi cinta pertamaku, keduaku, bahkan terakhirku..

Tapi aku akan coba untuk menjadikannya perantara cintaku kepada Tuhan, Allahku..

Dan semoga cintaku berbalas..

Komentar

  1. Ah lagi2. Suka bat guaa
    Tapi gak bisa gak anonim. Heuu
    Semangat Aliyya! Kalo gua si panggil lu dokter emang pengen bikin lu terpacu, bukan cuma termangu, apalagi jadi kuyu. Ea.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah Berapa Lama?

RESENSI NOVEL PULANG LEILA S. CHUDORI