untukmu agamamu & untukku agamaku

kalau mau jujur, dan memang fakta, sadar gak sadar dunia makin aneh. makin unik. makin ekstrem. makin mikirin diri sendiri. dampak dari perkembangan teknologi dan informasi, sebenernya bikin pikiran terbuka sih. lebih tepatnya, seolah-olah terbuka. orang mudah sekali menerima informasi dan jika menyinggung kebutuhan dirinya dan itu menguntungkan 'dia', maka informasi tersebut akan disimpan baik-baik di otaknya. nah, parahnya lagi, ada yang sampai menjadikan itu sebagai landasan dalam berpikir dan beralibi. akan bagus kalau informasi itu tepat dan tidak melanggar suatu norma, tapi jika sebaliknya, bagaimana? 

hari gini, manusia makin pintar ngomong. makin pintar berargumen. makin tau banyak hal. sebetulnya tidak menjadi masalah, selama tidak kelewatan. tapi, yang paling aku sayangkan adalah, 

manusia menjadi semakin pintar berdalih demi menjauhkan dirinya dari agamanya sendiri. 

bahkan dalam beberapa fenomena, kalimat "untukmu agamamu dan untukku agamaku" ini juga berlaku untuk yang seagama. kadang muncul sebagai ucapan "nggak usah ngurusin perilaku buruk orang lain. kita cuma beda memilih dosa. dosamu ya dosamu, dosaku ya dosaku."
yang sebetulnya, ucapan itu mengiris keberadaan kita-aku-sebagai sesama muslim, yang adalah saudara bagi muslim yang lain. cukup menyesakkan dada aja sih. sedih. 

seolah-olah kita nggak boleh diingetin kalau salah, padahal kan, yang ga ngingetin itu pun dosa tanpa harus ngurusin sesama muslimnya. jadi kayak sama aja nyuruh kita dosa buat nggak mengajak ke Allah secara nggak langsung? maksudnya gimana sih, jadi mau sama-sama ke neraka lewat jalan yang berbeda, gitu?

masuk surga cuma pakai rahmat Allah, kita berbuat baik kalau rahmat-Nya tidak menaungi ya nggak masuk. tapi masuk neraka tergantung dosa. tergantung kita. dan setiap kita berdosa, cuy! 

gatau ah puzing.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah Berapa Lama?

RESENSI NOVEL PULANG LEILA S. CHUDORI