Mengulik Luka Dibalik Aksara
Sejak dikenalkan dengan dunia tulis menulis di sekolah dasar, entah kenapa langsung jatuh cinta. Saya mulai dari menulis cerita pendek soal kehidupan, cerita bersambung tentang pertemanan, bahkan novel jadi yang berkisah perjuangan mencapai mimpi.
Sayangnya, tidak ada yang indah dengan masa kecil saya. Yang saya ingat dari masa kanak-kanak itu hanya kegagalan demi kegagalan yang beruntun, dan sedikitpun tidak saya ingat orang tua saya-sebagai orang terdekat yang tahu segala hal, menghibur saya dalam keterpurukan itu. Tidak adanya dukungan di masa kecil yang meredakan perih, maka keterpurukan sukses mengambil alih peran untuk menggali lubang amat dalam di jiwa kecil saya yang saya bawa hingga sekarang, bernama trauma.
Yang menarik adalah, meskipun jatuh berkali-kali, saya tidak pernah berhenti atau sedikitpun berpikir untuk meninggalkan kesukaan menulis. Semakin dewasa, tulisan saya semakin berkembang, saya banyak memerhatikan kepingan hidup di sekitar saya, bahkan apa yang terjadi dalam diri saya sendiri. Aksara yang terus terukir, memberi nafas segar saat berbagai kecemasan dalam pendewasaan terasa mencekam.
Saya menyenanginya, tanpa pernah sadar bahwa ada luka menahun di balik tulisan-tulisan nan syahdu itu. Ada kebutuhan yang tidak terpenuhi di balik gemarnya saya menulis apapun yang terlintas dalam pikiran maupun batin saya. Ada kehilangan yang coba ditutup-tutupi oleh kain rapuh bernama tulisan yang berirama tegar. Ada luka yang ia coba bagikan dalam tulisannya yang panjang di malam-malam kesepian.
Ada lisan yang ingin didengarkan, bahkan hanya oleh dirinya sendiri.
Tidak terpenuhinya kebutuhan itu di masa kecil, membuat sosok dewasa saya begitu sering mengeluhkan bagaimana banyak orang tidak mendengar saya, mengabaikan saya, pun tidak sama sekali menghargai keberadaan atau pencapaian saya. Saya tidak pernah mempermasalahkan perilaku amoral lain, tetapi tidak dengan yang itu.
Hingga suatu saat, saya mendengar kalimat ini dari orang tua saya sendiri.
"Udah, nggak usah nulis lagi."
Saya harusnya sadar, bahwa nyatanya luka kronis itu justru bermula dari rumah saya sendiri. Saya mulai mengingat apa yang terjadi di masa kecil, apa yang membuat sosok dewasa saya tumbuh dengan menyalahkan banyak orang. Saya kira akan selalu ada orang yang tidak mendengarkan dan mengabaikan kita, saya hanya melampiaskan luka itu ke orang lain atas apa yang selalu saya tuai dari keluarga saya sendiri.
Maka menulis semata-mata adalah perilaku defensif saya dari kekosongan peran akan kebutuhan untuk didengar & dihargai.
Menulis pertama-tama membuat saya bisa mendengar ombak dalam lautan akal dan sanubari saya sendiri. Tulisan membuat orang lain bisa mendengar lewat mata hati dan barangkali merasakan perasaan yang sama, menyadarkan saya bahwa saya nggak sendiri. Aksara yang lahir dari semua kegelisahan, mengantarkan saya pada penghargaan atas kekurangan saya dan untuk merasa tidak baik adalah wajar. Tulisan yang tercipta adalah representasi dari keberadaan pemikiran saya sendiri, bahkan jika orang tidak mengindahkan keberadaan saya saat ini, maka biar mereka yang berbicara. Cukup mereka jadi penanda bahwa saya pernah ada di bumi, dan barangkali jika keberadaan saya memang hanya akan dihargai ketika mati.
Saya seringkali kesulitan menyampaikan apa yang saya rasakan secara verbal, karena saya selalu diajarkan untuk diam, dan tidak pernah diberi kesempatan untuk didengar sejak kecil. Saya takut gagal, karena khawatir tidak diterima siapapun. Bahkan meski tidak takut mencoba, saya selalu menghindar dari pengumuman hanya karena saya takut dengan hasil yang tidak sesuai ingin.
Tapi saya tidak boleh terperdaya dengan masa lalu. Penyesalan hanya milik yang tidak siap untuk perubahan. Saya mencoba paham bahwa tidak ada orang tua yang sempurna, meski saat ini saya harus setengah mati membangun dan memperbaiki diri saya sendiri, setidak-tidaknya ada pesan moral ketika menjadi orang tua suatu saat nanti. Dengarkanlah anak dengan sebaik-baik pemahaman. Dukung dan hargai ia sebesar mungkin justru dalam kegagalannya. Jangan mendorongnya hanya atas ambisi pribadi, cukup yakinkan karena dirinya sendiri, dia adalah dia, mimpinya adalah mimpinya.
Pun pada akhirnya, kita berdiri hanya atas kaki kita sendiri, dengan restu Sang Pemilik Matahari.
Allahua'lam.
Komentar
Posting Komentar