Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Meregang

Hidup melelahkan sekali ya? Akhir-akhir ini bahkan bernafas saja menurutku menambah beban pikiran. Bagaimana aku harus mengurus banyak hal dengan hanya 2 tangan dan jiwa yang telah terburai? Bagaimana aku harus melanjutkan hidup di atas kaki yang tertatih setelah terjerembab dalam kubangan? Bagaimana aku harus mempertanggung jawabkan diriku yang kacau balau ini di hadapan Tuhan? Apakah Tuhan akan menerimaku? Sudah tidak ada lagi gairah dalam diri ini. Bahwa rasanya ide tentang betapa kematian akan menyudahi kesulitan lebih disenangi oleh pikiran daripada kehidupan yang membanting tulang-tulang pertahananku saban hari. Bahwa kepedulian manusia hanya akan tumbuh ketika aku mati, aku sangat meyakini itu. Jika kemarin aku lahir sendiri, akan mati sendiri, mengapa saat hidup harus begini sendiri jua? Apakah bau dosaku menyingkirkan semua manusia dari peredaranku? Apakah aku belum cukup menderita dalam sunyi sejak dulu? Apakah hanya sepi yang benar-benar sudi jadi kawanku sampai akhir hayat?...

Halte Bus #BukanCerpen

"Hei, kita kayak sesuatu yang nggak selesai ya." Aku menunduk dan sibuk menatap jari-jariku, mencoba rileks dengan menghindar dari memandanginya. Aku bisa kacau. Kekacauan yang sebetulnya sudah dimulai sejak beberapa hari yang lalu. Pesan masuk di suatu sore; singkat, padat, dan tidak jelas.   "Aku akan ke daerah kampusmu."  Kalimat yang sejak saat itu tidak pernah minggat secuilpun dari pikiran dan mimpi-mimpiku di malam hari, meski tidak kujawab. Dan kau memang tidak sedang meminta izin, kau menyisihkan ketidakjelasan pesan sore itu dengan panggilan Whatsapp siang tadi. Beberapa menit sebelum praktikum dimulai. Kerja bagus, sebab debaran dalam hati ini kian berpacu entah oleh dokter yang tiada henti mengkritik atau teleponmu yang berakhir pada pertemuan mendadak saat ini. "Memangnya kita pernah mulai?" Kau terkekeh masam, seolah itu hal yang amat kau sesali dan entah kau harus menyalahkan siapa. "Kalau menurutku pernah gimana?" "Kalau m...

Random thoughts that you don't have to read, trust me

Sesuatu yang tidak perlu dibaca, mungkin, tapi aku ingin menulisnya pertama-tama untuk diri sendiri. Liburan kali ini cukup panjang (sungguh gue mensyukuri ini), dan beberapa pikiran yang menggentayangi kepala dari awal libur sampai sekarang gue tuang di sini. // Jarak sungguh menguji segala macam hubungan. // Kenapa orang harus selalu terhubung satu sama lain? Kenapa nggak bisa cukup dengan diri sendiri? Di saat ketemu sama orang susah, menjaga hubungan itu susah, bahkan banyak berantem sama diri sendiri, kenapa harus tetap terjebak oleh keharusan berhubungan dengan orang lain? Ini keharusan, atau kebutuhan?  Kalau kebutuhan, kenapa rasanya sulit sekali? Kenapa kayak sedang dalam perlombaan siapa dapat paling banyak, siapa dapat paling cepat, siapa dengan siapa? Apa kita harus selalu berusaha keras untuk kenal dekat dengan seseorang? Kalau iya, kenapa kayak lagi memaksa diri? Kalau nggak cocok, usaha apapun bakal percuma kan? Kalau nggak kunjung muncul rasa nyaman, sebenenya apa y...

When Reading Parenting Books Subtly Feels Like Self Parenting

Gambar
  A. Gambar kanan:The Danish Way Of Parenting (Jessica J. Alexander & Iben D. Sandahl; Pengantar Ayah Edy); B. Gambar kiri: Mendidik Anak Tanpa Teriakan & Bentakan (Ayah Edy) Ini bukan review, atau lebih tepatnya, review yang berbaur dan melebur dengan bagian kecil dari hidupku sendiri. Hidupku & kontemplasinya di hari-hari libur, sebab selain tidur, aku diberi banyak waktu untuk merenung. Salah satu kesimpulan dari perenunganku adalah: aku menemukan titik hitam, mengakar panjang, dan bagaimana langkah untuk mencabutnya secara baik-baik atau, tidak menyiraminya lagi sehingga ia tidak dapat tumbuh menjadi bumerang raksasa, musuh dalam selimut jiwaku. Kurang lebih satu setengah tahun di rumah, 1 tahun pertama diisi dengan pergolakan hebat dengan banyak kehendak dari diriku sendiri; keinginan, harapan, logika, & asumsi, dalam kapasitas mental yang sedang koyak, sebagaimana dalam bab-bab sebelum ini (kau tidak perlu baca, sungguh). Setengah tahun kemudian dengan kewaras...

Sudah Berapa Lama?

2 Juni Halo? Sudah lama sekali.. pembukaan yang klise, maklum hiatus kurang lebih 5 bulan tanpa sadar. Sedang ada amanah untuk menulis sesuatu yang resmi, lalu buntu dan teringat rumah ini. Membaca satu demi satu tulisan tiap bulan dan kembali merasakan emosi yang campur aduk di dalamnya. Terharu. Takjub. Saat itu rasanya waktu berlalu sangat lambat dan menekan, sangat berbeda jauh dengan apa yang aku rasakan sekarang. Sedikit senyum terukir sebab apa yang dulu aku alami jelas begitu hebat dan aku masih di sini. Melawan berbagai cacat sikap dan pikiran yang selalu muncul terlebih ketika hal yang ditakuti itu memburu. Berusaha mendekap segala kekurangan dan menghargai nilai diri sendiri, meski patah-patah dicibir angin berlari. Guncangan emosi, jungkir baliknya jiwa, dan kerunyaman pikiran itu masih ada. Masih erat dalam diri ini, dan seringkali muncul dalam banyak kesempatan di kesempitan. Aku masih dengan ketakutanku yang dulu, tetapi dalam jiwa baru yang dibangun dengan ruang-ruang k...