Postingan

Menampilkan postingan dari 2022

Thank yourself, endlessly

Gambar
First of all, I want to sincerely thank my friend for giving me this thoughtful gift as an appreciation for my "thesis defense" presented approximately 2 months ago. This cute one is a handcrafted bookmark, at least that was just my first impression as how she explained it to me briefly, we were out of time to talk more at that time. Thus I thought it was purely a butterfly-shaped bookmark I should use for my reading and take care of. I didn't expect there would be another thing to look for more. But yeah, I was kind of being fooled lol...  Surprisingly, there was a very short-straight sentence you can read in merely one second of time if only you manage to flip it to the other side. The message was so touching for me even from the first glance it came up to my eyes, diving further into my mind. It might be short, yet intensely calm and brought me such tranquility to stop being hard on myself, she deserved it all the way as I always tend to neglect it every time! Withou...

The Unnecessary Guilt for Being Quiet

It was on last night, words dropped before i could be ready to comprehend wisely, brought me to some unintended feeling of being insulted. Her way of talking at a slight glance was completely okay, except for me. Nevertheless, the emphasis of "you're so quiet..." stood out clearly in her sentences, the intention of her impression on me that i could get was rather unpleasant to hear. It was like she also suggested that "I'm an overly quiet person that she could hardly get any benefit from me, there were no good things she had from her relationship with me." made me wonder if.. am i wrong for being like that? Am i wrong for being quiet?  Does people wrong for being her own self? Then, why wouldn't people say, why are you so talkative? People barely making a fuss about how talkative someone in some situation, the talkative person would likely being praised here and there instead. Using the same logic, so why does being quiet have to be such a huge problem? ...

Signatura

Kalau dalam resep obat terdapat aturan pakai, aturan konsumsi, disebut signatura, berisi waktu dan frekuensi serta lewat mana obat itu dimasukkan, maka menangis pun memiliki signatura-nya sendiri. Hari ini aku sedikit, lumayan, berhasil mengendalikan diri. Hari ini hari ke 10 Ramadhan. Ramadhan, proyek menuai banyak-banyak pahala dan ampunan, sekaligus aku untuk berlatih menahan & menghibur diri dengan siraman kebaikan yang disediakan Tuhan alih-alih mulai melukai dan memaki diri dengan segala cara yang kupunya.  Al-Quran adalah obat. Al-Quran adalah obat. Assyifaa, salah satu nama yang disematkan padanya bukan semata-mata nama, namun sebuah tujuan, sebuah jiwa, sebuah penenang & solusi, ramuan yang Tuhan sendiri buatkan untuk para pengabdi-Nya yang pesakitan oleh dunia.  Dan hari ini aku telah memilihnya, daripada benda-benda tajam lain yang tersedia di atas meja. Aku telah memilihnya. Aku telah mengendalikan diri dalam aliran air mata yang membahana. Meski kalimat-ka...

Sandiwara

Oh, halo? Rupanya aku masih terbangun hari ini. Tanpa gairah. Terlalu banyak sakit dan keraguan. Sepertinya kelopak mataku berat, lipatan-lipatannya tidak kunjung hilang. Sebab belum sembuh satu sudah muncul yang lain-lain. Aku bubuhi ukiran cantik di rambut-rambut halus yang sering mengerut, harap-harap membantu menyamarkan.  Aku mencoba tersenyum di depan cermin yang selalu berbohong, namun senyumku juga pura-pura. Kita impas. Lalu, apakah hidup yang tanpa harapan masih bisa disebut hidup? Tidak masalah apabila jawabannya tidak, jangan hibur seseorang dengan membohonginya.  Dan hari ini, di hari ragaku kembali diberi hidup, lagi-lagi aku salah. Sudah mencoba, kalah lagi. Kupikir dengan terangkatnya satu beban, jiwaku sembuh. Namun rupanya dia bukan hanya terlalu banyak beban, tapi sudah terkoyak-koyak sehingga tidak dapat dipikulnya lagi harapan. Asa itu tidak membuatnya hidup, hanya menambah sesak dan rapuh. Kata-kata baik berubah menjadi belati yang menusuk. Sindiran dan c...

Ambang Pintu

Dalam titik di antara kewarasan dan kegilaan, tawaran soal lawan dari kehidupan masih terasa manis di pikiran. Aku masih sadar bahwa menjemputnya dengan sengaja bukan sesuatu yang benar, aku sudah benci diriku sendiri dan aku tidak mau Tuhan juga membenciku. Hanya atas tangan Tuhan diriku masih sudi bergerak dan bisa menyelesaikan sesuatu, meski tertatih.  Yang bisa aku simpulkan saat ini adalah, setidaknya jika pintu kebahagiaan dan keberhasilan dalam hidup duniawi terasa amat jauh dan mustahil, aku harus selalu mengusahakan bahwa pintu surga dekat denganku.  Aku harus mengingatnya dengan baik, kapanpun itu, baik saat terpuruk atau hanya tersandung.  Tidak bisakah dua-duanya aku percaya? Jawabannya adalah, saat ini tidak. Belum.. Sampai aku bisa benar-benar mencintai diriku dan apa yang ia lakukan sekarang dan di masa depan. Cinta itu tidak bisa dipaksakan, bukan? Tapi bahkan untuk berdoa meminta Tuhan memberikan rasa cinta itu, aku tetap sungkan. Sebab telah sejauh itu ...

lost

 Aku... nggak tau harus memulai halaman ini dengan apa. Aku takut.  Akhir-akhir ini, aku benar-benar takut. Aku menulis ini sambil berlinang muram.  Meski mendengar tawa keluargaku di ruangan lain, tidak ada yang berkurang dari kegamanganku.  Dalam 1-2 tahun ke belakang, aku gak pernah berani membayangkan diriku ada di posisi saat ini. Hanya karena aku yakin aku tidak akan melanjutkannya. Aku tidak akan sampai di sini. Atau, aku tidak perlu khawatir karena penderitaanku pasti akan selesai ketika aku mencapai titik ini. Nyatanya, tidak sama sekali. Kini aku betul-betul dihadapkan pada keputusan final, apakah akan melanjutkan atau berhenti? Tidak ada setengah-setengah dalam keduanya. Tidak boleh ada penyesalan di masa depan, sebagaimana yang aku pendam setengah mati beberapa tahun ini. Aku harus memutuskan. Tapi apa belum jelas bagiku bagaimana orang2 terdekat jelas akan menentang itu? Aku tidak dalam keadaan yang baik dari segi apapun. Rasanya, memilih apapun juga tet...