Malam, Kopi, dan Hati.


Kadang aku harus berterimakasih pada malam. Ah, maaf kemarin sudah membencimu, aku memang egois pada nafsu.

Malam, dan secangkir kopi di atas meja adalah teman terbaik menemukan jodoh2 ide.

Barangkali pagi sudah terlalu sibuk dan siang datang dengan rayuan kantuk, malam adalah jawaban pamungkas untuk menepi dari sejuta hiruk pikuk dunia.

Malam, justru membuat mata ini enggan memejam.

Aku berbincang dengan hati, pikiran, jari, mata, dan layar kertas di hadapanku, mencoba meracik komposisi aksara yang tepat dari bumbu2 opini yang disampaikan tiap2 mereka.

Aksara yang terukir semata2 buah dari perbincangan hangat yang hidup di senyapnya malam.

Perjalanan dari detik ke detik berikutnya, aku tetap ditemani malam dan secangkir kopi. Menyusuri setiap butir malam yang tidak boleh terlewat sedikitpun.

Ah. Tapi, malam ini hati gelisah sekali. Jari dan pikiranku tetap harus bekerja, sedang dalam dentang waktu yang sama, hati begitu rewel dan menggeram2 macam pesakitan.

Hati kadang sulit sekali diatur. Padahal ide dalam pikiran akan percuma ketika hati justru sibuk sambat, menghambat aliran impuls dari otak ke sensor motorik.

Dia seumpama jembatan yang harus dilalui untuk menghasilkan manuver yang sesuai titah akal.

Jembatan yang keadaannya sedikit labil, fluktuatif, dan penuh teka-teki.

Terkadang ia seperti jembatan berbunga yang indah dan tentram, bahagia sekali melewatinya.

Kemudian suatu waktu ia berubah menjadi jembatan yang ditutup sebuah atap, jembatan berbentuk lorong; gelap, kelam, dan suram. Bergidik orang2 yang melangkah di dalamnya.

Bahkan ia bisa menjadi jembatan seukuran tali pramuka yang kemudian meliuk2 seperti dirasuki siluman ular, dan tidak seorang pun berani menggadaikan nyawa untuk melangkahinya.

Sulit sekali menerka hati. Detik ini riang gembira, boleh jadi dengan satu pisau kata2, ia lantas murung berkepanjangan tanpa mencoba menyembuhkan luka yang kian menganga.

Abrakadabra!

Hebat sekali. Kata2 memutar haluan peradaban hati dalam sekali sentak.

Aku hanya berpesan, dalam secarik pesan 'hati-hati', mungkin apa yang dimaksud di sana adalah perkara untuk lebih dulu hati2 pada hati. Kalau kau tidak hati2 padanya, keputusanmu bisa bengkok, ketenangan akan tertutup kabut, dan kesialanmu adalah keniscayaan dari kegamangannya.

Maka malam ini aku ditemani secangkir kopi; kopi yang kandas bersama kantuk yang menguap ke langit2 malam. Suasana hati adalah eufoni yang mengisi kesunyiannya, syahdu benar.

"Malam, kopi, dan hati,
terimakasih sudah gotong royong membantuku menghembuskan napas2 aksara yang membeku di layar digital."


Malamku sudah purna, kopiku sudah kandas, hati yang gelisah sudah tersenyum kembali. Saatnya mata mendapatkan haknya yang sudah direnggut mereka.

Lagi2, terimakasih malam.

Jangan lupa untuk terpejam.

Komentar

  1. Al ini gua. Kok gua gak bisa beri komentar si. Kesel ah. Gua kan suka. Suka elu
    Ehe.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah Berapa Lama?

RESENSI NOVEL PULANG LEILA S. CHUDORI