Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Enigma

Ssst, kali ini gue mau serius dikit. Barangkali ada yang bersedia diajak diskusi.  Kemarin malam gue ikut sebuah acara (akhirnya gue beralih dari program insekyur), di akhir pematerian salah seorang founder lembaga yang ngadain acara ini banyak menyampaikan petuah-petuah dengan aksen nada dia yang unik. ( Apparently he was graduated from Gontor BS, fyi.) Gue paling seneng dengerin gituan kan.  Ada beberapa premis yang menarik perhatian gue dan bikin gue mikir. Gue ceritain salah satunya aja. Katanya sih gini, "jangan hanya membuat produk, tapi ciptakan ekosistem. produk bisa nggak laku, gagal lalu tenggelam, sementara dalam ekosistem yang telah terbangun, produk apapun punya peluang sukses lebih besar." Dalam konteks sekali baca, kita langsung terbayang soal industri atau bisnis. Barangkali jadi inget start up dan tidak lupa kedua tim pemanis itu (sayangnya gue belum nonton). Gabungan premis di atas cukup menyentil dinamika pikir gue, dan agaknya banyak contoh yang bisa kita ...

Halo. Dan sudah november. Sebagian terlalu cepat lewat, sebagian yang lain terlalu menggantung dan bikin hati nggak enak. Aku nggak tau harus mulai dari mana. Pikiranku saat ini betul-betul runyam. Datang dari mood yang bahagia karena senin selasa berhasil aku lewati, sampai bertemu rabu dengan api semangat yang naas menelan diri sendiri. Mati.  Aku masih tetap dengan kecemasanku menjelang hari senin, yang mulai dimasak sejak matahari minggu telah terbit. Ah, bahkan sebelum itu. Sabtu yang tenang aku rusak pula dengan kekhawatiran, tak pernah membiarkan jiwa ini beristirahat bahkan mendapatkan haknya untuk menghela napas dengan baik. Lalu sesuatu bernama kecemasan itu aku dekap hingga bersua rabu, dan aku tetap masih membiarkannya tinggal. Aku merawatnya begitu baik, bukan? Terlalu lugu, yang menanam ribuan biji pilu untuk menyemainya lagi di awal tahun hanya untuk memulai tahun baru dengan awan memoriam 2020 yang nian gulana. Kemudian siklus itu berlanjut. Beriringan dengan urusan...

Yang Terseok-seok

Halo.  Akhir-akhir ini aku sedang banyak memikirkan sesuatu. Terlebih ketika akhir minggu tiba, semua hal menjadi terasa rumit dan menekan diri. Aku dalam kebimbangan yang tidak ada ujungnya. Ini adalah siklus yang terulang berkali-kali, ada trauma yang juga muncul menghantui hari-hari sulitku dan.. aku takut. Aku tidak tau persis apa yang aku takutkan, kacamataku buram dan aku terseok-seok di atas jalanku sendiri.   Aku bergelut dengan semua ini dan berakhir memendamnya sampai nafasku rasanya sesak. Bertahun-tahun mencoba memaklumi dan berharap bahwa sesuatu yang baik itu akan tiba tapi nihil. Aku tetap menemui diriku yang bahkan semakin merunduk dari kepercayaan pada dirinya sendiri. Aku bertahan dengan kebimbangan, keterpurukan, kegagalan yang berulang dan menyimpannya dalam suatu kotak yang selalu aku bawa di setiap langkah. Kotak itu kian hari kian terisi penuh sampai langkahku berat dan ada suatu ketika aku benar-benar jatuh. Aku lupa menutupnya dengan baik sehingga ia m...

Sekarat

Jika sebuah tangisan bisa dihitung dan dikumpulkan, maka ia sudah jadi teman laut sekarang dan bukan cuma-cuma membasahi wajahku. Jika ketakutan bisa dibungkus menjadi satu, barangkali tumpahannya bisa menambah kelamnya aroma malam. Jika keputus-asaan yang berlimpah ini seandainya tertiup angin, dibawanya pada suatu gurun, sudahlah ia menghembuskan kemuraman di atasnya selama bertahun-tahun. Jika kemurungan ini dapat dibagi, diantarkan menuju langit, lalu ia menangisinya dengan hujan deras tanpa henti. Bahkan jika tubuh ini dibelah menjadi beberapa potong, yang memakannya akan sakit dan gila karena darahnya hanya menguarkan bau anyir lebih daripada kematian. Maka apa konklusi agung dari sekian balada itu? Ketika doa menjadi sesuatu yang ditakuti, karena kenyataan tak pernah menjamin sucinya doa. Ketika kepercayaan pada keajaiban Tuhan menjadi tumpul, dan gerakan-gerakan hanya sebatas ritual menunaikan kewajiban. Manuver yang tak mengandung makna, tapi menyirat suatu prihatin bahwa tida...

Besok Senin

Memutuskan membuat ini sebelum besok benar-benar senin dan malas jadi basi. Demi merayakan hari terakhir kemageran dan beberapa saat sebelum kemerdekaan hari penuh deadline, ada beberapa wejangan untuk saya di esok hari hingga seterusnya. Sebelum kepada siapapun, ini tertuju untuk diri sendiri lebih dulu tentu saja. Kalau mau ngomongin soal quote motivasi, sepertinya setiap orang sudah khatam dan menelannya berkali-kali sampai berliur-liur.  Mari bicara soal pengalaman. Semester 5, artinya tahun ketiga, alias sudah genap 2 tahun jatuh bangun hingga ambyar dan kamu nggak mati, kok!  Tetap hidup, dan matahari tetap mengunjungi pagi, sampai digelincirkan oleh malam. Berkali-kali takut, resah, dan semua perasaan negatif yang kamu rasakan, hanya untuk kemudian sadar kalau kenyataan nggak sekejam itu.  Berkali-kali mau ketemu senin dan diguyur paradigma seram-nya di malam sebelum hari itu dateng, ternyata nggak terbukti. Dia masih punya nurani. Berulang kali mencoba, dan salah,...

Mercusuar #BukanCerpen

Ada yang ingin kulakukan sore ini. Mendengar deburan ombak, biru langit yang berpadu dengan semburat swastamita, dan semburan angin yang kuharap bisa mengusir hiruk pikuk pikiran atas penatnya dunia.  Ah, aku harus benar-benar ke sana. Setiap sekali kayuh aku melantunkan doa, semoga ada ketenangan yang kudambakan dalam tarik napasnya. Saat segala hal menghujam diri tanpa kata henti, aku butuh mendekat pada semesta, mencoba dengar apa yang dipendamnya sebab ia begitu tegar menjalankan amanat Tuhan; bertahun-tahun diterpa matahari, berteman dengan bulan dan tarikannya, dan ia tetap menyenangkan untuk dinikmati siapapun yang hampir-hampir kehilangan dirinya sendiri. Ia sudi menjadi teman pada yang mendekat, bahkan tanpa berbicara sepatah kata, cukup ia peluk siapapun dengan pesan kasih lewat tiap ombak yang berderu menghampiri. Biar aku sendiri saja, dan butuh sendiri untuk bisa menikmati. Sebelum menjemput kedamaian itu, suara-suara asin sedikit menusuk penciumanku. Ikan-ikan dijemur...

untukmu agamamu & untukku agamaku

kalau mau jujur, dan memang fakta, sadar gak sadar dunia makin aneh. makin unik. makin ekstrem. makin mikirin diri sendiri. dampak dari perkembangan teknologi dan informasi, sebenernya bikin pikiran terbuka sih. lebih tepatnya, seolah-olah terbuka. orang mudah sekali menerima informasi dan jika menyinggung kebutuhan dirinya dan itu menguntungkan 'dia', maka informasi tersebut akan disimpan baik-baik di otaknya. nah, parahnya lagi, ada yang sampai menjadikan itu sebagai landasan dalam berpikir dan beralibi. akan bagus kalau informasi itu tepat dan tidak melanggar suatu norma, tapi jika sebaliknya, bagaimana?  hari gini, manusia makin pintar ngomong. makin pintar berargumen. makin tau banyak hal. sebetulnya tidak menjadi masalah, selama tidak kelewatan. tapi, yang paling aku sayangkan adalah,  manusia menjadi semakin pintar berdalih demi menjauhkan dirinya dari agamanya sendiri.  bahkan dalam beberapa fenomena, kalimat "untukmu agamamu dan untukku agamaku" ini j...

Mengulik Luka Dibalik Aksara

Sejak dikenalkan dengan dunia tulis menulis di sekolah dasar, entah kenapa langsung jatuh cinta. Saya mulai dari menulis cerita pendek soal kehidupan, cerita bersambung tentang pertemanan, bahkan novel jadi yang berkisah perjuangan mencapai mimpi. Sayangnya, tidak ada yang indah dengan masa kecil saya. Yang saya ingat dari masa kanak-kanak itu hanya kegagalan demi kegagalan yang beruntun, dan sedikitpun tidak saya ingat orang tua saya-sebagai orang terdekat yang tahu segala hal, menghibur saya dalam keterpurukan itu. Tidak adanya dukungan di masa kecil yang meredakan perih, maka keterpurukan sukses mengambil alih peran untuk menggali lubang amat dalam di jiwa kecil saya yang saya bawa hingga sekarang, bernama trauma.  Yang menarik adalah, meskipun jatuh berkali-kali, saya tidak pernah berhenti atau sedikitpun berpikir untuk meninggalkan kesukaan menulis. Semakin dewasa, tulisan saya semakin berkembang, saya banyak memerhatikan kepingan hidup di sekitar saya, bahkan apa yang terjadi...

Tali Sepatu

Kali ini gue mau cerita santai tentang temen, seperti yang udah pernah gue bilang di sebuah status medsos, dan beberapa bumbu lain. Kalau boleh jujur, dan mungkin kalian sendiri bisa melihat, gue bukan orang yang punya segelimang temen di mana-mana. Gue mengakui temen gue emang nggak banyak, dan gue sempet mempermasalahkan itu dulu. Saat gue belum paham apa makna temen sebenernya buat hidup.  Nggak perlu terlalu filosofis lah ya. Haha. Pandemi ini jujur bikin gue lama banget stuck di tempat. Kalo berdasarkan ilmu psikologi, fase grieving alias berduka (kita bisa sebut sebagai stress juga) itu diawali dengan shock, lalu denial (penyangkalan), depresi alias titik yang sangat menentukan tergantung gimana kita merespon itu, lalu fase naik. Bagi yang menerima dan tau apa tujuan hidup dia, dia bisa bangkit untuk mulai menyusun dan melakukan apa yg mendekatkan dia ke tujuan itu, hingga bisa nyampe ke fase penerimaan (acceptance). Alias dia udah enjoy sama hidup dan milestones ...

Memeluk Api

Halo. Lama banget ini ga nulis di sini, rasanya hampa. Karena ga banyak kejadian insighful yang gue alamin di masa kurungan nasional ini, gue mau ajak kalian buat mengilas balik masa lalu. Bukan mantan tentu saja, i dont have either . Gimana? Gabut banget kan sekarang? Hari-hari gabut ini bikin saya sering nostalgia. Kadang saya lupa kalau masih kuliah, lupa kalau banyak tanggung jawab di atas pundak dan banyak capaian menunggu di hadapan. Tapi tadi malam, sebuah video mampir di pandangan saya, dan setelah berbulan-bulan kering air mata, saya nangis. Saya dirundung haru kalau ingat masa lalu. Video itu bercerita soal perjuangan nyata beberapa orang untuk masuk ke jurusan kuliah mereka, sampai mereka ada di titik menerima hal-hal yang mulanya nggak terduga sama sekali. Saya menolak lupa, bahkan selalu mengingat dengan baik gimana hancurnya saya di tahun pertama kuliah. Kalau kalian pembaca setia blog ini dari awal entri yang saya buat, kalian pasti paham, setidaknya.. walaupun sedikit. ...

Penyakit Itu Bernama "Sial"

Suatu waktu pada jam pelajaran tutorial dengan dokter pembimbing, beliau menuturkan sebuah kesimpulan atas pandangannya terhadap ‘penyakit’. Setelah panjang lebar menjelaskan etiologi dan mekanisme penyebab terjadinya infeksi bakteri, sebuah pernyataan mematahkan semua usaha tentang berlembar-lembar flipchart yang kami tulis dan mulut kami yang sudah berbusa-busa. “Kalau dipikir-pikir, setiap manusia itu sama. Sama-sama punya peluang sakit dan terinfeksi bakteri. Bakteri ada dimana-mana, semua orang bisa terkena sakit gigi dan sembuh setelahnya, tapi satu dari sepuluh kasus bisa sangat mematikan. Banyak orang giginya bolong dan tidak apa-apa, tapi teman saya yang sangat sehat terinfeksi bakteri dan sampai meninggal.” “Dia rajin sekali berolahraga. Pola hidupnya sehat, badannya sangat sehat. Tapi saat diidentifikasi, rupanya ia meninggal karena bakteri yang masuk menuju aliran darah melalui gigi yang bolong itu.” Aku bergidik. Bahkan satu hal kerdil yang tidak pernah kit...

Seni Mendengarkan

halo! sebelumnya, seperti biasa, komentar, kritik, dan saran amat terbuka lebar. di sini, kita sama sama belajar untuk jadi lebih baik ya. sila lanjut. walaupun jarang baca, saya hobi mengutip kata-kata menarik yang kebetulan lewat di timeline sosmed saya. entah di sosmed yang mana, suatu waktu saya membaca sebuah tulisan yang mengklaim kalau, jika ingin menjadi pembicara yang hebat, maka kau pertama-tama mesti jadi pendengar yang baik. dan pada waktu yang lain, yang juga tidak tau di platform mana, saya menemukan gagasan yang kurang lebih berbicara mengenai orang-orang hebat, seperti pemimpin besar misalnya, mereka adalah sosok pendengar yang baik. maka ada korelasi positif antara kualifikasi seorang pemimpin dengan salah satu sifat terpuji: pendengar yang baik. bahkan Muhammad SAW, salah satu nama berpengaruh yang pernah memimpin dunia adalah sosok pendengar yang tidak pernah mengalihkan pandangannya sedikitpun selama orang tersebut sedang berbicara kepadanya. tentu saja sa...