Postingan

U N G G U L A N

When Reading Parenting Books Subtly Feels Like Self Parenting

Gambar
  A. Gambar kanan:The Danish Way Of Parenting (Jessica J. Alexander & Iben D. Sandahl; Pengantar Ayah Edy); B. Gambar kiri: Mendidik Anak Tanpa Teriakan & Bentakan (Ayah Edy) Ini bukan review, atau lebih tepatnya, review yang berbaur dan melebur dengan bagian kecil dari hidupku sendiri. Hidupku & kontemplasinya di hari-hari libur, sebab selain tidur, aku diberi banyak waktu untuk merenung. Salah satu kesimpulan dari perenunganku adalah: aku menemukan titik hitam, mengakar panjang, dan bagaimana langkah untuk mencabutnya secara baik-baik atau, tidak menyiraminya lagi sehingga ia tidak dapat tumbuh menjadi bumerang raksasa, musuh dalam selimut jiwaku. Kurang lebih satu setengah tahun di rumah, 1 tahun pertama diisi dengan pergolakan hebat dengan banyak kehendak dari diriku sendiri; keinginan, harapan, logika, & asumsi, dalam kapasitas mental yang sedang koyak, sebagaimana dalam bab-bab sebelum ini (kau tidak perlu baca, sungguh). Setengah tahun kemudian dengan kewaras...

Gigi Tiga

"Naik ke tiga ayok."  "Nah dorong, ini kamu dorongnya sambil diangkat sedikit ke depan, jangan dorong paksa ke kiri," komando itu bersumber dari sebelah kiri kursi pengemudi, siap siaga dengan tiap gerak-gerik situasi jalan untuk mengambil peluang. Tentu saja peluang itu dibebankan dalam bentuk perintah pada sosok yang diberi komando. Jalanan di depan meliuk panjang, sudah cukup jauh mobil berjalan untuk memaksanya tetap di gigi dua, maka mau tidak mau aku menginjak kopling dan mengatur persneling manual naik satu ke gigi tiga.  Mobil merespon perubahan itu dengan gerungan yang terasa "berat" secara fisik bagi pemegang setir, aneh untuk dibilang gigi tiga. Aku menoleh bingung pada ayah di sebelahku. "Nah, itu gigi satu. Kamu tuh dorong ke kiri tadi nggak sadar." Seloroh Ayah, dalam ucapannya dapat kudengar ia sedikit menahan gemas lantaran ini bukan sekali dua kali supir cadangannya berulah dengan "gigi tiga". Aku dan gigi tiga, bisa di...

Ia yang (suatu hari) menyerah pada menulis

Kalau ada satu hal paling mengecewakan yang boleh aku nyatakan saat ini seumur hidupku, aku akan dengan yakin menjawab ketika aku  menyerah pada menulis .  Hanya karena aku tidak berada pada kondisi menguntungkan dengan tulisanku, bukan berarti aku patut mengkhianatinya. Aku justru menjadi pengecut bagi jati diriku sendiri. Meninggalkan menulis sebagai ritual merenung sama artinya dengan menelantarkan diriku terombang-ambing dalam badai, yang ketika ia jatuh, ia hanya dapat membungkam sedu sedannya sekuat tenaga, kemudian bersama badai yang hilang, ia akan pura-pura memberi senyum paling tulusnya. Ia mengira itu manis, dan sebagai simbol diri yang kuat, padahal luka dalam jiwanya kian memberingas tanpa Ia acuhkan barang sedikitpun. Aku telah berusaha menjadi orang lain, mengira setiap tamasya itu akan menentramkan ricuh isi kepalaku, padahal jarang sekali mereka dapat tersalurkan melalui buah bibir yang terlalu memelihara ego untuk membuka dirinya. Dan siapa punya telinga selu...

Menulis itu luka | Kilas Cerpen

“Menulis itu luka.” Dia  menanggapi dengan singkat ucapanku dengan menunduk. Cangkir berisi kopi di hadapan yang tampak sudah mendingin membuat tangannya menggapai gagangnya lalu menyesapnya pelan. Aku menghela napas sejenak. Mataku menatap kembali lembaran kertas yang masih kupegang dengan sayu, telah berhari-hari aku merangkai cerita yang kusiapkan untuk kolom redaksi bagianku, hanya untuk mendapatkan tanggapan yang jauh dari kata baik. Siang itu juga, dia mengajakku untuk menepi di cafe dekat kantor. Menyegarkan pikiran, katanya. “Kenapa luka? Bisa juga pelampiasan.” Sanggahku bukan tidak setuju, hanya ingin lebih banyak dengar pendapatnya. Mendengarnya berbicara tidak pernah membosankan. Selalu ada hal menarik dari perkataannya. “Luka kalau menulis buat orang lain. Nulis buat diri sendiri, dan cari kepuasan sendiri mungkin jalan paling baik.” Selorohnya setelah kembali meletakkan cangkir ke piringnya, kini menatap manik mataku dengan lembut. Aku mengangguk-angguk dalam....

Hujan yang Mengering | In Memoriam of Sendekala

“Wa keyf int?” Satu minggu yang lalu, saat kukira aku masih akan punya kesempatan untuk mengobrol lebih banyak lagi seperti tahun-tahun sebelumnya, aku belum menjawab pertanyaan balikmu mengenai kabarku, yang mungkin kau tanyakan sebagai sopan santun belaka. Meski jawaban ini tidak akan pernah terdengar, izinkan diri yang naif ini menjawabnya juga sebagai sopan santunku. "Cukup sulit. Tapi mungkin sedikit. Sesedikit waktu kita di dunia, kan?" // I don't wish for us nor for me, I'm praying for you now.. Sudah masuk hari kedua sejak kabar pahit itu datang, dan aku masih berusaha membangun kekuatan untuk menerimanya sepenuh hati. Kau bilang, kerelaan seluruhnya kepada Allah tanpa pamrih adalah sebenar-benarnya nikmat iman, bukan? Secepat kabar itu datang, secepat itu pula diri ini tergugu. Saat itu aku dalam perjalanan menuju klinik untuk keperluan tertentu, mencoba sekuat tenaga untuk tidak terisak hebat di belakang punggung bapak-bapak yang tengah mengendarai motor...

Thank yourself, endlessly

Gambar
First of all, I want to sincerely thank my friend for giving me this thoughtful gift as an appreciation for my "thesis defense" presented approximately 2 months ago. This cute one is a handcrafted bookmark, at least that was just my first impression as how she explained it to me briefly, we were out of time to talk more at that time. Thus I thought it was purely a butterfly-shaped bookmark I should use for my reading and take care of. I didn't expect there would be another thing to look for more. But yeah, I was kind of being fooled lol...  Surprisingly, there was a very short-straight sentence you can read in merely one second of time if only you manage to flip it to the other side. The message was so touching for me even from the first glance it came up to my eyes, diving further into my mind. It might be short, yet intensely calm and brought me such tranquility to stop being hard on myself, she deserved it all the way as I always tend to neglect it every time! Withou...

The Unnecessary Guilt for Being Quiet

It was on last night, words dropped before i could be ready to comprehend wisely, brought me to some unintended feeling of being insulted. Her way of talking at a slight glance was completely okay, except for me. Nevertheless, the emphasis of "you're so quiet..." stood out clearly in her sentences, the intention of her impression on me that i could get was rather unpleasant to hear. It was like she also suggested that "I'm an overly quiet person that she could hardly get any benefit from me, there were no good things she had from her relationship with me." made me wonder if.. am i wrong for being like that? Am i wrong for being quiet?  Does people wrong for being her own self? Then, why wouldn't people say, why are you so talkative? People barely making a fuss about how talkative someone in some situation, the talkative person would likely being praised here and there instead. Using the same logic, so why does being quiet have to be such a huge problem? ...

Signatura

Kalau dalam resep obat terdapat aturan pakai, aturan konsumsi, disebut signatura, berisi waktu dan frekuensi serta lewat mana obat itu dimasukkan, maka menangis pun memiliki signatura-nya sendiri. Hari ini aku sedikit, lumayan, berhasil mengendalikan diri. Hari ini hari ke 10 Ramadhan. Ramadhan, proyek menuai banyak-banyak pahala dan ampunan, sekaligus aku untuk berlatih menahan & menghibur diri dengan siraman kebaikan yang disediakan Tuhan alih-alih mulai melukai dan memaki diri dengan segala cara yang kupunya.  Al-Quran adalah obat. Al-Quran adalah obat. Assyifaa, salah satu nama yang disematkan padanya bukan semata-mata nama, namun sebuah tujuan, sebuah jiwa, sebuah penenang & solusi, ramuan yang Tuhan sendiri buatkan untuk para pengabdi-Nya yang pesakitan oleh dunia.  Dan hari ini aku telah memilihnya, daripada benda-benda tajam lain yang tersedia di atas meja. Aku telah memilihnya. Aku telah mengendalikan diri dalam aliran air mata yang membahana. Meski kalimat-ka...

Sandiwara

Oh, halo? Rupanya aku masih terbangun hari ini. Tanpa gairah. Terlalu banyak sakit dan keraguan. Sepertinya kelopak mataku berat, lipatan-lipatannya tidak kunjung hilang. Sebab belum sembuh satu sudah muncul yang lain-lain. Aku bubuhi ukiran cantik di rambut-rambut halus yang sering mengerut, harap-harap membantu menyamarkan.  Aku mencoba tersenyum di depan cermin yang selalu berbohong, namun senyumku juga pura-pura. Kita impas. Lalu, apakah hidup yang tanpa harapan masih bisa disebut hidup? Tidak masalah apabila jawabannya tidak, jangan hibur seseorang dengan membohonginya.  Dan hari ini, di hari ragaku kembali diberi hidup, lagi-lagi aku salah. Sudah mencoba, kalah lagi. Kupikir dengan terangkatnya satu beban, jiwaku sembuh. Namun rupanya dia bukan hanya terlalu banyak beban, tapi sudah terkoyak-koyak sehingga tidak dapat dipikulnya lagi harapan. Asa itu tidak membuatnya hidup, hanya menambah sesak dan rapuh. Kata-kata baik berubah menjadi belati yang menusuk. Sindiran dan c...

Ambang Pintu

Dalam titik di antara kewarasan dan kegilaan, tawaran soal lawan dari kehidupan masih terasa manis di pikiran. Aku masih sadar bahwa menjemputnya dengan sengaja bukan sesuatu yang benar, aku sudah benci diriku sendiri dan aku tidak mau Tuhan juga membenciku. Hanya atas tangan Tuhan diriku masih sudi bergerak dan bisa menyelesaikan sesuatu, meski tertatih.  Yang bisa aku simpulkan saat ini adalah, setidaknya jika pintu kebahagiaan dan keberhasilan dalam hidup duniawi terasa amat jauh dan mustahil, aku harus selalu mengusahakan bahwa pintu surga dekat denganku.  Aku harus mengingatnya dengan baik, kapanpun itu, baik saat terpuruk atau hanya tersandung.  Tidak bisakah dua-duanya aku percaya? Jawabannya adalah, saat ini tidak. Belum.. Sampai aku bisa benar-benar mencintai diriku dan apa yang ia lakukan sekarang dan di masa depan. Cinta itu tidak bisa dipaksakan, bukan? Tapi bahkan untuk berdoa meminta Tuhan memberikan rasa cinta itu, aku tetap sungkan. Sebab telah sejauh itu ...