Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

"Kukira Tuhan Terluka"

Ahura Mazda, dan pada langit-langit yang berwajah nestapa Bahkan makian swastamita yang oren itu gagu pada geramnya` Hendak meludahi anggur lezatku dalam mangkuk-mangkuk dosa Ah, betapa sudah kusiapkan segala hal dari cangkir kuno yang kucuri dari pasar Cina, Lampu gemerlap diskotik yang menyihir para penari mala Telah terpongah sofa-sofa cantik yang merayu birahi asmaraloka Lantas kubiarkan botol-botol manis mengendus hasrat manusia, pagi pada buta hingga merana, sebab gulita tiada cukup mematikan nyala pun atma renjana, maka akan kudengar segala desis, erang, gemulai bergema-gema ah kecuali tuhan, atau astvat ereta yang dipuji-pujikannya itu, lantas bertebaran ambisi yang dijual belikan itu, berlembar-lembar tipu daya atas imaji dan angka, dia bernilai hanya pada dunia, dicumbuinya segala nafsu para serigala berbulu domba, agar kenyang lambung melar itu oleh sarayu fatamorgana hahaha dunia mu ini kata mu Tuhan? Sang maha bijaksana? Alangkah saban har...

MEMORABILIA

"Al ini adanya piring satu doang. Nasinya dikit lagi."  Loh, aku kira memang bakal berdua aja, kan?  "Ini Al yang buat kamu. Pake piring itu ya." Saya yang masih beres-beresin sampah masak tiba-tiba tertegun. Menyadari sesuatu yang hilang, tidak salah sih, hanya kontras dari budaya yang sudah menjiwai keseharian saya. Saya lupa, ini bukan di dulu lagi. Yang tanpa diinstruksi diminta apapun udah langsung terpola kalau makan ya bareng, masak bareng makan bareng, nyuci yang gak bareng:).  Tradisi itu sudah mendarah daging, justru kalau makan sendiri jadinya ogah-ogahan. Makan tunggal hanya laku di kalangan santri baru yang sedang tahap adaptasi, heuheu. Dan kalangan santri bersayap satu atau dua atau bayang-bayang yang ngesok senioritas itu ya kalau tidak bareng teman, ya tidak makan. (saya sih). Tertegunnya sebentar, rasa anyir kehilangan itu yang semakin memar di dada.  Dan, maka itu memarnya ingin saya bagi dan sedikit dibumbui. // Gute nacht:) Dari...

(Bukan) Seperti Quick Count Yang Tak Pasti

Halo, tenang-tenang. Saya gak akan bahas sinetron melopolitik yang sedang menyesaki atmosfer nusantara, kok. Sama, saya pun pusing. __ Sebelumnya, ini sekadar sharing opini aja ya, saya pun gak lebih baik dari kalian :) // Jadi begini, tiba-tiba terlintas aja suatu topik akibat gejolak memoriam yang lancang mengisi kegabutan-kegabutan saya. Dan, itu gak sehat. Ngomong-ngomong soal kepastian, pasti identik banget sama 'cinta' dan si dia. Saya paham banget, saya juga pernah berada di posisi tidak diberi kepastian, dan tidak memberi kepastian. Yang posisi kedua, tentu terpikir agak jahat ya? Saya hanya mengira saya tidak cukup pantas memberi kepastian apapun kepada siapapun, toh hati dan semua yang saya miliki pun tidak pasti selamanya milik saya. Ada yang Maha Membolak-balikkan, menetapkannya, juga menghilangkannya. Lha wong besok saya juga gatau apa yang bakal terjadi sama saya. Gimana mau kasih kepastian yang bahayanya bisa sampai seumur hidup? Padahal, kalo k...

Surat dari Tukang Pos

Pada suatu sore yang terik, aku ingat sekali Sebab lenguhan rem motor bebek itu mendengik di depan rumahku Ah, tukang pos itu! Aku riang girang sekali, tidak sia2 menunggu senja di depan rumah sendiri Larilah aku kepadanya, yang berbaju cokelat tahi selalu itu Barangkali hanya aku yang selalu ceriwis, sebab tiap hari wajahnya selalu begitu, namun gigi2nya tidak pernah tak meringis saat melihatku Kemudian surat itu kugenggam Kupandangi ia hingga muram Aku tak jadi senang tapi! maka gigi2 yg meringis itu kembali mengatup, dan wajahnya seperti semula tadi Kamu tahu kenapa? Otakku bilang itu bukan surat yang kutunggu Dia dengar mata berkata bahwa suratnya berwarna putih, ya seperti surat2 formal itu saat mau sekolah atau sakit Jelas sekali tidak ada cinta di situ! Timpal hatiku yang pilu Malang nian kau ini, dambakan mana yang tak datang Aku makin sedih, tapi hati yang baik bilang: Coba kau buka dulu, siapa tahu... ...

Mimpi-Mimpi yang Gelisah | Sebuah Lembar Evaluasi

Seumur-umur dalam hidup, saya melihat orang tua saya benar-benar bahagia murni karena 'saya' itu hanya dua kali. Pertama, saat saya wisuda SMA dengan hafalan Quran, dan saat saya jadi mahasiswa kedokteran (gigi). Saya masih ingat benar bagaimana mimik mereka ketika mendapati saya diterima sebagai mahasiswa kedokteran gigi, dan bagaimana lisan-lisan itu lancar dan bangga memberitahukannya ke segala penjuru. Aura kebahagiaan mereka jelas terpancar dan sialnya menusuk-nusuk sanubari sendiri, mengingat luntang lantungnya saya di perkuliahan hingga sekarang. Karena di sini, saya betul merasakan titik balik dari hidup saya 180 derajat. Saya kira saya berada di atas awan, nyatanya saya lupa tentang langit dan gemintang. Saya kira saya yang terbaik, dan stigma itu dihempas begitu saja dengan takdir di hadapan saya yang menukik tajam. Setiap nafas yang saya jalani kini lebih terasa berat, dan bayang-bayang wajah mereka selalu memenuhi dimensi pikiran saya. Ada emosi yang bercampur r...

"Rindu"

Atas perasaan yang hendak disuarakan, untuk kakak sepupu saya --- Pada pagi yang temaram, aku tertatih membawa langkah Melawan angin yang tersedu Hendak membersihkan puing-puing hujan semalam, berantakan Tangan ini menggapai-gapai, rindu yang disebar hujan dan kelam yang diantar gemuruh Sebab dia lelah, rindu-rindu itu menyesakkan awan, dan menjelma embun-embun pagi yang dingin menusuk aku terpuruk, dan rindu kian menumpuk menggantung pada langkah-langkah; melangitkan rapal dari hati yang lemah pada siapa hendak dirindu ? sedang rasamu masih tuli padaku pada siapa gerangan merindu ? jika hanya angin yang mendengar, dan burung enggan menyampaikan kemana harus rindu berucap? jika bisu adalah suaranya dan tuli, adalah dengarmu seumpama pagi yang mengusir malam, dan kemarau yang membekukan hujan rinduku masih mengembun di atas dedaunan, menanti sang kupu-kupu itu datang -Aliyya Rifqunnisa

"Menghargai" | Tragedi 15 Maret Chirstchurch, Selandia Baru

Agaknya masih hangat, tragedi penembakan masal di dua masjid Christchurch dan insan-insan Tuhan yang mulia itu. Demi Allah, ketika mendengar warta itu sampai di telinga, palung hati seperti berdarah, siapa yang rela saudara seimannya sendiri meninggal di tangan insan yang zhalim? Banyak sekali respon dan ungkapan simpati yang terhaturkan, meski beberapa tampak menyudutkan Islam. Tapi sadar tidak ? Peristiwa ini jelas menggemparkan dunia, dan mengulik hati-hati kecil siapapun, terlebih menyadarkan umat Islam sendiri bahwa kita adalah satu tubuh. Sedang para zhalim itu tidak pernah membeda-bedakan kita pada sekte-sekte yang ada, lalu mengapa kita repot-repot berdebat dan merasa paling benar? Seakan lupa, kebenaran hakiki hanya dari Tuhan, dan yang lainnya hanya wujud dari ambisi dan keegoisan. Melihat masyarakat Selandia Baru yang tampak begitu harmonis dengan berjejer di masjid demi menjaga kelancaran masyarakat muslim yang sedang melaksanakan sholat tentu membuat hati terenyuh. P...

#SELAMATHARIPUISISEDUNIA | 21 MARET

kepada sajak-sajak dan aksara, terimakasih atas sewindu dibuang lima-nya; sudah bersuara dan tidak pergi; menemaniku di ruang renjana. // Di belantara malam ini aku berjalan, pada gelap, pada sepi, kaki melangkah biar harap-harapan yang disulut di atas kayu bakar, menjadi pelitaku meski mengerjap-ngerjap, dirayu angin, diinjak kaki-kaki dingin ditepis ombak, disiram pasir-pasir, hei ini laut! masih malam, dan harap-harapan masih tertanam dibawa langkah yang terseok, harap dan nyata menjadi penarik ulurnya ia tertatih, hingga harap-harapan itu merapal, disulut angkara, entah bermaniskan dunia sebab nafasku adalah harap, bersama lorong-lorong waktu yang berdetak mimpiku berdarah, dan kaki ini salah melangkah! puisi dan sajakku menjelma rindu yang gelisah jiwa-jiwa penakut, melarat, dan karsa mengalah menyila tuan-tuan dunia, demi masa depan indah --katanya, ditelannya lidah-lidah itu! dibiarkan oleh langkah, padahal raga sudah patah menyuapi ambisi, menghibur diri pada ...

Romantisme Kelebihan & Kekurangan #Opini

Sebentar-sebentar, sebelum mulai tenggelam, lembaran ini sangat terbuka untuk saran dan kritik dari pikiran2 beragam yang sudah rela membacanya;) ** Kekurangan kadang jadi kambing hitam yang bikin kita mengeruhkan suatu masalah atau bahkan kelebihan lain yang kita punya. Seakan karena kekurangan itu, kita mutlak tidak bisa melakukan suatu hal tanpa ada percobaan dan usaha yang menjadi buktinya. Pokoknya kita gak bisa. titik. Maka dengan resume yang kita tetapkan atas diri kita, kita jadi merasa paling tahu, membenarkan dogma buruk terhadap diri kita sendiri. Bagus ketika kita punya suatu hal lain yang tidak hanya sibuk kita banggakan, tapi juga kita asah dan buktikan kebermanfaatannya terhadap diri kita sendiri dan orang lain. Sayangnya, beberapa orang justru pasrah dengan satu masalah yang ada dan dibesar-besarkan, sehingga menjadi penghadang terhadap peluang-peluang lain yang sebetulnya terbuka lebar. Kadang pula, kelebihan yang kita punya jika dibumbui ego akan membuat kita s...

RESENSI NOVEL PULANG LEILA S. CHUDORI

Gambar
Oleh: Aliyya Rifqunnisa Judul: Pulang Penulis: Leila Salikha Chudori Genre: Fiksi Sejarah Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia Bahasa: Indonesia Tebal: 464 hal. Tahun Terbit: 2012 Sejak pertama kali mengiyakan rekomendasi teman untuk mencicip karya Leila S Chudori yang berjudul “Laut Bercerita”, saat itu juga saya jatuh hati pada tiap lekuk aksaranya. Gaya bahasa yang lugas namun tetap ramah untuk dibaca, serta diksi yang kaya menciptakan eufoni tersendiri ketika menikmatinya. Kali ini saya akan membahas resensi novel beliau yang lain, masih dengan tema sejarah Indonesia yang berjudul “Pulang”. Novel ini berlatar tiga peristiwa penting yaitu Paris Mei 1968, Indonesia September 1965 atau dikenal G 30 S PKI, dan Indonesia pada ujung tanduk Orde Baru 1998. Adalah Dimas Suryo, salah seorang eksil politik yang terjebak di negeri asing akibat ricuhnya isu komunis di Indonesia. Ia mengelana dari Havana, Peking, hingga memutuskan berteduh di Prancis dengan has...

Roman-duka | Senjana & Senjani

Barangkali terciptanya Senjana dan Senjani Bersijingkat di tonggak cakrawala, tidak tahu tepatnya dimana Dicumbui sekoloni camar yang bereksodus, yang tak kenal bawah laut dan ikan2 gambus Ini ada malaikat dengan sayap Senjani berucap Ya, kamu sayapku Ucap senjana ragu-ragu Ini ada malaikat dengan sayap! Senjani berteguh menyeru. Ya, bagiku kamulah malaikatku Senjana merunduk pada laut biru, menggerayangi marka sendu. Ini ada malaikat dengan sayap! Ujarnya lagi dan lagi, gigihnya jauh dari lindap. Kubilang kau, kau malaikat dengan sayapmu membentangi cakrawala Senjana berkukuh Apa maunya cinta dia ini, geligaunya dalam sanubari Ditungguinya seraya menyisir lelautan, ombak2 berhembalang hempas, dalam senyap ia hitungi buih2 samudra Satu, dua, tiga, ... sepuluh, ... sembilan puluh tujuh, lumba2 memecah samudra, buihnya kemana-mana, hitungannya kacau didera.. ... Sepi cakrawalanya, Dinanti2nya seruan ke empat, sia2 didapatnya cuma sirna.. Senjani.. Matanya berlarian ...

Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Sebelumnya terimakasih Bang Tere, atas judul novel yang amat sarat makna itu. // Dengan segala ketidakmutuan penggunaan waktu pada fase liburan, Aku merenungkan banyak hal. Tidak banyak sih. Tapi cukup esensial. Barangkali tidak menjawab segala paranoidku, tapi mengarahkannya pada hal lain. Yang tidak pernah terpikir oleh keegoisanku. Kadang kala, beberapa kerabat datang dan selalu ada kata2 yg terlontar mengenai: "Udah nanti periksa giginya di dek aliyya aja." Kemudian aku tertawa, garing. " Aku bilang ke ade aku, dek kalo mau rapiin gigi tunggu nanti dek aliyya jd dokter aja." Lagi, aku tersenyum, agak kecut. "Ehh ada dokter gigi.." Lagi dan lagi, kegetiran itu mengalir seiring senyum yg merekah di bibirku. "Al nanti aku tag kamu behel pokoknya." Seneng ga seneng. Aku selalu takut mengecewakan org lain. "Gimana kuliahnya?" Bertanya dg antusias. Apalagi kalau ada yang ngomong, "dokter Aliyya.." Maka serta merta aku...

Secangkir Kronik dan Bumbu Revolusi

Gambar
BY  SCATTER EDITORIAL DESK Sudah berapa lama blog ini? Kalau dibilang baru, maka debat pilpres penuh kisi-kisi kemarin jauh lebih hangat untuk dibilang baru. Sayangnya, napasnya bahkan belum mencapai usia adik tunggal saya yang sudah numpang di dunia selama kurang lebih 33 bulan jika hendak dibilang tua. Ah, waktu terlalu canggung untuk ditakar. Tahu-tahu saja sudah 2019. Kemarin rasanya masih jadi anak asrama yang semua kebutuhan terpenuhi dengan baik, sekarang sudah harus luntang-lantung jadi anak kos di tepi Bandung kalau masih mau hidup. Baru kemarin rasanya Revolusi Industri Generasi Ketiga, tahu-tahu sudah tercetus wajah-wajah Revolusi Industri 4.0 : anak dari revolusi ketiga yang bergelorakan teknologi. Revolusi yang menjadi arus inti kehidupan masa kini, dimana teknologi dengan putra mahkotanya: internet, akan menahkodai pelayaran kapal dunia dengan layar-layar digital. Dunia dan segala konstruksinya disalin dalam dimensi virtual. Toko tanpa kas...